Saturday, May 25, 2019

TRAINING "ABDINEGARA" GEREJA REFORMED JAKARTA

Hari ini (25/5/19) saya menjadi narsum dalam pelatihan Abdinegara II yg diselenggarakan oleh Reformed Center for Religion & Society (Pusat Kajian Gereja Reformasi utk Agama & Masyarakat). Seperti dalam pelatihan Angkatan I tahun laku, saya memberi paparan ttg bela negara dalam rangka meredam radikalisme agama.

Alhamdulillah perbincangan selama 2 jam berlangsung lancar dan sangat aktif serta menarik karena pesertanya datang dari seluruh wilayah RI yg mewakili Gereja-gereja Reformasi. Semangat membela NKRI dan berkehidupan damai dan sejahtera dalam kebhinekaan menjadi landasan mereka.


Semoga sukses pelatihan Abdinegara angkatan II dan selanjutnya.



Share:

Thursday, May 23, 2019

MAS BONDAN GUNAWAN TELAH TIADA

Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun Mas Ir. H. Bondan Gunawan Sastrosudarmo, atau yang saya kenal dengan panggilan akrab Mas BONDAN, sosok PEJUANG DEMOKRASI, SOEKARNOIS & MARHAENIS SEJATI itu telah dipanggil menghadap Allah swt pada hari ini, Kamis 23 Mei 2019, jam 13,00 WIB di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

Kesedihan tak akan pernah cukup bagi kami, khususnya seluruh anak bangsa pecinta demokrasi, yang ditinggalkan beliau. Sosok yang sangat dekat dan setia dengan almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid ini adalah salah sosok seorang pekerja dan pejuang demokrasi TANPA KOMPROMI yang pernah saya kenal, kagumi, akrabi, dan selalu menjadi salah satu sumber kekuatan untuk terus bersemangat.

Pendiri Forum Demokrasi (Fordem) bersama GD (alm), Rahman Tolleng (alm), Marsillam Simanjuntak, dll ini juga seorang pribadi santun, tegas, dermawan, dan luas pergaulan. Tokoh GMNI dan aluni Universitas Gadjahmada Jogjakarta ini juga dekat dengan rakyat kecil, mahasiswa, politisi, dan para cendekiawan di dalam seluruh kehidupan dan kariernya.

Mas Bondan lahir pada 24 April 1948, sama dengan saya sebagai Taurian, di Jogja. Saya mengenal beliau karena diajak alm GD utk ketemu tokoh Marhaenis ini ketika Fordem sedang aktif memerjuangkan kembalinya demokrasi konstitusional di Indonesia, yang saat itu sedang dibawah rezim otoriter Orba. Dari mas Bondan lah saya kemudian dikenalkan dengan para aktivis dan mahasiswa yang tergabung dalam GMNI dan belajar tentang visi Marhaenis yang dipahami dan dipraktikkan almarhum secara konsisten dan tanpa kompromi.

Berdiskusi dan bercanda dengan Mas Bondan, bagi saya, adalah bukan hanya mengadu nalar, tetapi juga menimba pengalaman dan "Roso", sebuah spiritualitas yang beliau ambil dari kebudayaan adiluhing Jawa. Komplentasi dan konvergensi antara nalar dan roso itu, menurut saya, yang membuat mas Bondan tehar, tegas, tetapi realistis dan tak pernah tampak kecewa dalam kondisi apapun. Beliau menikmati hidup yang tersedia tetapi selalu siap jika terjadi perubahan sedrastis apapun.

Kesan paling mendalam dalam bergaul dengan para "sesepuh" Fordem adalah kebhinekaan mereka dan kemampuan merayakannya, Mas Bondan dengan latarbelakang budaya Jawa dan Yogya, dengan sangat enteng dan nyaris tanpa masalah merangkul dan merayakan latar budaya pesantren GD, inteltuak sosialis alm Rahman Tolleng dan Pak Sillam, dan sebagainya.

Secara pribadi, Mas Bondan juga selalu bersedia melayani tukar pikiran dengan saya yang menurut beliau kadang-kadang terlalu "Barat" alam pikirannya, terkait masalah demokrasi. Semua bisa bertemu dalam sebuah rajut keindahan berupa tujuan utama: Sebuah Indonesia yang demokratis, adil dan beradab. Karenanya, walaupun beliau tak lagi sering jumpa, namun kehangatan perkawanan kami berdua selalu terjaga,

Saya terakhir bertemu beliau saat sowan di rumahnya, entah bulan apa, tetapi tahun 2018. Saya lihat sosok yang selain sehat jasmani juga tetap kritis terhadap situasi negeri. Beberap waktu lalu, sebelum beliau dirawat di RSPAD, saya sempat kirim foto-foto WA kiprah saya di antara mahasiswa GMNI di Solo. Beliau beri komentar balik: "Kuwi apik, dik. Teruskan saja." Saya bilang, pertemuan dengan teman-teman mahasiswa GMNI Solo itu mengingatkan apa yg pernah kita berdua lakukan di Jember tahun 1990an, saat ikut mendirikan Koisariat GMNI di IAIN Jember. Mas Bondan tertawa, sambil bilang: "Dhek jaman semana.."

Mas, selamat jalan ya, salam saya untuk Gus Dur dan Bung Rahman Tolleng. Tetap konsisten bikin diskusi seperti biasa. Insya Allah nanti saya akan wawancara inajiner dengan anda bertiga,

ALFATIHAH..
Share:

Wednesday, May 22, 2019

PERUSUH & PIHAK KETIGA DI BALIK PEOPLE POWER

Hari ini (22/5/2019) digelar konpers oleh Menkopolhukam beserta jajarannya, terutama dari KAPOLRI, Jenderal Polisi Muhammad Tito Karnavian (MTK). Dinamika yang terjadi pasca-Pengumuman KPU tentang hasil Pilpres 2019, menunjukkan terjadinya aksi massa yang berujung rusuh pada 21 Mei 2019. Menurut Polri, kerusuhan tsb diduga merupakan rekayasa pihak KETIGA. Belum jelas apa dan siapa pihak tsb.

Yang jelas ada beberapa fakta yang dipaparkan oleh MTK. Antara lain:

1) Munculnya kelompok perusuh pada saat pendemo di Bawaslu sudah bisa diredakan dan berjalan dengan aman sampi usai tarawih
2) Perusuh mulai muncul dan melakukan aksi kekerasan setelah lewat jam 23.00, yang terkonsentrasi di kawasan Tanah Abang dan bbrp kawasan lain (Petamburan, misalnya). Jumlahnya 300an orang muda.

3) Aparat harus melakukan tindakan ketika perusuh menyerang polisi dengan batu, petasan, dan bahkan bom Molotov. Mereka juga melakukan perusakan thd properti publik.

4). Info tentang korban tewas harus diselidiki dengan cermat, karena anggt Polri TIDAK DIBEKALI dengan peluru tajam. Juga harus diingat bahwa sebelum tgl 21 Mei, telah ditemukan upaya penyelundupan senjata taktis serbu, dan pihak pelakunya sudah ditangkap. Sebelum itu penagkapan juga dilakukan thd terfuga teroris yang akan melakukan aksi MENUNGGANGI people power.

5). Perusuh memiliki karakter: bertato dan sebagian minum alkohol. Selain itu ditemukan amplop berisi uang di dalam tas mereka yang diamankan.

6) Perusuh menggunakan cover berupa mobil Ambulance yg digunakan utk membawa batu-batu.

7) Kesimpulan, ada perbedaan antara pendemo siang sampai tarawih, dengan perusuh. Ini yang perlu terus diwaspadai dan ditelusuri. Selain itu ada pihak ketiga yang memiliki agenda utk semakin mengacaukan situasi.

Trims.

Simak tautan video YouTube ini:

https://www.youtube.com/watch?v=kFQxSlZqT-M
Share:

SAJAK "PEOPLE POWER DI BULAN PUASA"

Duka kita sebagai anak negeri.
Atas jatuhnya korban nyawa & rusaknya demokrasi.
Kerna ambisi, rakyat diadu dengan POLRI.
Inikah PEOPLE POWER yang katanya akan aman dan damai?

Indonesia mau jadi Suriah kedua
Penuh kemarahan, kebencian & angkara. 

Ketika nalar waras & nurani telah sirna.
Yang tersisa hanya: "Bakar, Hancurkan, Rusakkan semua!" 
Tak peduli ini adalah Bulan Puasa.


Semua berawal dari hawa nafsu ingin menang. 
Aturan dan etika tak lagi bisa mengekang. 
Apalagi ketika ayat-ayat terus berkumandang. 
Mengobarkan kenekatan, kebrutalan pun tak lagi terlarang.

Sungguh tragedi bagi demokrasi. 
Yang telah susah-susah ditanam dan dipupuk tiap hari. 
Lebih dua dasawarsa sampai hari ini. 
Terancam musnah oleh manusia-2 tak berhati. 
Rakyat dikorbankan di atas altar ambisi.


(Pamulang, 17 Ramadhan 1440H)
Share:

Saturday, May 18, 2019

SAJAK "JANGAN KAU AJAK KUFUR NIKMAT"

Oleh Muhammad AS Hikam

ALLAH berikan nikmat berupa NKRI
Tapi malah kau KUFURI.
Kau rusak sistem DEMOKRASI,
Dengan dalih tegakkan Kalimah ILAHI.
Padahal sejatinya hanya ILUSI,
Dan sebuah perangkap 'nuju petaka ABADI.


Jadi begini:
Jika kau tak betah tinggal di negeri INI
Masih banyak negeri yang bisa kau HUNI
Biar kami yang sepakat dengan para PENDIRI
Tetap memelihara dan memajukan NKRI
Silakan kau pergi dari SINI


Kami takkan PEDULI!

(Pamulang, Ramadhan 1440H)

***************************

DENY  NOT THE BLESSING FROM THE LORD

God hath giveth us a blessing called NKRI
But instead, it is the blessing you deny
You destroy our democracy and the rule of law
Under the pretext of enacting the Divine law
The truth is that's only an illusion
And a trap to an eternal devastation
 
So, here it is:

If you don't feel at home in our country
There are still many places you can try
Let those of us who agree with the Founding Fathers
Live peacefully to continue their struggles
Please get out of our hair
We will not care!
Share:

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS