Sunday, February 18, 2018

BUYA SYAFII MAARIF: RADIKALISME ADALAH "RONGSOKAN PERADABAN"



"Inilah rongsokan yang diimpor ke sini, oleh suatu wilayah yang kalah. Daki kotoran peradaban ini celakanya dimanfaatkan politisi busuk. Mereka meyakini 'Teologi Maut', tak berani hidup, kelompok putus asa sejatinya."
(Buya Syafi'i Maarif, mantan Ketum PP Muhammadiyah)

Metafora yg digunakan oleh Buya Syafii Maarif (BSM) untuk radikalisme dan aksi kekerasan, menurut hemat saya, sangat 'cespleng' dan sekaligus mudah dipahami publik. Kata "rongsokan" dan "daki" keduanya merepresentasikan suatu kondisi yang merupakan bekas, sampah, dan/atau limbah. Walaupun demikian, 'rongsokan' masih punya potensi utk diselamatkan dan dimanfaatkan. Itu berbeda halnya dengan daki (scum) yang berkonotasi kotor dan mesti dilenyapkan.

Radikalisme dan aksi kekerasan, sebagaimana yang kita lihat masih terus berkecamuk di negeri ini dan berbagai negara di dunia lain, adalah ibarat rongsokan dan sampah peradaban. Ia adalah produk peradaban manusia yang bersifat destruktif, dimulai dari tataran gagasan sampai pada tingkat praksisnya. Sepanjang sejarah peradaban, entah sudah berapa banyak rongsokan yang menjadi produk samping dr kemajuan dan keunggulan manusia, yang kemudian dimanfaatkan utk kepentingan-kepentingan tertentu.

Ketika suatu rongsokan dari peradaban didaur ulang, ia bisa menjadi produk baru yang bisa berpotensi positif tetapi juga destruktif. Positif apabila dari rongsokan tersebut dapat diperoleh pelajaran bagi manusia agar tak mengulangi kesalahan-kesalahan yang akan merusak peradaban. Negatif jika hasilnya adalah hanya daki yang makin mengotori kemanusiaan.

Radikalisme dan aksi kekerasan (seperti aksi terorisme) adalah rongsokan peradaban yang derajatnya adalah "daki" . Ia bukan rongsokan yang ada manfaatnya untuk di daur ulang karena dipandang masih ada gunanya. Radikalisme dan kekerasan, karenanya, harus dihilangkan once and for all.

Memberantas radikalisme dan kekerasan bukan ihwal yang mudah, karena banyaknya pihak-pihak yang merasa diuntungkan sehingga akan membelanya, baik terang-terangan atau sembunyi. Dan yang sembunyi biasanya jauh lebih susah dan lama prosesnya ketimbang yang terang-terangan. Yang sembunyi bukan hanya tampak "wadhag" (lahiriah)nya saja, tetapi ada dalam pikiran manusia pendukung dan pemujanya.

BSM menunjuk pada para politisi busuk dan pengusung serta pendukung "Teologi Maut" sebagai para pengguna radikalisme dan kekerasan. Hemat saya, mereka itu pun ada yang terang-terangan, seperti JI, Al-Qaeda, ISIS, JAD, dll., tapi juga ada yg sembunyi-sembunyi dan tak transparan seperti kelompok HTI dan sejenisnya. Belum lagi mereka yang tampak wadhag seakan-aka anti radikalisme, pro-demokrasi, dsb., tetapi perilakunya malah mendukung ideologi dan praktik kekerasan! Diperlukan kewaspadaan, kewaskitaan, ketegasan, dan keberanian serta kekuatan untuk menghadapi, menangkal, dan menanggulangi kedua jenis users tsb.

Itu sebabnya deradikalisasi BUKAN hanya sebuah program apalagi proyek saja; tetapi sebuah GERAKAN nasional (a national movement) yang sistemik, terstruktur, dan massif dalam jangka panjang. Gerakan deradikalisasi nasional (GDN) bukan hanya dilakukan sepenuhnya oleh negara, tetapi juga melibatkan organisasi masyarakat sipil (OMSP) dan setiap warganegara. Gerakan deradikalisasi bukan hanya soal pemberantasa atau eliminasi, tetapi juga rehabilitasi dan penyelamatan serta perlindungan dari ancaman radikalisme dan kekerasan dari batang tubuh bangsa Indonesia.

Simak tautan ini:

Share:

PIWULANG JAWA UNTUK SAHABAT DUNIA MAYA


"Si pengung nora nglegawa,
Sangsayarda deniro cacariwis,
Ngandhar-andhar angendhukur,
Kandhane nora kaprah,
saya elok alangka longkanganipun,
Si wasis waskitha ngalah,
Ngalingi marang si pingging."

"Si pandir tak pernah sadar
Bualannya semakin membesar
Ngelantur bicara bekoar-koar
(Tapi) bicaranya tidak satupun nalar
Makin aneh tak ada batas dan pagar
Beda dengan
Si Bijaksana, cermat dan mau dengar,                                                                     (Bahkan) mau menutupi aib si pandir."
(SERAT WEDHATAMA, Pangkur: 4)

Piwulang dari zaman "old" di atas rasanya masih sangat relevan bagi kita di zaman "now." Khususnya bagi para sahabat dumay (cyberworld) pengguna medsos yang punya kesempatan nyaris tanpa batas utk menyampaikan gagasan, pemikiran, pendapat, kritik, bahkan sumpah serapah di ruang publik.

Yang selalu harus dicermati adlh kualitas substansi setiap ujaran, karena dari sana akan ketahuan kualitas si pengujar. Bisa saja ujaran-2 itu panjang lebar, ndakik-ndakik, bahkan kalau perlu sarat dg dalil ayat-ayat. Tetapi jika tak substantif maka ujaran-2 itu hanyalah pameran kedunguan yang tak perlu dimasukkan dalam hati. Bahkan tak usah digubris.

Sebaliknya jika ujaran itu substantif dan memberikan pencerahan, maka selain bisa dijadikan sumber pengetahuan dan teladan, juga mampu mengurangi kedunguan. Baik kedunguan yang ada pada si pembaca, maupun yang disebarluaskan oleh kaum pandir sebelumnya.

Selamat bermedsos dan makin bijaksana. RAHAYU!
Share:

Saturday, February 17, 2018

BELAJAR DARI ROMO PRIER


Romo Karl Edmund Prier, SJ., adalah salah seorang korban serangan di Gereja St. Lidwina, Sleman, pada pagi 11 Februari 2018 itu. Beliau telah keluar dari RS karena telah berangsur pulih. Saat beliau dibezoek oleh beberapa sejawatnya, Romo Prier menanyakan bagaimana kondisi kesehatan penyerangnya, Suliyono. Bukan hanya itu, sang pastor juga memaafkan penyerangnya itu.

Tak semua orang mampu bersikap seperti beliau, tetapi tak ada salahnya pula kalau kita berusaha keras utk meneladani atau setidaknya belajar memahami sikap tsb. Sebab kemampuan seperti itu rasanya semakin jarang kita jumpai, apalagi di kalangan orang kebanyakan seperti saya ini.

Barangkali karena kapasitas & kualitas seperti itulah Romo Prier layak menjadi personifikasi sosok "Romo" sebagaimana diidolakan oleh budayawan dan penulis kondang, Arswendo Atmowiloto, dalam puisinya ini:

Romo

Oleh Arswendo Atmowiloto

aku mendamba Romo yang penuh kasih
- bukan yang pilih kasih
aku mendamba Romo yang bajunya kadang kekecilan, kadang kegedean
itu berarti pemberian umat
sebagai tanda cinta, tanda hormat

aku mendamba Romo, yang galak tapi sumanak
kaku pada dogma, tapi lucu kala canda
yang lebih sering memegang rosario
dibandingkan bb warna hijau
aku mendamba Romo yang lebih banyak mendengar
dibandingkan berujar

aku mendamba Romo yang menampung air mataku
- tanpa ikut menangisi
yang mengubah putus asa menjadi harapan
yang mengajarkan ritual sekaligus spiritual

duuuuh, damba dan inginku banyak, banyak sekali
tapi aku percaya tetap terpenuhi
karena Romoku mau dan mampu selalu memberi
- inilah damba dan doaku, Romoku

eee, masih ada satu lagi
sekali mengenakan jubah, jangan berubah
jangan pernah mengubah, walau godaan mewabah
bahkan sampai ada laut terbelah
kenakan terus jubahmu
itulah khotbah yang hidup
agar aku bisa menjamah
seperti perempuan Samaria pada Yesus Allah Tuhanku

aku mendamba Romo yang menatapku kalem
bersuara adem
"Berkah Dalem ..."
----------------------------------------------------
Simak tautan ini:

Share:

Friday, February 16, 2018

PRABOWO LEBIH DEKAT DENGAN ISLAM DIBANDING JOKOWI?



Salah satu temuan survei yang dilakukan oleh Indo Barometer pada 23 hingga 30 Januari 2018 menarik untuk dicermati secara kritis. Yaitu bahwa Prabowo Subianto (PS) lebih dekat dengan ISLAM dibandingkan  Presiden Jokowi (PJ). Survei dengan sampel sebanyak 1.200 responden tsb, memiliki margin of error sebesar 2,83% pada titik kepercayaan 95%. Ini termasuk hasil yang secara statistik cukup signifikan. Menurut hasil survei tsb, PS memiliki persentase dimensi ideologi yang paling dekat dengan Islam. Dalam hal ini, Ketum DPP Gerindra itu meraih persentase 19,1%, sedangkan PJ meraih persentase sebesar 17,7%. Menariknya, Muhamin Iskandar (Imin), etum DPP PKB, yang nota bene parpol berbasis Islam, "hanya" di peringkat ketiga dengan meraih presentase ke tiga!(5,4%).

Yang penting untuk dicermati, setidaknya menurut hemat saya, adalah apa dan siapa yang dimaksud ISLAM dalam survei tersebut. Mungkin karena laporan hasil survei ini untuk media maka, sayang sekali, elaborasi tentang hal-hal itu tidak cukup jelas. Misalnya apakah kategori Islam tersebut pada tataran ideologi atau kelompok-kelompok Islam?. Apakah yang disebut dengan dekat dengan kelompok-kelompok Islam itu mencakup keseluruhan, ataukah hanya kelompok ISLAM tertentu?

Jika yang dimaksud adalah ideologis, saya kira sulit diterima nalar waras bahwa secara ideologis kedua tokoh tsb berbeda dalam kedekatannya dengan Islam. Secara teoretis, baik PS maupun PJ adlh tokoh parpol-parpol yang berideologi nasionalis, yaitu Partai GERINDRA dan PDIP. Logikanya, keduanya secara ideologis sama-sama punya jarak yang sama dengan Islam.

Namun demikian, kalau kedekatan tersebut artinya kedekatan terhadap kelompok-kelompok Islam (baik politik maupun non-politik) secara KESELURUHAN, maka implikasi politik dari hasil survei ini penting untuk diperhatikan, khususnya oleh PJ. Petahana Pilpres 2019 itu perlu memperhatikan scr serius karena berarti telah terjadi pergeseran persepsi politik di kalangan kelompok-kelompok Islam di negeri ini terhadap beliau dibanding dengan pada 2014. Konsekuensinya, beliau perlu MENGUBAH strategi pendekatan terhadap para pemilih Islam, atau setidaknya tidak bersikap "puas diri" atau complacent. Hasil survei ini bisa ditafsirkan bahwa PS lebih efektif dalam mendekati ummat Islam yang, bisa jadi, merasa masih kurang diperhatikan PJ dalam bidang-bidang yang menjadi kepentingan mereka.

Selanjutnya, jika kedekatan PS itu artinya kedekatan terhadap kelompok-kelompok Islam tertentu di Indonesia, maka bisa jadi yang dimaksud di sini adalah kelompok-kelompok ISLAM POLITIK, baik pada tataran politik elektorat maupun pada tataran masyarakat sipil,  yang selama ini memang beroposisi terhadap PJ. Jika demikian halnya, maka PJ tak perlu "terlampau" KHAWATIR seperti halnya yang disebut terdahulu. Yang mungkin harus dilakukan beliau adalah memelihara dan meningkatkan INTENSITAS relasi yang selama ini telah terbangun dengan kelompok-kelompok  dan tokoh-tokoh Islam moderat di tanah air yang selama ini cenderung pro-PJ atau sekurang-kurangnya tidak bersikap oposan terhadap beliau.

Survei ini tentu saja masih akan terus berkembang sesuai dinamika politik jelang Pilpres 2019. Akan lebih menarik jika ada survei-survei dari lembaga lain terkait isu yang sama sebagai bahan pembanding. Bagaimanapun juga di negeri yang penduduk dan pemilih potensialnya mayoritas beragama Islam, maka faktor perspesi terkait relasi, popularitas, dan elektabilitas calon akan dipengaruhi oleh variabel identitas tersebut.

Simak tautan ini:

Share:

MEMBACA TANDA-TANDA ZAMAN: MENOLAK KEMBALINYA OTORITERISME


Diantara tanda-2 akan runtuhnya sistem DEMOKRASI dan kembalinya OTORITERISME adlh ketika sebuah rezim yang munculnya adalah hasil pilihan RAKYAT, kemudian mulai kerasukan penyakit yang disebut dengan kediktatoran hasil pemilihan (elective dictatorship). Penyakit itu simptomnya adalah: rasa curiga, terasing, dan takut lalu memusuhi RAKYAT yg memilih rezim tsb.

Rezim itu lalu membentengi dirinya dengan membuat berbagai kebijakan yang anti-rakyat dan menolak aspirasi mereka. Yang paling duluan direkayasa adalah kebijakan-kebijakan yang tujuannya untuk MEMBUNGKAM HAK POLITIK, termasuk HAK rakyat UTK MENGRITIK penguasa. Baru setelah itu akan disusul dengan pemberangusan hak-hak dasar yang lain.

Dan mulai saat itulah sebuah rezim yang ditegakkan di atas basis rasa takut rakyatnya (A REGIME OF FEAR) mulai dicoba untuk ditegakkan. Bisa saja rezim itu langsung bekerja melalui aparat hukum dan keamanan (militer, polisi, intelijen, kejaksaan, dll). Tetapi bisa juga secara gradual dan klandestin memakai Parlemen dan dukungan sebagian dari masyarakat sipil, sehingga tidak terlalu tampak vulgar.

Rezim "berbasis rasa takut" itu punya wajah dan bentuk berbeda. Ia bisa berbentuk vulgar seperti rezim Saddam Hussein, atau yang ekstrem dan sadis seperti rezim totaliter Nazi dibawah Hitler. Ia bisa merupakan rezim diktator militer, tetapi bisa juga sipil, atau gabungan keduanya. Rezim Marcos, Shah Iran, dan Orba adalah contoh-contoh yang sudah banyak dikenal. Salah satunya yang kini masih bercokol adalah rezim totaliter seperti Korut.

Terbentuknya rezim-rezim tsb TAK SEMUANYA sudah terdeteksi semenjak awal bahwa ia akan berubah menjadi rezim anti-demokrasi. Ada juga yang mula- mula menggunakan landasan dan sistem demokrasi. Baru setelah terjangkit penyakit "elective dictatorship", ia mulai tergoda dan menjadi rezime otoriter dan bahkan totaliter. Dalam proses tersebut, pihak "enabler" atau pemberi justifikasi serta legitimasi legal dan politik adalah lembaga pembentuk undang-undang, yaitu Parlemen dan Yudikatif, serta dukungan dari komponen-komponen masyarakat sipil sendiri!

Di negeri kita, 20 th setelah Reformasi bergulir, tanda-tanda kembalinya otoditerisme dapat dideteksi. Indikatornya antara lain:

1. Konsolidasi demokrasi tak kunjung terjadi dengan tuntas, dan masih sampai pada terbentuknya demokrasi FORMAL.
2. Populisme sebagai aspirasi politik untuk legitimasi perlawanan terhadap pemerintah makin kuat. Populisme ini diperkuat dengan sentimen2 primordialisme
3. Parlemen yang tak memiliki kepercayaan publik cukup tinggi namun makin menjauhi aspirasi publik.
4. Kecenderungan kian menguatnya oligarki sebagai kekuatan strategis di dalam lembaga eksekutif
5. Kondisi relasi sosial dan politik dalam masyarakat sipil yang menunjukkan meningkatnya ancaman primordialisme dan radikalisme, gangguan terhadap kehidupan demokratis, dan melemahnya perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia.

Sebelum terlambat, upaya kembali ke otoriterisme dan penyakit yg bernama "elective dictatorship" itu harus DILAWAN & DICEGAH sedini mungkin. Tolak segala macam upaya utk menggusur hak2 dasar dan hak politik warganegara baik melalui Parlemen, eksekutif, atau yudikatif. Atau kongkalikong ketiganya.

Spirit Reformasi yang berkehendak menegakkan sistem demokrasi konstitusional di Indonesia harus dipertahankan & terus digelorakan. Demokrasi Konstitusional di negeri ini harus lestari. Karena ia adalah jalan terbaik yang dipilih, disepakati, dan diamanatkan oleh para pendiri NKRI.
Share:

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS