Thursday, November 19, 2020

SAHABATKU, KH. ENCENG SHOBIRIN NAJD TELAH TIADA

https://scontent-cgk1-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/126023092_10218661076541824_2897973794443977503_o.jpg?_nc_cat=102&ccb=2&_nc_sid=8bfeb9&_nc_eui2=AeEwG_7gmiSk5KE67zaUt8QqHBhn5sM_QogcGGfmwz9CiAJfXSQln5EotLQxZaFlljI&_nc_ohc=VB0oMHhegREAX-muc-Z&_nc_ht=scontent-cgk1-1.xx&oh=e2a50c08bad9dbc809046b0d69876b2b&oe=5FDB1AAC

INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI'UN. Pagi ini sebuah kabar duka saya terima lewat WA: Salah seorang sahabat dekat, KH. Enceng Shobirin Najd, telah wafat. Almarhum adalah salah seorang wakil Sekjen PBNU dan cendekiawan terkemuka di kalangan nahdliyyin, aktivis pro demokrasi sejak mahasiswa, penulis dan peneliti senior pada LP3ES.

Saya mengenal almarhum sejak masih mahasiswa, saya di UGM, beliau di IAIN Sunan Kalijaga, Jogja. Kami bertemu lagi ketika saya sudah di LIPI dan beliau di LP3ES. Perkawanan makin erat karena kami juga bertetangga di kawasan Perumnas Tangerang. Tak jarang kami ngobrol sampai jauh malam bersama mas KH. Mun'im DZ, sesama tokoh PBNU dan juga peneliti serta penulis dari LP3ES.

Era pasca-Reformasi membuat kami masing2 berpisah lokasi, dan saya bermukim di Pamulang. Almarhum tetap istiqomah menapaki khidmat di PBNU dan menjadi mentor pelatihan2 NU diseluruh Indonesia bersama KH. Mun'im DZ. Saya bertemu dan sempat ngobrol pada saat hadir pada Muktamar NU ke 33 di Jombang.

Selamat jalan Kang Enceng. Dharma bhakti anda bg NU, nusa bangsa dan NKRI, Insya Allah husnul khotimah dan seluruh amal sholehnya diterima Allah swt serta akan tetap dikenang abadi. Jazakumullah. Amin.. Alfatihah...

Pamulang, 19 November 2020
Share:

Monday, November 9, 2020

THE BIDEN'S AND HARRIS' AMERICAN CHALLENGES.


By Lily Hikam*)
Congratulations is in order to Joe Biden and Kamala Harris for being elected President-Vice President of the United States of America (2020-2024). In the midst of celebrating, however, never lose focus of the fact that a Biden-Harris administration is still an administration that one needs to be critical of.

Some things one needs to demand and be critical of the new administration are:
1. Economic stimulus (universal basic income) for the remainder of the pandemic.
2. Universal Healthcare.
3. A concrete plan to deal with the looming climate crisis --> no more fossil fuel subsidies
4. Criminal justice and police reform.
5. Ending the wars/military occupations/sanctions.
6. Whistle-blower protection.
7. Easing tensions with other countries possessing nuclear weapons.
8. Wall St regulations.
9. Student loan debt crisis.
10. A progressive taxation scheme to ensure the wealth gap doesn't keep increasing.
11. Strengthening the social welfare system.
And many more...

Do I think Biden & Harris will do any meaningful changes with regards to any of these points? Based on their track records: No, or at the very least they'll just make minor tweaks around the edges and call it a day.

That's why, just because Democrats are back in the White House doesn't mean everything's fine. The electorate can't go back to brunches and stop their activism and organizing. If anything, the real work has just begun.

Congratulations America! *) PhD in Biochemistry, School of Medicine University of California at Irvine (UCI), USA
Share:

Sunday, November 8, 2020

JOE BIDEN, PRESIDEN AS 2020-2024 TERPILIH!

FILE PHOTO: Democratic U.S. presidential candidate and former Vice President Joe Biden speaks during a campaign event in Wilmington, Delaware, U.S., July 14, 2020.  (REUTERS)

Seperti yang pernah saya posting pada salah satu status di FB, jika hasil berbagai survei ttg "electoral votes" di AS konsisten di mana Joe Biden menang (antara 7-11 poin), maka beliau akan punya probabilitas tinggi untuk dapat memenangi Pilpres AS 2020 melawan sang petahana, Presiden Donald J. Trump. Media mainstream seperti Associated Press semalam (Sabtu tgl 7/10 waktu Indonesia), misalnya, telah melaporkan angka 290 electoral votes untuk Joe Biden dan 214 untuk Donald Trump! Memang sebelumnya sempat ada "kejar2an" dalam perolehan electoral votes tsb, tetapi ketika negara2 bagian yang menetukan (swing states) seperti Pennsylvania, Michigan, Wisconsin, Arizona, dan Nevada ternyata dimenangi oleh Joe Biden, maka keunggulan sang mantan Wapres atas sang petahana tak terbendung lagi.

Dan angka kemenangan tsb, utk sementara, cukup TELAK!

Trump dan para pendukungnya boleh saja merasa jengkel, kuciwa, dan marah dengan kekalahan mak jleb ini. Bahkan mungkin mereka masih akan berusaha menggugat hasil Pilpres tsb ke MA (the Supreme Court) dll. Tetapi rakyat AS sudah berkata: "You Are Done!." Kini Presiden AS yang ke 46  akan menggantikannya.

AS adalah sebuah negara dg tradisi demokrasi yg sudah lebih dr dua abad lamanya. Walaupun kini sedang mengalami kondisi yang kurang baik gegara pandemi, penurunan ekonomi, dan masalah sosial, tetapi masih ia tetap tegar dan mampu memilih pemimpin yang diharapkan akan membawa negara tsb ke arah pemulihan, penormalan, dan penguatan sistem demokrasinya.

SELAMAT untuk Presiden (terpilih)Joe Biden dan Wapres (terpilih) Kamala Harris serta seluruh rakyat AS. 💪👍👏🌹

Simak tautan ini:

1. [BREAKING NEWS: Joe Biden Dapat 273 Suara, Menangi Pemilu AS]
http://share.babe.news/al/QUxFSkpQvR
2.
https://www.theguardian.com/us-news/ng-interactive/2020/nov/07/us-election-2020-live-results-donald-trump-joe-biden-presidential-votes-pennsylvania-georgia-arizona-nevada
3. https://www.telegraph.co.uk/news/2020/11/07/us-election-results-2020-live-joe-biden-donald-trump-president/
4.
https://indianexpress.com/article/world/us-election-results-2020-live-updates-donald-trump-joe-biden-white-house-us-president-6980831/
5. https://en.as.com/en/2020/11/06/latest_news/1604694990_969436.html
Share:

Wednesday, October 28, 2020

DIRGAHAYU 92TH SUMPAH PEMUDA

Image may contain: text that says 'Sumpah Pemuda BERSATU I BANGKIT'

Hari ini genap sembilan puluh dua tahun peringatan SUMPAH PEMUDA, salah satu tonggak terpenting dalam perjuangan membentuk sebuah bangsa dan meraih kemerdekaannya sebagai sebuah negara-bangsa yg berdaulat, bermartabat, adil dan makmur.

SUMPAH PEMUDA adalah awal dari peneguhan sebuah "imagined community" atau komunitas yg dibayangkan bernama bangsa Indonesia yang satu dan tak terpisahkan.

Memaknai SUMPAH PEMUDA pada saat ini adalah meneguhkan niat yg sama walaupun dalam konteks kesejarahan yg sangat berbeda dengan tantangan yang juga tak kalah berat: Lingkungan global, penguatan demokrasi, dan masih adanya ancaman disintegrasi bangsa dan NKRI.

Semoga Allah swt mengabulkan niat mulia para pendahulu dan pelopor bangsa kita. Semoga para penerusnya diberikan konsistensi, keteguhan & kekuatan dalam melaksanakan SUMPAH PEMUDA 1928. Amiin
Share:

Monday, October 26, 2020

KETIKA BANK DUNIA MEMUJI UU CIPTAKERJA




Lembaga dunia seperti the World Bank (Bank Dunia, WB)) adalah simbol dan sekaligus sebuah praksis yang menjadi salah satu faktor penentu (determinant factor) ekonomi dan politik global. Tak beda dengan International Monetary Fund alias Dana Moneter Internasional (IMF) yang juga merupakan lembaga dunia yg punya pengaruh sama, khususnya bagi kapitalisme global. Jika WB dan IMF sudah berkata, memuji atau menghardik, pasti reaksi nasional, regional dan global terjadi. Jika yg pertama terjadi, maka sumringahlah responnya, tetapi jika yg terakhir yang muncul maka kegelisahan bisa muncul. Tetapi apakah benar setiap pujian dan kemarahan BD dan IMF akan menyebabkan sebuah keniscayaan tak terhindarkan tersebut? Banyak pro-kontra untuk menjawab pertanyaan sederhana itu. Kajian, buku, artikel jurnal, kebijakan politik, bahkan gerakan-gerakan politik, ekonomi, dan sosial telah dan sedang serta akan muncul karenanya.

Kata putus belum ada, seperti banyak sekali perkara di dunia yg melibatkan begitu banyak faktor lain di luar apa yg dikatakan dua lembaga dunia tsb. Bahagia dan nestapa masih terbuka dan kedua lembaga tsb tetap saja tak bisa menjadi pemberi akhir kata! Lihatlah Indonesia, misalnya. Saat krisis ekonomi 1998 (yg ikut menjadi sebab tumbangnya salah satu rezim otoriter paling kuat di ASEAN itu), Presiden H M Soeharto (HMS) menandatangani MOI dengan IMF atas anjuran AS, dibawah Presiden Bill Clinton. HMS ingin segera bisa keluar dr krisis moneter yg bermuara dari Thailand, tetapi memukul keras Indonesia. IMF di bawah Michel Camdessus dan Menteri Keuangan AS, Larry Summers pun turun tangan "membantu" RI agar keluar dari krisis.

Hasilnya anda semua tahu: Krisis moneter tak berhasil di kendalikan, krisis politik dan legitimasi marak dan, akhirnya, IMF tak bisa menyelamatkan rezim tsb! Bagaimana dg peran WB dalam mengatasi ekonomi dan politik negara seperti RI? Tergantung bagaimana posisi anda dan perspektif anda. Pihak yg menganggap WB adalah penolong utama dalam menyelamatkan ekonomi dan politik dunia, tentu saja akan berbusa-busa menunjukkan pentinya restu dan bantuan lembaga dunia tersebut. Bagi yag kritis thdnya, tak kurang pula argumen, fakta, dan bukti yang bisa dipakai menujukkan bagaimana lembaga tersebut justru memperbesar ketergantungan, utang, dan menurunnya kemandirian suatu bangsa yg berdaulat karena pengaruh dan cengkeraman kebijakan dan resep2nya.

Karena itu pula, dalam memahami pujian dan dukungan WB terhadap kebijakan Pemerintah PJ dalam membentuk UU Ciptaker saat ini, penting juga diingat apa yg pernah dialami negeri ini dan negara lain. IMF dan WB jelas merupakan lembaga-lembaga dunia yang nyaris tak terelakkan pegaruhnya. Apalagi mereka juga ditopang negara-negara paling maju, paling industrial, paling besar dan kuat, dsb. Namun pengalaman historis yg terjadi pada penghujung tahun 1990an di Indonesia, atau di Iran th 1970an, atau Nicaragua, Filipina, dll yang semuanya ada kaitannya dengan "bantuan" kedua lembaga dunia tsb, mesti dipertimbangkan pula.

Jika kini WB memuji UU Ciptaker, tetapi sebagian dari masyarakat sipil Indonesia menolak, maka bisa diperkirakan ada perkara-perkara yg subtil yg mesti diperhatikan juga oleh Pemerintah PJ. Bukan hanya di "dismiss" alias ditolak dan dituding sebagai sebuah laku yang didorong oleh kemarahan, disinformasi, apalagi sekadar hoax. Penyelesaian legal formal, kendati mungkin akan bisa menyelesaikan masalah secara resmi, tetapi persoalan struktural dan sistemik tak akan menghilang begitu saja. Malah bisa saja menjadi bengkalai masalah-masalah bagi pemerintah selanjutnya! Belum lagi jika dimasukkan juga kalkulus politik dan kehidupan berdemokrasi sekarang dan yang akan datang. Apakah sistem demokrasi kita, yang saat ini sedang mengalami setback, tidak akan bertambah parah?

Sejarah, kata filsuf George Santayana, haruslah menjadi salah satu alat kita untuk belajar. Agar kita tak dipaksa untuk mengulang-ulangnya terus menerus. IMHO

Simak tautan ini:

1.
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20201016110932-532-559120/bank-dunia-dukung-omnibus-law-pemerintahan-jokowi-dan-dpr
2.
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20201017192404-532-559624/beda-pernyataan-bank-dunia-tentang-omnibus-law-ciptaker
3.
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180726100401-532-317082/presiden-clinton-pernah-minta-soeharto-kerja-sama-dengan-imf
4.
https://www.worldbank.org/en/news/press-release/2020/10/12/debt-burden-of-least-developed-countries-continues-to-climb-to-a-record-744-billion-in-2019
5
. https://bizlaw.id/read/31131/Faisal-Basri-Mas-Jokowi-Jangan-Terbuai-Puja-puji-Bank-Dunia-untuk-UU-Cipta-Kerja-Dengarlah-Rintihan-Rakyat
6.
https://akurat.co/ekonomi/id-1226086-read-faisal-basri-ke-jokowi-jangan-dengar-celoteh-bank-dunia-dengarkan-rintihan-rakyat
Share:

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS