Monday, March 18, 2019

BALADA WILLIAM "THE EGGBOY" CONNOLLY DARI AUSTRALIA

Seorang remaja Australia, bernama William Connolly (WC) yang berusia 17 tahun, bikin geger dan kontan memjadi selebriti gegara keberaniannya menyeploskan telur di kepala Senator Fraser Anning (FA) dari Queensland, Australia. FA adalah seorang politisi yang diduga pendukung kelompok Nasionalis Kulit Putih (White Supremacist) dan membuat komentar sinis terhadap ummat Islam pasca-teror di Selandia Baru.

Ketika FS sedang bikin konferensi pers, dengan tenang si remaja Connolly ikut masuk dengan menenteng kamera dibtangan kiri dan telor di tangan kanannya. Lalu ia ceploskan telur tsb persis di bagian belakang kepala FS sambil terus merekam!

Kontan FS ngamuk dan si remaja pun dibekuk aparat. Tapi alih2 mendapat kecaman, si "bocah telur" itu malah jadi semacam pahlawan publik baik di Australia maupun di dunia. Media dan medsos memviralkan video yang merekam aksi Connolly dr berbagai sudut kamera. Bukan itu saja, statemen yang ia posting juga makin bikin meriah. Ia sama sekali tak menyesal dan malah bangga dengan apa yang dilakukannya!.

SALUT atas respon William "THE EGGBOY" Connolly thd pendukung rasisme dan terorisme FRASE ANNING!!

Simak video YouTube ini:

Share:

Saturday, March 16, 2019

APEL KEBANGSAAN ATAWA PEMBOROSAN ANGGARAN?


Romo Aloysius Budi Purnomo (ABP), Ketua Komisi Hubungan Antar Keagamaan dan Kepercayaan, Keuskupan Agung Semarang, mengomentari anggaran Rp 18 milyar untuk gelaran acara Apel Kebangsaan "Kita Merah Putih" besutan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo (GP), begini:

"... menghamburkan dana sampai belasan miliar rupiah untuk satu acara setengah hari. Memang tidak sepantasnya".

GP boleh saja berdalih macam-macam2 utk membela diri dan kegiatannya. Tetapi jika seorang tokoh keagamaan seperti Romo ABP melontarkan kritik keras seperti itu, artinya lampu kuning sudah menyala. Lebih baik GP mendengar dan bertindak bijaksana.

Sehebat apapun sebuah apel kebangsaan digelar, ia tak semestinya sampai menimbulkan kecaman dan bibit ontran2 karena biaya yang dianggap terlalu boros.

Hasil yang diharapkan dari kegiatan itu pun akan terancam muspro alias sia-sia, karena belum apa-apa sudah menimbulkan reaksi negatif. Dan reaksi tsb bukan datang dari politisi atau timses salah satu kubu, tetapi dari seorang tokoh rohaniwan!

GP mestinya menerapkan "unen-unen" Jawa, "empan papan duga prayoga.", atau menempatkan perkara pada tempat yang tepat. GP juga mesti ingat istilah Jawa, "bener ning ora pener", suatu tindakan yang bisa jadi benar tetapi tidak tepat dalam pelaksanaannya.

Gubernur Jateng itu tak perlu memakai model Mercu Suar utk membangun citra yg gebyar. Lebih baik gunakanlah prinsip "sak madyo" sehingga kepemimpinannya bisa dirasakan oleh rakyat secara nyata dan sumrambah. Bukan hanya ingin dipandang gagah.

Saya sarujuk (setuju) dengan pandangan Romo Budi.

Simak tautan ini:

Share:

Friday, March 15, 2019

TEROR ISLAMOPHOBIA DI SELANDIA BARU


INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJI'UN. Kita turut berdukacita atas jatuhnya korban meninggal dari 40 (empatpuluh) jamaah sholat Jum'at di dua Masjid di Selandia Baru akibat aksi teroris tunggal yang terjadi hari ini. Pelaku (perpetrator)nya adalah sorang Australia.

Pada saat yang sama kita sebagai ummat manusia, harus MENGUTUK aksi teror tersebut sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan yang disebabkan oleh ideologi ekstrem: Rasisme, kebencian thd Islam (Islamophobia), dan kebencian terhadap orang asing (Xenophobia).

Semoga selain menangkap pelaku (perpetrator), juga membongkar seluruh jejaring teoris di NZ dan Australia. Sebaliknya, kita berharap aparat di negeri kita juga awas (alert) terhadap kemungkinan aksi teror yang mengatasnamakan balas dendam atas kejadian di NZ.

Kebiadaban karena kebencian thd ras, agama, gender, etnik, dll HARUS DIHENTIKAN & jangan ditolerir. Insya Allah.

Simak tautan ini:

Share:

AGAMA, KELAS SOSIAL, & KONFLIK


Kapolri Jenderal Polisi M. Tito Karnavian (MTK), dikutip dari media, mengatakan bahwa agama dan kelas sosial merupakan dua sumber utama konflik sosial, khususnya di negeri kita.

Agama menjadi sumber potensi konflik utama karena ada pengatas-namaan Tuhan, in the name of God, yang digunakan untuk mengabsahkan gagasan dan aksi yang bermuara pada konflik sosial. Sedangkan kelas sosial, khususnya mereka yang berada pada lapisan kelas bawah (lower class), menjadi potensi sumber konflik karena kesenjangan ekonomi, ketidak adilan ekonomi, dan kemiskinan.

Pak Tito memotret dengan sangat tepat dan gamblang dua komponen utama sumber konflik di masyarakat kita, bahkan juga secara global. Dua komponen tsb jika menjadi satu akan menjadi landasan bagi gagasan dan aksi-aksi yang luar biasa kekuatannya. Dan bisa menjadi ancaman bagi harmoni kehidupan bangsa dan negara.

Tapi, hemat saya, keduanya juga bisa berandil positif bagi kemanusiaan manakala dipahami dari sisi lain. Tafsir atas agama bisa menciptakan atau memotivasi manusia untuk berlaku santun, bijak, dan adil. Sedangkan ketimpangan dan ketidak adilan ekonomi bisa dijadikan tantangan bagi pemerintah dan masyarakat untuk dihilangkan atau setidaknya makin dipersempt dan diperkecil.

Jadi ajaran agama bisa menjadi inspirasi perwujudan "rahmatan lil'alamin" atau karunia bagi semesta, bukan cuma mendorong permusuhan dan konflik manusia. Caranya adalah dengan menafsirkan ajaran-ajaran agama dan mewujudkan tafsir-tafsir tsb untuk menjawab tantangan dan masalah sosial seperti kemiskinan, ketidak adilan, dan kesenjangan antar kelas.

Simak tautan ini:

1. https://www.viva.co.id/berita/nasional/1130363-kapolri-potensi-konflik-paling-berbahaya-adalah-agama
2. https://news.detik.com/berita/d-4468087/kapolri-potensi-konflik-paling-bahaya-itu-agama
3. https://www.liputan6.com/news/read/2850119/kapolri-konflik-agama-paling-berbahaya
4. https://nasional.kompas.com/read/2016/08/04/19022241/kapolri.konflik.agama.adalah.konflik.yang.paling.berbahaya
Share:

Wednesday, March 13, 2019

MENYIMAK KRITIK PSI TERHADAP PARPOL


Pidato Ketum DPP PSI, Grace Natalie (GN), di Medan ( 11/3/19) seharusnya dipahami sebagai sebuah peringatan dan kritik yang sangat mendasar terhadap partai-partai politik in toto, bukan saja terhadap parpol nasionalis. Bahkan pidato tsb juga berlaku bagi PSI sendiri, sebagai salah satu parpol baru yang akan bertarung dalam Pemilu 2019.

Hemat saya, kritik paling mendasar dan menohok dari GN adalah tentang keberadaan parpol (nasionalis) saat ini yang telah "mengingkari" alasan bagi keberadaan (raison d'etre) mereka dalam kancah perpolitikan nasional pasca-reformasi.

Sedemikian jauhnya parpol-parpol dari cita-cita awal saat didirikan, sampai-sampai GN menyatakan bahwa PSI sebenarnya tak perlu ada seandainya parpol (nasionalis) yang sudah ada itu BEKERJA sesuai dengan tugasnya! Dan GN bukan hanya menuding, tetapi sambil menunjukkan beberapa fakta yang menyokong kritiknya itu.

Orang atau pihak parpol yang kena kritik GN boleh-boleh saja gerah dan marah (dan memang sudah ada respon kesal, misalnya, dari kalangan PDIP ). Tetapi kalau mereka mau agak jujur, apa yang dinyatakan Ketum PSI itu secara substantif dapat dipertanggungjawabkan. Kehidupan politik demokrasi kita selama lebih dari dua dasawarsa mengalami semacam kemandegan atau minimal "ogah-ogahan', karena parpol-parpol yang tidak lagi berfungsi secara efektif bagi sebuah sistem demokrasi yang sehat.

Terlepas dari apakah PSI sudah dan/atau nantinya akan mampu bekerja lebih baik ketimbang parpol-parpol mapan, namun faktanya baru parpol ini (melalui Ketumnya) yang punya nyali untuk melakukan kritik mendasar terhadap kondisi parpol di negeri ini. PSI mengakui betapa jauhnya jurang antara apa yang semestinya (das sollen) dikerjakan oleh parpol dengan apa yang mereka lakukan dalam kenyataan (das sein) politik. Parpol, dalam sebuah sistem demokrasi adalah ibarat mesin utama dan sekaligus pembawa arah perjalanan sistem. Jika ia rusak maka demokrasi akan hancur, pelan atau cepat!

Bagi saya sebagai seorang pengamat politik, pidato GN sangat relevan dengan apa yang menjadi pemikiran saya selama beberpa tahun belakangan yakni pentingnya sebuah gerakan reformasi total terhadap sistem partai politik. Reformasi tersebut adalah kiprah yang sama dengan yang sudah dilakukan oleh TNI dan Polri serta belakangan oleh birokrasi dalam rangka menopang kehidupan berdemokrasi pasca-Orba. Jika parpol hanya seperti sekarang maka jangan harap akan terbangun sebuah sistem demokrasi konstitusional yang efektif, sehat, dan berkesinambungan!

Harapan saya, PSI tak berhenti pada kritik tsb tetapi ia juga akan tampil menjadi salah satu kekuatan pelopor bagi reformasi sistem parpol di negeri ini. Ketum DPP PSI sudah dengan jitu membongkar kesalahan paling dasar dari parpol di negeri ini, yakni mereka semua telah dan sedang mengingkari raison d'etre nya sendiri. Langkah selanjutnya adalah PSI mengajak seluruh komponen bangsa untuk bersama2 medorong dilakukannya reformasi sistemik thd parpol dalam waktu tak terlalu lama.

Jika PSI mempunyai hasrat dan semangat melakukan perubahan mendasar tsb, saya yakin rakyat Indonesia, yang mencintai negerinya dan demokrasi, juga akan bersamanya. Dimulai dengan berkompetisi dalam ajang Pemilu 2019. Semoga sukses dalam melakukan pembaharuan di masa depan.

Share:

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS