Monday, April 23, 2018

"ZIARAH KULINER": MENGENANG GD & BAKAKAK AYAM DARI KARAWANG

Semalam (21/04/2018) sempat bernostalgia kuliner di Kota Karawang setelah lebih dari 20 tahun tak mengunjungi kota ini. Ayam bakakak (ayam bakar) Karawang yang khas kota ini adalah salah satu kegemaran almaghfurlah Gus Dur dan saya sangat kerap diajak beliau menikmatinya.

Biasanya kami datang malam2 bersama "rombongan"; GD, Pak Ghofar, Haji Sulaiman, dan saya. Walaupun perjalanan jauh dan setelah sampai di Jakarta lagi sudah hampir tengah malam, tapi kami selalu menikmatinya. Alm GD, waktu itu masih Ketum PBNU, seperti biasa, nongkrong di lapak kaki lima milik H. Syafi'i. Saya mencoba napak tilas tapi konon beliaunya juga sudah wafat dan yg jualan kini adalah isterinya. Namun hanya pada siang hari saja.

Senalam saya mencoba mengulang lagi (reenacting) makan malam bakakak ayam kampung Karawang itu bersama Mas Faisal Rifki, dosen prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Negeri Singaperbangsa (UNSIKA), Karawang. Hasil snapshot yg diambil mahasiswa yang ikut hadir ya seperti yg diposting di bawah itu. Sederhana, berasap, panas, tetapi meriah dan jelas "mak nyuss!!!"

Setelah lebih dari 20 tahun tak jumpa dg kuliner lokal ini rasa nostalgik menjadi bumbu yg lebih menyedapkan. Apalagi sambil mengenang almaghfurlah GD dg segala kesderhanaan dan canda beliau yang rame setiap berkunjung di warung bakakak.

Alfatihah untuk almaghfurlah. Gus Dur..
 
 

Share:

Sunday, April 22, 2018

GUYON GUSDURIANS: PECEL ATAU RAWON?



Syahdan, suatu hari Kang Kasmin (K) menyuruh anaknya, Gino (G), yang masih usia 9 tahun untuk beli sarapan, nasi pecel. Untuk memastikan sang anak menjalankan tugas, K pun bertanya:

K: "No, beli nasi pecel ya nak...."

G: "Beli berapa pak....?"

K (sambil memberi uang G): "Nih, kamu beli nasi pecel buat Bapak, Ibu, Mbakyumu, dan kamu sendiri ya. Jadi berapa nasi pecelnya ?"

G: "TIGA pak....!"

K (kaget): "Kamu kan sudah kelas 3, masa gak bisa menghitung. Coba ulangi lagi! Gimana sih? Ulangi..
.
"Beli nasi pecel untuk BAPAK, IBU, MBAKYU, dan KAMU. Jumlahnya berapa?"

G: "TIGA Pak!"

K (mulai jengkel, nada tinggi): "Kamu diajari matematika gak sih di sekolahmu?"

(G takut dan mulai mewek)

K (suara keras wajahnya persis di wajah G): "Sekarang kamu dengerin sebaik2nya!. Nih Bapak tulis di kertas nanti baca:

"Untuk Bapak SATU nasi pecel, Ibu SATU nasi pecel, mbakyumu SATU nasi pecel, KAMU sendiri SATU nasi pecel. Nah sudah, berapa nasi pecel yg HARUS kamu beli?"

G (mewek): "TIGA.. pak....!"

K (pegang kepala): "JABANG BAYIIII.. Berapaaaa.....???!!!"

G (nangis pol): "TIGA pak... 😭😭😭😭😭... Soalnya saya minta RAWON.."

MORAL cerita: Perumpamaan PEMERINTAH/ Penguasa yang tidak mau bertanya lebih dulu APA MAUNYA rakyat. Langsung main bikin program dan agenda seolah-0lah apa yang diinginkan Pemerintah sudah PASTI sama dengan aspirasi rakyatnya.

Selamat pagi!
Share:

Thursday, April 19, 2018

MEMPERKIRAKAN GATOT NURMANTYO vs JOKO WIDODO DI PILPRES 2019


Sama dengan perkiraan saya, mantan Ketua MK, Prof. Mahfud MD, juga memrediksi bahwa Jenderal TNI (pur) Gatot Nurmantyo (GN) akan bertanding melawan Jokowi (PJ) dalam Pilpres tahun depan. Posisi Prabowo Subianto (PS), hemat saya, tidak cukup "menjanjikan" sebagai lawan kuat PJ, sang petahana, kendati partai Gerindra keukeuh mengusung dan, bahkan, telah mendeklarasikan pencapresan beliau.

Perhitungan saya, siapapun capres-cawapres pada 2019 tak akan bisa menghindari dua faktor berikut ini. Pertama, aturan yang telah digariskan dalam konstitusi dan UU terkait, yakni mereka harus diajukan oleh parpol dan/atau gabungan parpol. Lebih spesifik lagi, menurut UU Pemilu, parpol dan /atau gabungan parpol tersebut mesti punya minimum 20% kursi di DPR. Implikasi dari kedua aturan tsb adalah, hanya koalisi yang mampu memenuhi ambang batas kursi DPR sajabyg bisa mengusung capres-cawapres.

Selain itu, faktor kedua, adalah keniscayaan politik yang mesti dipahami oleh para pengusung capres-cawapres, yaitu elektabilitas para calon mereka. Ihwal yang satu ini memang tak mudah untuk mengukurnya karena ia terkait dengan perubahan dalam opini publik. Namun di dalam masyarakat terbuka seperti Indonesia hal itu bisa dijawab dengan menggunakan laporan-laporan survei yang secara berkala dilakukan oleh berbagai lembaga yang bergerak di bidang itu, baik milik negara maupun swasta. Walaupun tingkat kualitas dan kredibilitas mereka berbeda-beda tetapi jika hasil-hasil survei mengenai elektabilitas para paslon tidak jauh berbeda, maka kita bisa lebih confidence dalam menilai dan memperbandingkan elektabilitas mereka.

Berdasarkan kedua faktor di atas, mudah diperkirakan bahwa Pilpres 2019 tidak akan diikuti lebih dari dua pasangan. Memang ada spekulasi bahwa poros ketiga masih terbuka, tetapi ini lebih bersifat "akademis", bukan hal yang realistis secara politik. Poros ketiga hanya akan menjadi perusak suara atau spoiler kalau memang terbentuk dan hanya buang-buang biaya dan energi yang besar.

Walhasil, pada akhirnya probabilitas tertinggi adalah pertarungan antara petahana, PJ & pasangannya, dengan satu lagi pasangan penantang (contender). Sampai saat ini wacana tentang siapa penantang tersebut masih didominasi oleh PS & pasangan beliau. Namun seiring berjalannya waktu, fakta politik menunjukkan bahwa elektabilitas PS cenderung stagnan alias mandeg dan, bahkan, menurun . Mengapa menurun?

Pertama, ketidakjelasan PS sendiri serta elite parpol2 di luar Gerindra yg berpotensi menjadi pendukungnya, yakni PKS dan PAN. Keengganan elite kedua partai utk secara firm mendukung pencapresan PS, merupakan pwrtanda bahwa mereka masih mempunyai opsi capres lain. Bisa saja dari kalangan mereka berdua sendiri, tetapi bisa juga dr luar ketiganya.

Di situlah nama GN menjadi alternatif. Bukan saja beliau memiliki latar belakang militer yang masih menjadi idola sebagian masyarakat, tetapi juga secara politik mampu merekatkan ketiga parpol dan basis massa mereka, khususnya kelompok Islam politik. GN juga memiliki relasi yg baik dengan para pemilik modal nasional serta kelompok strategis dalm masyarakat sipil lainnya.

Alasan kedua adalah kecenderungan naiknya elektabilitas GN dalam berbagai survei, walaupun masih dalam batas sebagi cawapres. Namun hal ini akan berubah jika beliau menjadi capres parpol koalisi oposisi dan jika mesin partai mereka mulai bekerja.

Untuk sampai kepada skenario tsb tentu bukan kerja yang mudah: bagaimana bisa meyakinkan PS bahwa pencapresan GN adalah alternatif terbaik dan paling punya prospek untuk bisa menandingi sang petahana. Selain itu, bagaimana meyakinkan beliau dan Gerindra bahwa alternatif tersebut tidak merugikan keduanya dalam distribusi kekuasaan. Mungkin PKS & PAN harus bersedia memberikan hak penuh kpd PS utk menentukan cawapres GN. Atau konsesi politik lain yang signifikan dan sepadan dengan "pengorbanan" PS dan Gerindra.

Alternatif lain adalah merayu parpol yang selama ini mendukung PJ seperti PKB. Potensi ini bisa jadi cukup kuat mengingat Ketum PKB, Muhaimin Iskandar (Imin), sangat berambisi untuk menjadi RI-2. Memang sampai saat ini dirinya masih mendambakan berpasangan dengan PJ. Tetapi jika ada peluang lain rasanya bukan hil yang mustahal baginya untuk berpindah haluan.

Koalisi PKS-PAN-PKB mungkin tak sesolid trio Gerindra-PKS-PAN, tetapi akan cukup untuk menjadi perahu bagi GN maju dalam Pilpres 2019. Adanya dua alternatif yang bisa dipakai utk pengusungan GN inilah yang membuat saya cenderung memperkirakan bahwa PS sulit bisa maju sebagai capres penantang PJ.

Politik memang sangat dinamis tetapi, pada saat yang sama, ia juga dibatasi oleh aturan-aturan baku dan keniscayaan-keniscayaan politik. Dan dengan semakin dekatnya waktu, opsi-opsi pun menjadi semakin berkurang. Jika parpol-parpol oposisi tidak bertindak cepat dan efektif, maka akan menghadapi kemungkinan paling pahit yaitu tidak munculnya pasangan penantang PJ yang berarti. Dengan kata lain, upaya keras mereka akan muspro alias sia-sia belaka.

Share:

Wednesday, April 18, 2018

SKANDAL TIPIKOR CENTURY HARUS DIUSUT TUNTAS & SECEPATNYA

Menyimak ILC semalam terkait putusan praperadilan terhadap kelanjutan kasus tipikor Bank Century, saya kira ada semacam kesepakatan, yakni agar proses hukum skandal tsb harus berlanjut dan cepat dituntaskan.

Terlepas dari pro-kontra hukum terkait status putusan praperdilan tsb, namun apabila kasus tipikor ini dibiarkan baik sengaja maupun tidak sengaja, maka KPK yang akan menjadi pihak paling utama yang menjadi sang tertuduh. KPK memang sudah jelas punya KOMITMEN untuk melanjutkannya. Tinggal sampai kapan dan bagaimana hasil akhirnya, itu yang masih belum jelas. Jangan sampai para pembenci KPK mendapat dalih utk melemahkan dan (amit-amit) membubarkannya!

Secara khusus, apa yg disampaikan Rizal Ramli dlm episode ILC ini, merupakan INTI MENGAPA skandal Centurygate itu harus tuntas. Ia adlh sebuah kejahatan kerahputih yang luar biasa dan terkait dengan oligarki politik di negeri ini. Bangsa & NKRI akan terus terpenjara dan tersandera oleh para penjahat yang didukung para oligarch, jika skandal-2 seperti ini tidak pernah tuntas. Sampai negeri dan bangsa ini akhirnya hancur dari dalam.

Simak tautan ini:

Share:

Wednesday, April 11, 2018

JOKOWI MENJAWAB KRITIK ATAU HANYA CURHAT?

Sambil transit di bandara internasional Taoyuan, Taipei, pagi ini (8 April 2018), saya ikut menyimak rekaman video di YouTube, pidato Presiden Jokowi (PJ) di depan forum Konvensi Nasional Galang Kemajuan 2018, yang diselenggarakan oleh pendukung Jokowi-JK. Sangat menarik karena baru kali ini saya melihat pidato beliau yang panjang tetapi penuh dengan semangat dan isinya merupakan bantahan terhadap para pengeritiknya.

PJ menjawab berbagai tudingan yang selama tiga tahun terakhir ini dilontarkan kepada beliau: mulai dari isu kedekatan dengan asing dan aseng , isu PKI, isu pembangunan infrastruktur, dan hutang luar negeri. Tak lupa juga PJ menyentil soal wacana Indonesia bubar pada 2030 yang dilansir oleh Ketum DPP Gerindra, Prabowo Subianto (PS), dan kampanye ganti Presiden yg disponsori PKS. Dan terakhir soal program pembagian sertifikat tanah utk rakyat yg juga dikritik lawan politik PJ.

Bagi saya, bukan soal substansinya saja yang menarik untuk disimak tetapi juga cara penyampaian yang lugas dan langsung. Pesan yang mengemuka adalah bahwa semua tudingan terhadap beliau yang bersifat pribadi, seperti isu PKI adalah kebohongan. Sedang berbagai tudingan miring terhadap program-program pembangunan yang telah dan sedang dijalankan PJ adalah tanpa data dan bermotif politik serta klaim tanpa dasar.

Cara spontan dan lugas dalam menjawab kritik yang dilakukan PJ sejatinya akan efektif apabila pihak pendukungnya juga menyebarluaskannya secara terus menerus dan meluas, khususnya di medsos. Jika tidak, maka pidato tsb akan tenggelam dalam hiruk pikuk kampanye negatif dan kampanye hitam yang kian hari kian marak. Bukan saja melalui medsos tetapi juga media mainstream seperti kanal-kanal TV nasional.

Apa yang disampaikan PJ sebenarnya sangat mudah dipahami publik dan argumentasinya juga tidak susah dinalar. Namun pada saat yg sama jika para pengelola komunikasi publik dari Istana tidak bekerja keras utk menyosialisasikan, justru akan bisa menjadi bahan pelintiran bagi lawan.
Terutama jika pidato tsb dipotong-potong atau dipahami secara distortif. Misalnya, judul video dr CNN TV itu saja sudah menunjukkan distorsi, karena pidato tsb dikategorikan sebagai "Curhat." Padahal pidato tsb adalah jawaban atau rejoinder atas kritik, sama sekali BUKAN curhat!

Simak video ini:

https://www.youtube.com/watch?v=9dlK0dpobKs&feature=share
Share:

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS