Monday, November 20, 2017

MUHASABAH KEBANGSAAN (12): HUMOR, CARA SEHAT MENJAGA AKAL SEHAT


Oleh: Al-Zastrouw

"Tak banyak lelucon dalam obat, tetapi dalam lelucon ada banyak obat" (John Billings)

Akkhir-akhir ini muncul berbagai meme dan status lucu di medsos dengan kadar humor yang sangat tinggi. Terutama sejak Setya Novanto (Setnov) menjadi tersangka kasus korupsi e-KTP.

Sebenarnya humor di medsos terkait dengan Setnov sudah muncul sejak issu suap Freeport menjadi wacana publik yang kemudian memunculkan istilah "papa minta saham". Kemudian naik lagi ketika Ketua DPR dan sekaligus juga Ketum DPP Partai Golkar itu berbaring sakit di RS, berbarengan dengan panggilan pemeriksaan dari KPK

Pasca kecelakaan mobil yang menimpa Setnov, muncul status humor yang massif dan kreatif. Dua hari terakhir hampir semua laman medsos dipenuhi oleh meme dan status humor tentang politisi tersebut.

Dalam jagad dunia maya sebenarnya tak hanya Setnov yang menjadi sasaran humor para nitizen, bahkan sekelas Presiden RI, Bpk Joko Widodo juga dijadikan sasaran humor di medsos.

Yang menarik, tidak hanya para pejabat dan piblik figur, berbagai issu agama yang rentan memunculkan perdebatan dan konflik pun  mulai ditanggapi nitizen dengan cara humor, sehingga melahirkan meme dan status yang lucu dan menggelikan.

Ada beberapa hal yang bisa dicatat dari fenomena  meningkatnya humor di medsos ini. Pertama, ada indikasi para warga dunia maya mulai cape dengan fitnah, caci maki dan permusuhan yang ternyata hanya melahirkan ketegangan. Hidup menjadi tidak nyaman, penuh prasangka dan curiga, terkotak kotak dan sempit.

Mereka mulai membutuhkan suasana santai dan lapang agar bisa menikmati hidup tenang dan nyaman, lepas dari berbagai ketegangan dan permusuhan. Hal ini hanya bisa dilakukan dengan humor, karena humor tidak hanya mampu meleburkan sekat tetapi juga bisa menjadi kanalisasi atas berbagai tekanan emosi.

Sebagaimana dinyatakan Dr. Madan Kataria, humor bisa menjadi terapi psikologis karena ketika seseorang tertawa maka akan bisa menimbulkan hormon anti stres.

Kedua, memcerminkan bahwa masyarakat kita, khususnya warga dunia maya, memiliki derajad kreatifitas yang tinggi sehingga mampu menyampaikan kritik dengan cara yg lucu dan menyenangkan. Bahkan bisa mengubah dan mengepressikan perasaan sakit hati dan kebencian melalui humor yang menyegarkan.

Ini bukan persoalan mudah, karena tidak hanya diperlukan kreativitas yang tinggi tetapi juga dituntut kemampuan mengendalikan emosi yang kuat agar tetap bisa menjaga akal sehat.

Artinya orang yg memiliki sense humor tinggi adalah orang yg kreatif. Karena, sebagaimana dinyatakan Robert Allan Black, humor merupakan cara efektif membangkitkan imaginasi dan daya kreatif.

Ketiga, maraknya humor di medsos dalam menanggapi berbagai kasus yang terjadi di negeri ini mencerminkan masih digunakannya cara kultural tradisonal yang sarat dengan kearifan. Secara kultural humor merupakan mekanisme menyampaikan kritik dan protes di kalangan masyarakat Nusantara. Hal ini  terlihat adanya unsur humor dalam berbagai mitos legenda, folklores, dan cerita-cerita rakyat yang dimiliki masyarakat.

Tradisi humor ini bahkan menjadi bagian tak terpisahkan dengan dunia pesantren. Para santri dan kyai selalu menggunakan humor sebagai sarana menyampaikan dan mengajarkan pesan agama.

Hal ini dilakukan agar pesan-pesan agama bisa diterima dengan mudah dan penuh suka cita. Sehingga agama tidak dirasakan menjadi beban dan ancaman yang menakutkan atau penjara yang menyesakkan.

Tradisi humor di pesantren biasanya dilakukan dengan cara gojlokan, saling meledek antar santri.  Ini dimaksudkan untuk melatih mentertawakan diri sendiri sebagai sarana pengendalian diri agar tidak mudah marah dan tersinggung, sabar menghadapi cobaan dan hinaan.

Model klasik humor adalah berbagai cerita Abu Nawas yang kritis dan sarkastik namun tetap lucu dan menggelitik. Kisah-kisah sufi yang pemuh humor namun penuh makna merupakan bukti penggunaan humor sebagai metode penanaman nilai dan pembetukan karakter di kalangan pesantren

Inilah yang menyebabkan para kyai dan muballigh pesantren memiliki ketrampilan dan sense of homor yang tinggi ketika menyampaikan pesan agama. Dari sini bisa dipahami kalau sosok almaghfurlah Gus Dur yang dibesarkan dalam tradisi pesantren memiliki sense of humor  tinggi.

Apa yang terjadi menunjukkan bahwa humor tidak saja memiliki fungsi psikologis, tetapi juga fungsi sosial. Karena selain bisa merangsang tumbuhnya kreatifitas dan sarana terapi psikologis, humor juga bisa menjadi sarana menyampaikan kritik yang efektif dan akurat.

Untuk melihat peran humor dalam aspek sosial dan psikologi, bisa dilihat gagasan Sigmund Freud yang membagi humor dalam tiga kategori: pertama comic yaitu tindakan lucu dan menimbulkan tawa tanpa ada motivasi. Hanya sekedar melucu; kedua, humour yaitu guyonan yang mengandung motivasi kritik, sarkas dan sejenisnya; ketiga wit, humor intelek. Humor jenis ini memerlukan pemikiran unt tertawa dan menemukan kelucuannya.

Di tengah suasana kebangsaan yang diwarnai berbagai ketegangan sehingg rawan terjebak dalam konflik ada baiknya kita terus menjaga sensitivitas humor agar bisa memproduksi humor yang bisa memancing tawa. Karena inilah cara efektif menjaga akal sehat di tengah kegilaan zaman. Dan humor juga merupakan cara sehat dan indah menghindari kegalauan menghadapi situasi politik yang makin lucu tapi kadang tidak menyenangkan.
Share:

Monday, October 30, 2017

UU ORMAS BARU & KENISCAYAAN REVISI

 Kendati Perppu No. 2, 2017 Tentang Ormas sudah ditetapkan menjadi UU Ormas yang baru (UUO), namun kontroversi yang terkait dengannya masih terus terjadi. Pasalnya, beberapa Fraksi di DPR yang sudah menerima Perppu tsb dalam Sidang Paripurna DPR pada 24 Oktober 2017 lalu, masih menginginkan adanya revisi-revisi terhadap berbagai pasal yang dianggap masih berpotensi membawa Pemerintah menjadi rezim otoriter dan anti-demokrasi.

Dialog CNN TV tadi malam (29/10/2017) mencoba membedah masalah tsb bersama narsum: Arswendo Atmowiloto (Budayawan), Ray Rangkuti (Direktur Eksekutif Lingkar Madani), dan saya sendiri, bersama host acara Budi Adiputro (CNN). Masalah pokoknya adalah apakah UUO akan menjadi penghalang bagi demokrasi di Indonesia atau masih terbuka bagi perubahan, termasuk revisi yang dikehendaki oleh beberapa parpol yang setuju terhadap penetapan Perppu sebagai UU.

Saya menganggap bahwa target utama pembentukan Perppu Ormas adalah pembubaran ormas HTI yang dianggap memiliki pandangan dan kiprah menolak ideologi Negara Pancasila, demokrasi, NKRI, dan nasionalisme. Mengingat keterbatasan UU Ormas sebelumnya sebagai instrumen yang efektif untuk tujuan tsb, maka diperlukan sebuah instrumen hukum berupa Perppu tsb. Kontroversi politik pun muncul dari pihak yang pro dan kontra, dengan berbagai implikasinya. Berbagai upaya untuk menghentikan Pemerintah menggunakan Perppu tsb dan menjadikannya sebagai UU baru, dilakukan oleh pihak-pihak yang menolaknya, khususnya HTI dan kekuatan politik di Parlemen. DPR pun sempat alot memutuskan apakah Perppu tsb akan disetujui menjadi UU, sehingga diperlukan voting. Hasilnya: 4 Fraksi menerima tanpa syarat (Golkar, PDIP, Nasdem, dan Hanura), 3 fraksi menerima dengan syarat ada revisi (PD, PKB, dan PPP), dan 3 Fraksi menolak (PKS, Gerindra, dan PAN).

Setelah sah menjadi UU, wacana mendesak revisi kini muncul dan salah satunya adalah dari PD yang disampaikan oleh Ketua Umumnya, SBY dalam sebuah statemen khusus. Beliau mengatakan jika revisi tidak segera dilakukan, maka pihaknya akan membuat sebuah petisi utk menekan revisi tsb sebagai pertanggungjawaban kepada rakyat Indonesia. Partai-partai lain belum bereaksi seperti PD, tetapi pihak Pemerintah PJ menyatakan akan mengakomodasi usulan revisi tsb, kendati belum ada "time frame" yang jelas.

Dalam dialog ini, ada kesamaan dan perbedaan pandangan ttg Perppu Ormas, terkait apakah ia akan berimplikasi anti-demokrasi atau tidak. Saya termasuk yang mengatakan tidak, namun mendukung upaya revisi. Hanya saja saya tidak optimis bahwa revisi UU Ormas tsb akan bisa dilakukan dengan cepat. Bisa jadi malah tertunda sampai usai Pemilu 2019. Jalan lain yg bisa dilakukan adalah mengajukan uji materiil kepada MK setelah UU ini resmi berlaku. Dengan cara ini maka pasal-2 yang dianggap inkonstitusional bisa diuji dan dinyatakan tak berlaku olehputusan MK. Bagi saya, baik revisi maupun jalan uji materiil tsb adalah cara demokratis.

Seperti lazimnya sebuah peristiwa politik, masalah Perppu Ormas ini juga menjadi panggung berbagai kekuatan politik utk menampilkan diri di depan publik Indonesia, khususnya dalam menghadapi Pemilu dan Pilpres 2019. Parpol-parpol baik yang mendukung Pemerintah maupun oposisi menggunakan kesempatan tsb utk menarik dukungan dari rakyat dengan menunjukkan komitmen terhadap demokrasi, Pancasila, Konstitusi, dan Hak Asasi Manusia. Permainan politik dalam penetapan Perppu Ormas sebagai UU merupakan dinamika politik yang menarik dan bisa berdampak terhadap dukungan rakyat terhadap mereka ke depan.

Silakan menyimak video berikut ini dan mengomentari. Trims (MASH)

https://www.youtube.com/watch?v=0tVT1HPZzfc
Share:

Wednesday, October 25, 2017

GUYON GUSDURIANS: YANG BERJASA MENGGOLKAN PERPPU ORMAS




Ada dialog soal sidang paripurna DPR-RI untuk mengesahkan Perppu Ornas kemarin:

Pertanyaan: "Partai apa yang paling berjasa menggolkan Perppu Ormas jadi UU?^

Jawab: "Gerindra."

Pertanyaan: "Kok bisa, wong partai ini menolak Perppu tsb?"

Jawab: "Sebab yang ketok palu di paripurna DPR adalah FADLI ZON!"

Piye jal?!!
Share:

Friday, October 20, 2017

TIGA TAHUN PEMERINTAHAN PJ & PROSPEK 2019

Menurut survei Kompas yg terakhir tentang kepercayaan publik terhadap PJ, ada peningkatan yang cukup signifikan: 65,1% pd 2015, 63, 1% pd 2016, dan 70, 6% pada 2017. Secara kuantitatif, hal ini patut dibanggakan dan bisa menjadi modal sangat penting bagi Pilpres 2019.

Tentu saja dalam politik bukan hanya hitung-2an kuantitatif yang perlu diperhatikan. Politik juga sangat dipengaruhi oleh variable-2 yang tak bisa dikuantifikasi. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana Gub DKI, Ahok, yg dianggap publik DKI sudah melakukan kinerja dengan baik dan dipercaya, tetapi beliau tak berhasil dalam Pilkada 2017. Salah satu variable yg ikut menentukan kegafalan beliau adalah masalah sentimen primordial yg berhasil digunakan lawan2 beliau untuk memenangkan dukungan pemilih di ibukota.

Karenanya, kendati modal PJ cukup bagus secara kuantitatif tetapi tetap harus disikapi secara hati2 dan low profile, terutama pada 2 tahun yang akan datang. Sangar penting bagi parpol dan kelompok-2 kepentingan serta warganegara yg mendukung beliau untuk dipilih kembali untuk tidak bersikap complacent alias berpuas diri dg hasil survei ini.

Lebih bagus jika mereka mengikuti sikap low profile PJ yg ditampilkannya ketika beliau diwawancara terkait capaian-2 pemerintahannya selama lima tahun. PJ bersikap optimis dan firm, tetapi sekaligus hati2 (cautious) serta terbuka mengakui berbagai tantangan dan kendala yg dihadapi saat in dan masa datang. Inilah yg juga mestinya diikuti oleh parpol pendukung beliau dan juga para timses dan semua pihak yang akan mengusung PJ.

Saat ini dan dua tahun ke depan, secara dinamika politik dalam lingkungan strategis global, regional, dan nasional masih tetap berstatus "volatile". Indonesia sangat memerlukan kepemimpinan nasional yang punya keberanian mengambil sikap firm, lugas, tetapi juga berhati-hati, tidak eksplosif. Khususnya dalam menghadapi kekuatan2 di dalam negeri yang memiliki aspirasi politik ekonomi berbeda dan berusaha menawarkan alternatif bagi Indonesia, namun belum jelas apakah akan bermanfaat atau sebaliknya.

Aspirasi- aspirasi tsb adalah: populisme indigenous (pribumi); populisme agama (Islam); dan kekuatan militer yang masih belum menerima sepenuhnya demokrasi konstitusional; serta kepentingan pemodal oligarki yang menginginkan kembalinya sistem politik-ekonomi patron client. Aspirasi-aspirasi tsb memiliki legitimasi ideologis yang cukup kuat baik di dalam masyarakat sipil maupun masyarakat politik karena bisa menggunakan payung Konstitusionalisme dan Pancasila sebagai dasar Negara juga.

Kendati aspirasi-aspirasi ini belum mengkrisral menjadi kekuatan politik riil yang satu, utuh, dan di bawah satu kepemimpinan pada tataran nasional, tetapi tetap perlu dicermati dan diperhitungkan keberadaan dan prospeknya pada 2019. Secara sendiri- sendiri dan dalam kasus kasus tertentu, mereka telah berhasil melakukan konsolidasi dan mobilisasi kekuatan politik riil dalam berbagai bentuk. Misalnya maraknya penyebaran visi primordialisme, sektarianisme, dan aksi-aksi massa di berbagai daerah. Kesuksesan dalam Pilkada DKI 2017, lagi-lagi menjadi petunjuk kuat bahwa aspirasi-2 tsb nyata dan berpengaruh.

Kontestasi Pilpres 2019 adalah salah satu penentu utama bagaimana Indonesia akan mampu atau tidak melanjutkan kiprahnya mencapai kemajuan dalam lingstra global dan regional yg masih volatile tsb. Berbagai potensi positif seperti bonus demografis, pasar bersama ASEAN, kepeloporan dan peran Islam moderat dalam sistem demokrasi, dll hanya akan menjadi AKTUAL jika Pilpres 2019 menghasilkan sebuah kepemimpinan nasional yang tepat dan kompatibel.

Sebaliknya jika Pilpres 2019 menghasilkan kepemimpinan yang lemah dan tak mampu menghadapi volatilitas lingstra global dan regional, maka Indonesia bisa saja bukan hanya stagnan tetapi akan mengalami kemunduran. Kegaduhan politik dan stagnasi ekonomi bisa saja akan kian menguat dan Indonesia akan semakin tertinggal dalam percaturan regional di kawasan Indo Pasifik. Sebuah prospek  yang tak kita inginkan terjadi, bukan?

SImak tautan ini:

1. https://youtu.be/fPyilmw4_RE
2. https://kumparan.com/kesadaran-adalah-matahari/tiga-tahun-jokowi-jk-memimpin-seperti-apa-perkembangan-indonesia
3. http://nasional.kompas.com/read/2017/10/20/12465231/tiga-tahun-jokowi-jk-gerindra-beri-rapor-merah-bidang-demokrasi
4. http://www.mediaindonesia.com/news/read/126217/tiga-tahun-jokowi/2017-10-09
Share:

Thursday, October 19, 2017

GUYON GUSDURIANS: "MENOLAK DISEBUT PRIBUMI"

Pak Kyai (K) sedang beristirahat di selasar Masjid sore itu, ketika salah sorang santri (S) mendatangi beliau untuk menyuguhkan secangkir teh. Si santri tiba-tiba bertanya:

S: "Yai, panjenengan itu kan asli dari desa ini ya?"

K: "Ya. Dari nenek moyang saya yang mendirikan pondok pesantren ini ya memang orang desa ini. Ada apa ujug-ujug kok tanya asal usul?"

S: "Maaf Yai hanya ingin tahu saja. Jadi Yai ini termasuk PRIBUMI yang dibicarakan di TV itu?"

K: "Saya ini kayaknya SULIT disebut pribumi, nak."

S (heran): "Lho kok gitu, Yai. Kan panjenengan orang Jawa dan asli desa ini. Jadi termasuk pribumi."

K (senyum) : "Kalau saya mengikuti AJARAN agama, KAYAKNYA saya bukan pribumi."

S (kaget): "Lha kok bisa?"

K: "Kan manusia itu KETURUNAN Nabi Adam dan Ibu Siti Hawa. Mereka itu apakah dari Jawa? Wallahua'lam...!"

S: "!!!???***@@@???!!"
Share:

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS