Saturday, December 4, 2021

IS OUR CHRISTMAS UNDER A THREAT?: THE OMICRON VARIANT OF COVID-19.



By Lily Hikam*)
Normally, as we approach the end of the year, there are several things that we can expect from it, such as the incessant replay of Mariah Carey’s classic, and seemingly only song, “All I Want For Christmas”. Concurrently, however, in this new pandemic era, other than year-end travel restrictions, we are expecting the emergence of a new Sars-cov-2 variant or a new variation of an existing virus Covid-19. The latest one is the B.1.1.529 variant also known as variant Omicron, hereafter will be referred to as VO.

One could say that the emergence of VO is not something that’s too shocking, given that we have seen the emergence of other variants of the virus. Some of us might recall the emergence of variant Mu and its spread in many countries of South America and North America. Additionally, most of us can still remember horrors inflicted upon us by the uncontrollable spread of Delta variants.

Truth be told, other than these two “famous” variants, there are other variants of the SARS-CoV2. Perhaps you are wondering why some variants are more talked about compared to others. That’s probably because what is missing from the conversation is the process in which these variants are created and the results.

So how do viruses mutate, and why do they mutate? To put it simply, viruses mutate as they replicate. When our cells divide, they have to make multiple copies of all of our genetic materials and genetic information such as DNA, RNA, and other kinds of proteins to distribute to the new cells. During this production process, there are enzymes in our cells whose job is to check and make sure that the cells have correctly copied all the original genetic information. Due to this proofreading mechanism, the error rate that occurs when a human cell divides is very low (1 in 100,000) and an error occurs almost infrequently. This is not to say that NO error occurs because nothing is absolute in nature, but it’s just to illustrate that animal cells don’t accumulate mutation as often as viruses do.

How about viruses then? As viruses have to infect their hosts to replicate and spread, they’re dependent on having as fast a replication process as possible. Additionally, there are no such proofreading mechanisms in viral replication as there are in cellular replication. And when you’re working fast, usually you make more mistakes than when you work at a slower pace, especially if there’s no one to proofread your work. This is why mutations in viruses occur at a much higher rate compared to cellular mutations (1 in 1000 for viruses vs 1 in 100,000 for mammalian cells), and why so many new SARS-CoV2 variants show up in just two years of its identification.

The next question is if these mutations occur so often, are they all dangerous? The answer is no. Mutations usually confer three things to the virus: 1) Nothing, 2) something detrimental to the organism’s longevity or 3) something beneficial to the organism’s longevity. The type 1 mutation, or sometimes called “silent mutation” usually won’t result in anything different to the virus’ appearance or function. The second type of mutation will result in something that’s bad for the virus, whether it impedes their virulency or actually kills the virus. This type of mutation usually won’t be inherited and passed down to the next generation of viruses since it’s not beneficial for their population. On the other hand, the third type of mutation is something that will be retained and passed down to the next generation of viruses because it helps the virus spread better and more efficiently.

The mutations that gave rise to the Delta and Omicron variants can be classified as the third type of the mutation as it significantly increased SARS-CoV2’s virulence. Additionally, it’s very likely that they will be the dominant variants for years to come, as they will be the ones with superior infectivity and thus will be able to out replicate the other variants. We have seen previously how fast Delta spread and how it’s become the dominant variant in many countries and it seems something similar might be the case with Omicron with its discovery in 25 countries in just one week of its initial discovery.

Based on the limited data we have so far there is potential that Omicron will spread even faster. Yet we still can’t firmly say whether Omicron will cause a more severe symptom compared to its predecessors. The limited data so far showed that the existing vaccines still work to protect against the more severe side effects of COVID-19 and that the patients that have contracted Omicron only showed mild symptoms. There are still much more studies that need to be done on Omicron and its infectivity. In the meantime, what we can do is keep enforcing health protocols such as wearing masks when outside and limiting our mobility so we can limit the spread of the virus. At the same time, to reduce our chances of contracting severe Covid-19 symptoms, getting vaccinated is also recommended, especially to those of us with comorbidities.

This year-end surprise of a new SARS-CoV2 variant might not be the end-of-the-year surprise we want, but it is, unfortunately, the one we were given. As an adaptable organism, we homo sapiens will be able to adapt to this new challenge Mother Nature has thrown in the gauntlet and we will thrive against it.

*) PhD in Biomedical Science, University of California, Irvine, USA
Share:

Sunday, November 28, 2021

NGRUMPI DENGAN PODCAST VIDEO "TOTAL POLITICS."


Kali ini saya memposting rekaman podcast video "TotalPolitics," yang juga sudah dimuat di YouTube, yang dibuat di rumah saya, Jl. Lamtoro, Pamulang. Isinya, seperti biasa kalau ngrumpi dengan mas Didit dan mas Arie, bermacam-macam. Kali ini antara lain: membicarakan buku baru saya yg aslinya adalah disertasi PhD saat sekolah di Univ Hawai'i, Honolulu, USA; membicarakan PDIP saat masih menjadi bagian oposisi melawan Orba; soal NU dan Muktamar NU; dan tentu saja membicarakan kondisi demokrasi kekinian dan gerakan masyarakat sipil Indonesia.
Silakan dicermati dan dikomentari. Terimakasih (MASH)🙏👊

Simak tautan video YouTube ini:

(https://www.youtube.com/watch?v=CUOCD5TjN-I)
Share:

Tuesday, November 2, 2021

PCR DAN KEBIJAKAN PUBLIK VS GIMMICK OLIGARKI


Gelombang kritik dan kecaman terhadap kebijakan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) utk para calon pengguna pesawat udara dan/atau lainnya, sejatinya BUKANLAH ditujukan kepada penting atau tidaknya tes tsb. Namun lebih kepada indikasi adanya kongkalikong para pebisnis dan pejabat (oligarchs) yang, tentu saja, berujung pada satu pertanyaan: Berapa harga yg mesti dibayar para konsumen, terutama oleh lini bawah masyarakat Indonesia yang pas-pasan dan/atau kurang duitnya, tetapi mesti mengeluarkan biaya ekstra yang memberatkan mereka?

Dari pihak Pemerintah, secara formal bahkan Presiden Jokowi (PJ) sudah mengimbau agar harga PCR bisa dipatok rendah, sekiraran Rp 300 ribu atau di bawahnya. Apa lacur, ternyata di lapangan tidaklah mudah bagi pemerintah untuk bisa mematok, karena satu dan lain hal. Dan diantaranya adalah, apalagi kalau bukan, permainan para pengusaha dan pejabat negara sendiri, baik yg punya kepentingan langsung maupun tak langsung dg "profit-making" alias perburuan laba sebesar2nya. Tak peduli dalam situasi kebencanaan sekalipun!

Dan sudah barang tentu, wajah Republik ini dan Pemerintah PJ tampak carut marut baik di mata rakyat sendiri maupun masyarakat internasional. Walaupun RI saat ini termasuk dalam kategori negara yang berhasil menekan penyebaran virus Covid -19, namun tetap TAK ADA JAMINAN akan terus demikian kondisinya, apabila kebijakan ProKes terabaikan atau tercampakkan gegara inkonsistensi pelaksanaan kebijakan tsb di lapangan, termasuk dan khususnya ihwal pengelolaan harga PCR ini.

Jika para para "pemain besar" (big players) dalam bisnis PCR ini tak terkontrol, kemungkinan terburuk yg bisa terjadi, antara lain, adalah kembalinya kondisi RI seperti ketika menjadi salah satu negara paling parah di Asia dalam menghadapi Covid-19. Mereka para oligarki yg seakan berperan sebagai "pemain nyawa" masyarakat Indonesia ini memang hanya memikirkan satu hal: LABA. Dan bagi mereka soal keberlangsungan NKRI dan rakyatnya tak ada artinya karena mereka bisa dengan sangat mudah pindah ke mana saja! Tak ada nasionalisme, apalagi patriotisme, dalam benak mereka. Uang dan cuan adalah segalanya.

Pemerintah PJ tak boleh ragu, apalagi kalau terkesan "mandah" di bawah tekanan para oligarch pemain besar tsb. Bahkan, hemat saya, jika ada diantara para pejabat eksekutif Negara yang tidak mau mengikuti arahan Presiden Jokowi mengenai kebijakan harga PCR, alternatifnya ya cuma satu: Ganti saja. Kepentingan Negara dan bangsa jauh lebih utama dr hitung2an kepentingan kelompok, apalagi pribadi2. Negeri ini bukan hanya untuk sehari dua, tetapi selamanya. IMHO.. Simak tautan ini: 1. https://nasional.kompas.com/read/2021/11/01/12190231/naik-pesawat-di-jawa-bali-kini-boleh-pakai-tes-antigen?fbclid=IwAR2jZ3rw0WQi8zJUb-b54ltmMEaYLzzwYK0AJc6J3s_-yibsfI6GceLGqnc 2. https://www.kompas.com/tren/read/2021/11/01/121500665/syarat-perjalanan-darat-terbaru--naik-mobil-motor-jarak-250-km-wajib-pcr? 3. https://news.detik.com/berita/d-5791823/luhut-dituduh-ikut-bisnis-tes-pcr-di-pt-gsi-juru-bicara-beri-penjelasan 4. https://m.surabayapagi.com/read/luhut-akhirnya-akui-berbisnis-tes-pcr?fbclid=IwAR2IKfovRsg1Uuwvh0OHDqESP6ZNCh5ugCYg8olihtMzpLU8egIkEXKuTNE 5. https://metro.tempo.co/read/1520583/penumpang-wajib-pcr-simak-tarif-dan-titik-tes-pcr-di-bandara-soekarno-hatta
Share:

Wednesday, September 22, 2021

PROF. DR. SAHETAPY: SANG PEMBERANI ITU TELAH PERGI


Kendati saya tak berani mengklaim sebagai orang yg mengenal dekat dengan Almarhum Prof. Dr. Jacob Elfinus Sahetapy S.H., M.A, tetapi saya memberanikan diri untuk menulis obituari ini. Bagi saya pribadi, almarhum adalah seorang pemikir dan pejuang yg berintegritas. Seorang senior yg berani menyampaikan apa yang diyakini dengan segala resikonya. Beliau asalah sosok teladan sebagai cendekiawan, akademisi, dan guru bagi bangsa kita.

Saya pernah mendapat kesempatan beberapa kali bertemu dg Prof. Sahetapy (demikian nama populer beliau) saat masih sering berdiskusi di Surabaya menjelang reformasi bersama para aktivis prodemokrasi, mahasiswa, LSM dll. Masih teringat beliau menyemangati saya dkk agar tetap konsisten mendukung perjuangan Gus Dur yg saat itu merupakan salah seorang aktivis dan tokoh pejuang demokrasi di Fordem dan NU.

Prof. Sahetapy selalu memberikan kesan mendalam dengan keterusterangan dan keberanian beliau dalam menyampaikan pandangan serta komentar2 kritisnya seputar HAM, demokrasi, dan tentu saja, penegakan hukum di Indonesia. Pandangan2 beliau senantiasa menyegarkan dan menyemangati kami yg masih sedang membentuk diri dan menghadapi kekuatan rezim otoriter saat itu.

Dan sesudah reformasi pun beliau tetap merupakan sosok yg kritis, kendati ketika beliau masuk dalam dunia politik praktis. Komentar2 beliau di ruang publik mampu mengatasi sektarianisme politik dan menyumbangkan pencerahan serta kecendekiawanan. Beliau kini memang telah pergi, namun saya yakin legacynya akan abadi. RIP.

Selamat jalan Prof. Sahetapy! 😢🤲🙏🌹
Share:

Friday, September 17, 2021

MENYOAL AMANDEMEN UUD 1945 UNTUK JABATAN PRESIDEN 3 PERIODE

 

 Oleh Muhammad AS Hikam

1. Wacana dan praksis yang sedang bergulir mengenai Amandemen UUD 1945 dan penambahan masa jabatan Presiden 3 periode adalah dua hal yang bisa dibedakan namun tak terpisahkan. Pada hakekatnya, secara legal, politik, dan etik, baik wacana maupun praktik mengamandemen sebuah UUD atau Konstitusi negara bukanlah suatu yang tabu, terlarang, atau tak boleh diperjuangkan dan/ atau dilakukan. Dalam sejarah bangsa-bangsa di dunia, termasuk di negeri kita sendiri, wacana dan praktik mengamandemen Konstitusi itu telah pernah terjadi di masa lalu, dan kemungkinan akan terjadi juga di masa-masa yang akan datang.

Demikian pula halnya dengan wacana dan praktik penambahan, pengurangan, atau pergeseran urutan tentang masa jabatan seorang Presiden di berbagai negara. Ia bisa saja terjadi dan diupayakan, serta dipraktikkan. Konsekuensinya, amandemen ttg penambahan jabatan presiden, secara legal formal, politik, dan etik pun merupakan hal yang sah. Hanya saja perubahan masa jabatan presiden berbeda dengan amandemen pasal lain. Karena kendati ia merupakan bagian dari pasal-pasal Konstitusi, tetap saja tidak sama substansinya. Dalam pengertian ia lebih khusus secara politik. Bobot dari amandemen tentang sebuah perubahan masa jabatan presiden jelas sangat besar terutama secara politik bagi sebuah sistem pemerintahan dan negara.

2. Bertolak dari asumsi dasar tsb, maka wacana dan praksis terkait amandemen konstitusi selalu merupakan “extraordinary phenomenon” secara politik karena umumnya dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan yang mendesak dan bahkan merupakan respon terhadap krisis. Amandemen konstitusi sangat luas dan dalam dampaknya terhadap kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Mengamandemen sebuah konstitusi jelas berbeda dampaknya dengan mengamandemen aturan perundangan yang ada di bawahnya. Salah satu adalah adanya urgensi yang bersifat fundamental, berskala nasional, dan kritikal yang kemudian membedakan keduanya secara sangat tegas apa raison d’etre nya. Makanya seringkali amandemen konstitusi hanya terjadi sebagai respon terhadap terjadinya peristiwa-peristiwa yang ruptural sifatnya, dan (dalam konteks negara demokrasi) legitimasinya diperoleh bukan hanya dari elite politik saja tetapi juga warganegara. Jika wacana dan praksis amandemen konstitusi hanya lahir karena kepentingan satu dua kelompok elite pada negara, masyarakat politik, dan/ atau masyarakat sipil, maka legitimasinya akan rendah bahkan bisa jadi tertolak. Kendati secara legal formal dan politik bisa saja dipaksakan dan terjadi, namun legitimasi etik yg dimilikinya akan tetap rendah dan bisa menjadi penyebab destabilisasi politik atau persoalan-persoalan fundamental lain dalam tatakehidupan bernegara.

3. Jika kita mencermati wacana amandemen konstitusi UUD 1945 di era pasca reformasi ini, maka kita akan dihadapkan pada pertanyaan: “Apakah urgensi kritikal seperti yang disebutkan di atas telah terjadi atau setidaknya terpenuhi?” Tentu orang akan bisa berbeda pendapat dan pro-kontra akan segera muncul. Namun jika kita jujur dan berusaha membandingkan antara urgensi terjadinya amandemen antar era sebelum reformasi dan setelah reformasi lebih dari dua dasawarsa lamanya, tampaknya akan jauh berbeda. Saat ini nyaris belum ada atau dirasakan ada sebuah krisis legitimasi yang sebanding dengan masa-masa akhir Orba, dimana ketika itu terjadi secara struktural dan multidimensional terhadap rezim tsb.

Salah satu persoalan yang sangat mendesak dan menjadi raison d’etre perlunya amandemen konstitusi era akhir Orba adalah adanya fakta kekuasaan tanpa batas (termasuk dan terutama masa jabatan presiden) yang dilegitimasi oleh UUD 1945 yang memungkinkan Presiden Suharto berkuasa selama lebih dari tiga dasawarsa dan, melalui kekuasaan tsb, melanggengkan sistem kekuasaan otoriter. Amandemen tentang pembatasan masa jabatan presiden, jadinya, adalah sebuah sine qua non¬ dan didukung oleh seluruh elemen pro demokrasi, baik pada tataran masyarakat politik dan terutama masyarakat sipil.

Pada saat ini justru hal yang sebaliknyalah yg terjadi: Amandemen UUD 1945, khususnya jika penambahan masa jabatan presiden akan dilakukan, adalah sebuah antitesa terhadap semangat dan etos reformasi dan memperlemah salah satu fondasi sistem demokrasi, yaitu pembatasan kekuasaan presiden. Ironis dan bahkan kontradiktif, bukan?

4. Mengapa ironi dan kontradiksi tsb muncul dalam dinamika politik RI pasca-reformasi? Saya kira, salah satu jawabnya adalah karena perpolitikan kita sedang menyaksikan proses kemunduran atau setback atau pemretelan demokrasi (democratic undoing) yg sejatinya berlangsung secara gradual tapi pasti dalam beberapa tahun terakhir ini. Tren pemretelan demokrasi tidak hanya monopoli Indonesia saja. Setidaknya, menurut sebuah kajian yg dilakukan oleh kelompok wartawan independen yg bernama “Groundtruth”, diberbagai negara yang bisasanya dianggap sebagai kekuatan demokrasi, kasus pemretelan ini juga berlangsung. Laporan Groundtruth menunjukkan setidaknya ada 7 negara demokrasi, AS, India, Brazilia, Kolombia, Hongaria, Polandia, dan Italia, mengalami proses tsb. Kendati sistem politik di negara-2 tsb belum bisa sepenuhnya berubah menjadi otoriter, namau perilaku elite pemerintahan mereka sedang atau telah menggunakan model-model otoriter sebagai alat mempertahankan kekuasaan.

Jadi kita mesti juga berhati-hati dan waspada jangan sampai proses pemretelan demokrasi di negeri ini terjadi dan membuat kita ‘balik kanan’ menuju otoriterisme yang telah kita reformasi dan lenyapkan sejak 1998. Berbagai fakta dan bukti tentang tren kemunduran demokrasi di Indonesia sudah kita ketahui baik dari sumber-sumber dalam maupun luar negeri (intrernasional), sepert indeks demokrasi global, hasil-hasil survei tentang kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga negara RI, indeks pencegahan korupsi, dll.

5. Tetapi selain merupakan kecenderungan global kemunduran sistem demokrasi, menurut hemat saya, di negeri ini juga sedang mengalami pertarungan paradigmatic dalam wacana dan praksis politik yg langsung atau tidak terkait dengan sistem demokrasi dan praktik berdemokrasi. Munculnya dan maraknya wacana amandemen konstitusi saat ini, misalnya, tak bisa dilepaskan begitu saja dari pergelutan antara kekuatan-kekuatan ideologi, politik, dan sosial untuk merebut dan memertahankan kepentingan mereka semenjak reformasi bergulir. Kendati mereka menggunakan dan mengarusutamakan wacana dan praktik demokrasi, ideologi Pancasila dan UUD 1945, tetapi paradigma dan manifestasi dalan perilaku politik mereka tidak selalu sama dan bahkan bertentangan satu sama lain secara diametral. Paradigma yg saling berseberangan tersebut menghasilkan dinamika politik yang kemudian, salah satunya, berdampak kepada fenomena setback dan pemunduran demokrasi di Indonesia.

Paradigma yg semula (pada masa awal reformasi) yg dominan adalah yang berupaya meninggalkan secara total ontologi politik otoritersime dan menggantinya dengan ontologi demokrasi konstitusional. Segala praktik perpolitikan yg menjadi ciri khas otoritersime Orba (dan Orla) dicoba ditinggalkan, termasuk di dalamnya praktik-praktik kekuasaan tanpa batas, dan pengingkaran thd hak-hak dasar kewarganegaraan, pengkerdilan hukum, penindasan HAM, praktik korupsi, serta militerisme. Namun demikian paradigma ini, yg lebih nayak didukung oleh masy sipil, tetapi hanya lemah dalam level elektoral, dan tentu saja mendapat halangan dari kelompok-kelompok kepemtingan lama, tidak menjadi suat kekuatan yg “hegemonic” di negeri ini, apalagi setelah kejatuhan pemerintahan KH Abdurrahman Wahid. Alih-alih, paradigma yg menjadi alternatif didasari ontolog politik yg pragmatis instrumental. Inilah landasan paradigma yg semakin haris semakin hegemonic dan ditopang oleh masy politik, negara (pemerintah), apparat birokrasi, dan bahkan Sebagian dari masyarakat sipil seperti kelompok oligarki.

6. Bisa dikatakan bahwa sistem demokrasi formal yang berjalan sampai saat ini memiliki kelemahan yang sangat fundamental dan karenanya rentan terhadap godaan untuk kembali (retreat) atau mudah terbujuk oleh otoritarianisme. Paradigma yg memandang politik sebagai instrumen atau peralatan (who gets what when and how) dan pragmatisme, akan berorientasi kepada sejauhmana keberhasilan merebut dan memertahankan serta memerluas kekuasaan kelompok dan bahkan pribadi. Kendati mengumandangkan slogan yg sama, yakni demokrasi konstitusional, dalam praktik justru mengabaikan inti demokrasi tsb: pembatasan terhadap kekuasaan, rule of law, penghormatan terhadap hak kewarganegaraan, dan etos keadilan sosial. Neoliberalisme lantas dirayakan dalam praktik kendati membungkusnya dengan populisme dan nasionalisme.

Diskrepansi antara kedua paradigma politik ini tampak semakin nyata akhir-akhir ini yg dapat disaksikan dalam perilaku negara (pemerintah) vis-à-vis kelompok yang memiliki aspirasi dan bertentangan dengannya. Selain itu juga tampak dalam kecenderungan mengerucutnya kekuasaan dalam ranah elektoral yang sepi dari pertukaran wacana dalam pembentukan legislasi yg sangat vital dampaknya. Justru ranah elektoral menjadi alat efektif bagi pengabsahan kebijakan publik lewat perundangan yang sejatinya banyak dipertanyakan manfaatnya oleh masyarakat, sperti UU Minerba, UU KPK, UU Pandemi, dan UU Cipta Kerja. Keterasingan masyarakat terhadap politik dianggap sebagai sebuah kebaikan atau indikator stabilitas politik. Kritik dianggap sebagai pemicu chaos yg mesti dieliminasi total dari batang tubuh politik dan kalau perlu dengan kekerasan.

Dalam konteks seperti inilah wacana amandemen UUD 1945 dan terutama isu penambahan masa jabatan presiden perlu dipahami. Bukan pada soal legalitas amandemen per se, atau kalkulasi politiknya (yang kemungkinan akan lancar pada tataran elektoral), tetapi signifikansinya terhadap kelanjutan proses konsolidasi demokrasi. Ketika masyarakat sipil Indonesia (MSI) juga sedang mengalami pembelahan dan pelemahan karena maraknya politik identitas dan dislokasi-dislokasi sosial akibat sistem kapitalisme ala neolib, maka pergelutan dalam paradigma demokrasi cenderung tak seimbang. Dengan kata lain, godaan dan hasrat dari dalam serta dorongan dari luar utk memreteli (undoing) demokrasi dan menggunakan otoriterisme pun tak terelakkan.

Proses pemretelan terhadap demokrasi, sebagai mana dilaporkan oleh klmpk Groundtruth, dalam artikel mereka “Democratic Undone: The Authoritarian’s Playbook,” (https://thegroundtruthproject.org/democracy-undone-signs-of-authoritarianism/) diupayakan dengan berbagai cara. Setidaknya ada 7 macam cara yg bisa kita cermati:

a. Mempersenjatai (weaponize) dengan ketakutan. Cara ini digunakan melalui penggelaran ujaran-ujaran yg sarat kekerasan; pembudayaan penjatuhan hukumn; pameran kekuatan militer; dan pendiskreditan para pengritik.
b. Menarget pihak yg berada di luar. Ini dilakukan dengan cara mengembangkan pandangan-pandangan antiasing (xenophobia); menyalahkan kekuatan asing: Menuding lawan-2 politik sebagai sahabat kekuatan asing.
c. Menghancurkan Lembaga-lembaga yg pro demokrasi. Cara ini dilakukan dengan melemahkan lembaga gakkum; melemahkan prinsip dan praktik checks and balances; pelemahan legislasi; peraturan-2 yang dianggap melemahkan eksekutif; melemahkan lembaga-lembaga yang melindung pemilihan umum yang fair.
d. Upaya merevisi sejarah. Cara ini ditempuh dengan kontrol thd media dn sekolah-sekolah agar tak kritis; menyebarkan pengaruh /opini publik yg pro kpd otokrasi.
e. Eksploitasi terhadap ajaran-ajaran agama. Kelompok beragama mayotitas didekati, dirayu; mencampuradukkan identitas deng agama.
f. Adu domba dan kuasai (devide et impera). Penyebaran ujaran kebencian; mendorong kekerasan: merekayasa krisis utk merebut kekuasaan.
g. Menggusur kebenaran. Media diserang dan dicap sebagai musuh rakyat; Menolak kabar buruk dengan menyebut sebagai kabar bohong; kontrainformasi dg disinformasi; dan membanjiri media dengan berbagai berita skandal yang saling bertentangan.

7. Wacana amandemen UUD 1945 saat ini adalah preteks dari sebuah upaya untuk penguatan dan penggelaran paradigma, yaitu grand design atau proyek politik yang akan berdampak fundamental bagi keberlangsungan reformasi dan demokrasi yang telah diperjuangkan selama lebih dari dua dasawarsa oleh para pekerja demokrasi, khususnya MSI. Kendati kita belum menyaksikan sebuah proses dedemokratisasi, tetapi setidaknya perlu kewaspadaan terhadap setback yang makin nyata di berbagai dimensi.
 
MSI masih belum kembali menjadi kekuatan utama bagi konsolidasi demokrasi. Ia memerlukan kepemimpinan yang efektif di berbagai level agar paradigma politik dan demokrasi, yang sebelumnya menjadi etos reformasi dan praktik demokratisasi, akan menguat. Semoga.

Share:

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS