Saturday, May 18, 2019

SAJAK "JANGAN KAU AJAK KUFUR NIKMAT"

Oleh Muhammad AS Hikam

ALLAH berikan nikmat berupa NKRI
Tapi malah kau KUFURI.
Kau rusak sistem DEMOKRASI,
Dengan dalih tegakkan Kalimah ILAHI.
Padahal sejatinya hanya ILUSI,
Dan sebuah perangkap 'nuju petaka ABADI.


Jadi begini:
Jika kau tak betah tinggal di negeri INI
Masih banyak negeri yang bisa kau HUNI
Biar kami yang sepakat dengan para PENDIRI
Tetap memelihara dan memajukan NKRI
Silakan kau pergi dari SINI


Kami takkan PEDULI!

(Pamulang, Ramadhan 1440H)

***************************

DENY  NOT THE BLESSING FROM THE LORD

God hath giveth us a blessing called NKRI
But instead, it is the blessing you deny
You destroy our democracy and the rule of law
Under the pretext of enacting the Divine law
The truth is that's only an illusion
And a trap to an eternal devastation
 
So, here it is:

If you don't feel at home in our country
There are still many places you can try
Let those of us who agree with the Founding Fathers
Live peacefully to continue their struggles
Please get out of our hair
We will not care!
Share:

Thursday, May 16, 2019

KINI GILIRAN POLITISASI OTOPSI?


Saya tak habis pikir, demi kepentingan pemenangan Pilpres, ada pihak-pihak yang tega membandingkan otopsi terhadap sapi-sapi yang mati mendadak dengan perlunya OTOPSI thd jenazah para petugas KPPS yang wafat.

Selain tidak "apple to apple" dari sisi kasusnya, bukankah otopsi jenazah manusia dan mayat hewan mengikuti dan/ atau menggunakan dasar aturan main yang sangat berbeda? Sekurang-kurangnya, bukankah harus ada fakta hukum dalam konteks otopsi jenazah manusia bisa dilakukan? Belum lagi diperlukannya izin dari keluarga dari sang jenazah, dll

Ketika kemarahan dan hawa nafsu lebih dominan dalam diri seseorang dan ia tak mau serta tak mampu mengontrolnya, maka nalar dan nuraninya cenderung untuk dikesampingkan. Demikian pula. etika dan etiket pun dipersetankan.

Ngeri membayangkan jika NEGERI ini dipimpin oleh mereka yang punya karakter demikian.

NA'UDZUBILLAH!

Simak tautan ini:

1. [Prabowo Bandingkan Penanganan Ratusan Petugas KPPS Meninggal dengan Sapi] http://share.babe.news/s/eexdsdw
Share:

FENOMEN "KENYATAAN POLITIK PARALEL" PASCA PEMILU 2019


Dalam cerita-cerita fiksi ilmiah (Sci Fi) dikenal istilah "parallel universe", "alternate universe", "parallel reality", atau "alternate reality." Definisi umumnya kira-kira begini: Sebuah dunia yang sama atau nyaris sama dengan dunia nyata yang, secara hipotetis, dianggap ada atau eksis. Dalam cerita Sci Fi seperti Narnia, misalnya, dunia paralel itu sejajar dengan dunia nyata kita dan kadang tersambung kadang tidak.

Nah, dunia paralel ini hemat saya bisa kita gunakan sebagai metafora untuk perpolitikan Indonesia pasca-Pemilu 2019. Sebab sekarang ini ada fenomen "kenyataan dunia politik paralel" (a parallel political reality) yang diyakini adanya oleh pendukung salah satu kubu Capres, yaitu kubu 02. Sayangnya antara kenyataan politik paralel (KPP) dengan kenyataan politik biasa (KPB) yang kita lihat dan alami, sama sekali tak nyambung. Dengan demikian, berbeda dengan cerita Sci Fi Narnia, tidak dimungkinkan bagi kita untuk bergantian atau menggabungkan antara satu dengan lainnya.

Sebagian elit dan para pendukung kubu 02 saat ini sepertinya sedang hidup dalam KPP itu. Mereka merasa telah menang Pilpres dan Pileg 2019, melakukan deklarasi 4 kali, syukuran entah berapa kali, menyatakan hasil hitungan mereka valid dan tak perlu diuji sahih oleh publik atau lembaga seperti KPU dan Bawaslu. Karenanya mereka menolak apa yang ada dalam KPB dengan berbagai dalih: Kecurangan TSM plus Brutal, menolak hasil QC, menolak hasil hitungan KPU, menolak adu data, dan, tak tanggung-tanggung, minta agar paslon capres kubu 01 didiskualifikasi.

KPP ini benar-benar oleh pendukungnya dianggap sebagai kebenaran, bukan fiksi, apalagi halusinasi dan/ atau efek dari sebuah delusi. Para pendukung KPP sudah sesumbar mau bikin 'people's power', gerakan kedaulatan rakyat, menolak bayar pajak, dan terakhir bahkan menolak masuk Parlemen yang ada dalam KPB.

Namun karena KPP ini tidak nyambung dengan KPB maka upaya pendukung pihak yg pertama utk merubah yang kedua tak akan berhasil. Sebab kalaupun mereka menggunakan people's power, misalnya, yang terjadi hanyalah people's power fiksi. Penolakan terhadap kemenangan kubu 01, juga hanya akan 'mbulet' di lingkaran KPP yg mereka buat. Tak ada mesin teleporter atau mesin waktu (time machine) yang bisa mereka pakai untuk memasuki KPB, apalagi melakukan infiltrasi.

Karena itu, saya kira, hingar bingar para pendukung KPP itu tak perlu terlalu di acuhkan, apalagi dikhawatirkan, karena mereka hanya ada dalam fatamorgana buatan mereka sendiri. Fokus kita sebagai warganegara harus tetap pada KPB, karena pekerjaan rumah saat ini dan ke depan masih banyak. Indonesia pasca Pemilu'19 jelas masih memiliki garapan-garaoan besar yang lebih penting ketimbang mengurus KPP.

Sesekali memang menarik juga mengikuti wacana dan kiprah KPP. Selain sebagai kaca bemggala, ia bisa mengundang tawa dan canda. Apalagi kalau kita lihat bhw para promotor, sponsor, dan aktor intelektualnya adalah para tokoh yang juga punya nama besar, spt mantan Jenderal, Profesor, agamawan, budayawan, cendekiawan, aktivis, pegiat LSM. Pokoknya, lengkap nyaris seperti dunia nyata. Lucunya mereka dengan gagah dan tanpa merasa risih atau apalagi malu memamerkan delusi dan kekonyolan di dunia paralel yang dibuat, dikembangkan, diyakini, dan dikagumi sendiri!

Lalu sampai kapankah fenomen KKP akan berlangsung? Sulit diprediksi. Sebab dunia paralel memiliki logika dan caranya sendiri utk bertahan dan merekrut pendukungnya. Bisa jadi gugur satu tumbuh seribu pendukung fenomen KKP itu. IMHO
Share:

Sunday, May 12, 2019

MEMBACA "POLITIK JENAZAH"


Ada semacam FIKSASI terhadap JENAZAH dalam wacana politik kita akhir2 ini. Pd 2016 soal JENAZAH yang ditolak untuk disholati karena ketika masih hidup mendukung AHOK. Tahun 2019 ini marak wacana JENAZAH para petugas TPS yang, konon, DIRACUN. Kali ini yang menjadi target antara adalah KPU. Tetapi target politiknya adalah sang petahana, Presiden Joko Widodo (PJ).

JENAZAH menjadi lokus politisasi karena ia memberi aura MISTERI dan FINAL. Pihak yang menjadi target politisasi, diposisikan telah melakukan perbuatan yang paling FATAL dan hukumannya bukan saja bersifat legal formal, tetapi AGAMA.

AGAMA, lagi-lagi diapropriasi utk pertarungan politik sampai pada tingkat yang paling PERSONAL dan SAKRAL yaitu wacana tentang JENAZAH. Sebuah fenomen yang belum pernah muncul dalam negara demokrasi YANG WARAS di manapun di dunia.

Simak tautan ini:

Share:

RAMADAN: A MONTH WHEN YOU MISS HOME THE MOST

PENGANTAR: Tulisan anak saya Lily Hikam tentang pengalaman berpuasa tahun ini di Irvine, California. Walaupun ia sudah belasan kali beribadah puasa Ramadhan di Amerika, karena sekolah di sana, masih selalu ada yang belum terbiasa. Dan itu bukan soal makan dan minum. Silakan menyimak & komentar. Trims. (MASH)
===================
By Lily Hikam*)

It’s that time of the year again where Muslims around the world observe the Holy month of Ramadan. For one whole month, those of us who observe it refrains from eating and drinking during the day and instead devote our attention on other tasks such as praying or doing service for others in the community. And as always, for the nth time, I’m observing Ramadan all by my lonesome here in Irvine, California.

I can’t tell you how many Ramadans I have observed far from home since I left Indonesia in 2005 to study here. Rather, I can count on one hand the number of times I manage to observe Ramadan at home. You’d think I would be used to it, but to this day there’s still nothing better than observing Ramadan with family and friends.

As you can imagine the atmosphere is different here compared to how it is in Indonesia, and not just because the majority of people here aren’t fasting. For one, the Adzan (calling for prayer) waking me up for sahur or telling me that it’s time to break the fast comes from a smartphone app rather than a loudspeaker. Some people might have mixed feelings about this, I realize. But I do miss it.

Another thing is that everything that we do in Indonesia as a group, here I do them by myself. For example, I had iftar (fasting break) by myself except on the rare occasion that my roommate came home during iftar and ate my bakwan with me. I always have sahur by myself, waking up in the early mornings to heat up the leftovers I cook the night before.

I too pray tarawih by myself at home for two reasons: one, the mosque is far away from my house and two: they pray for 21 raka'at and I’m my father’s daughter and as such I will always do the shortest tarawih possible (Hi Dad!).

Just so you know, I don’t generally get homesick, I’ve been living outside of Indonesia since I was 15 years old. Yet Ramadan and Eid-al-Fitri are the times where I miss home the most. Small things that we would take for granted at home, like breaking fast or having sahur or even just preparing the food, become something to cherish to someone who has to do everything by their lonesome.

The greatest privilege one can have is to be able to spend some time with family, breaking fast and eating sahur from the comfort of their own homes, sharing that experience with your loved ones and reinforcing that bond that may be strained during other times of the year due to work and other activities.

On the whole, this year’s Ramadan in Irvine isn’t too arduous compared to last year’s. We fast for 14 hours this year instead of last year’s 16 hours since Ramadan falls on the early days of Spring. The weather has been very conducive for fasting too. It has been very cool and chilly for the past couple of days which helps keep the thirst (the hardest part of fasting) at bay.

Unfortunately, the socio-political environment in the US has recently been far from conducive. The increasing tension of threats against religious minorities like Muslims and Jews are ever present and felt everywhere with the most recent synagogue shooting in San Diego, close to where I live.

Yet, make no mistake here. During Ramadan no such threat will be enough to stop us from exercising our fundamental right of worship. It has been my experience that mosque attendance skyrocket during Ramadan. There is always something occurring, be it tarawih prayer or even sharing iftar. Everyone is eager to be there and be part of a community, sharing in the experience and the joy of sharing their blessings with each other.

Though I still prefer to be home during Ramadan and the subsequent Eid Al Fitri celebration, observing Ramadan away from home has taught me an important lesson, and that is: there’s no place like home. The community that we build here might lessen the homesickness and the wistfulness one feels for being away from home, but nothing beats gathering around the dining room table, waiting for the Maghrib Adzan to sound with your own family. It’s one of a kind and it’s not something you will feel anywhere else, but at home.

Ramadhan Kareem...

*) PhD candidate
Cardiogenomics Clinical and Research Program
Department of Biological Chemistry
School of Medicine, the University of California,
Irvine, California, USA.




Share:

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS