Friday, August 7, 2020

NU, IHWAL KEPEMIMPINAN KHARISMATIK ATAU MANAJEMEN ORGANISASI?


Kata almaghfurlah Gus Hasyim, mantan Ketum PBNU: "Berbeda pendapat sudah biasa di kalangan NU. Yang belum biasa berbeda pendapatan." Sindiran humoris khas pondok pesantren ini sepintas hanya lucu, padahal kalau ditafsirkan bisa bermakna dalam dan "devastating" alias dahsyat. Sebab, menurut hemat saya, ia memotret dua hal yang sering dianggap dikotomis dalam ormas yg dijuluki "tradisional" seperti NU: yakni locus dari kepemimpinan  kharismatik dalam dunia dan lingkungan modern.

Jika terjadi kasus seperti perbedaan pandangan soal keluar atau tetap ikut dalam program Program Organisasi Penggerak (POP) besutan Kemendikbud, misalnya, muncul pertanyaan: Apakah pemimpin kharismatik mulai tergusur oleh keniscayaan kepemimpinan modern di NU?

Menurut saya tidak. Pertanyaannya bukan soal sumber kepemimpinan. Kharisma masih kuat, tetapi yang menjadi persoalan ormas Islam terbesar itu, bahkan bisa dikatakan "mletho", adalah sistem manajemen organisasinya. Masa sih untuk menyikapi urusan POP malah terjadi "kompetisi" alias lomba untuk saling mengatasnamakan PBNU dan Rais Aam?

Kalau menerapkan manajemen paling dasar saja, apalagi kalau merujuk pada AD/ART PBNU, mestinya kan hanya melalui satu pintu: Lembaga Pendidikan dan Maarif NU (LPM NU). Bukan saja ia adalah lembaga yang tupoksinya jelas merupakan instrumen PBNU utk masalah pendidikan, tetapi ia juga BUKAN bekerja atas nama pribadi. Sementara, apa yang dilakukan Katib Aam Syuriah PBNU, jelas bukan tupoksi beliau untuk bikin deal dg Kemendikbud terkait POP. Paling pol beliau bisa saja melakukan konsultasi dengan Mendokbud dan itupun mesti berbarengan dengan pemegang otoritas di Tanfidiyah PBNU, yaitu lagi-lagi LPM NU.

Jadi menurut saya, soal kharisma para masyayikh (Ulama atau Kyai atau Ustadz) masih kokoh di organisasi NU. Cuma dalam mengelola organisasi yang, menurut saya, masih ketinggalan kalau dibanding ormas lain dalam masyarakat sipil Indonesia. Lihat saja Muhammadiyah, misalnya, selain tidak ada kasus berantem soal siapa yg berhak mewakili organisasi dalam kasus POP, juga tak ada yang "berlomba" bikin statemen di media (yang anak kecil pun tahu ini akan potensial digoreng jika ada perbedaan sedikit saja!)

Sistem manajemen yang baik justru akan mampu menyeimbangkan dan memberdayakan antara komponen kharisma dengan efektifitas organisasi. Kalau manajemen rapuh, maka dalam jagad yg makin banyak godaan untuk berbeda pendapatan saat ini dan ke depan, makin rentan organisasi dari upaya pelemahan.

Belum apa apa sudah mulai berkembang spekulasi bahwa NU pecah soal mereaksi POP. Nanti belum lagi kalau "keribetan" internal PBNU ini dibaca dengan perspektif lain, misalnya dikaitkan dengan Muktamar nanti. Siapa yang paling dapat nama kalau kerjasama NU-Mendikbud jadi atau tidak jadi? Dua-duanya bisa saja "diolah" menjadi bahan kampanye bagi warga nahdliyyin.

Mengutip (dengan agak sembarangan) kata-kata Presiden Bill Clinton, ttg masalah kunci yg dihadapi AS saat beliau berkuasa, beliau bilang: "It's the economy, stupid!", maka jangan-jangan dalam konteks PBNU dan jam'iyyah NU sekarang dan yang akan datang adalah "It's the management, Insya Allah."?? IMHO.
Share:

Wednesday, August 5, 2020

KABAR DUKACITA DARI BEIRUT, LEBANON



Sahabat, berikut ini saya share penjelasan dari Dubes RI untuk Republik Lebanon, Bpk. Hajriyanto Y. Tohari, terkait peristiwa ledakan besar yg terjadi di Beirut, Lebanon. Terlepas dari apapun penyebabnya, kita berdukacita dan prihatin dengan apa yg telah terjadi di negara tsb.

Semoga Tuhan melindungi kita semua:
========👇========
"Salam. Terima kasih atas perhatian dan doa bapak/ibu sekalian kepada kami. Ijin menyampaikan informasi terkait ledakan yang terjadi di Beirut pada 4 Agustus 2020:

1. Ledakan sangat besar yang telah kami laporkan terdahulu terjadi di Port of Beirut pada pukul 18.02 Waktu Setempat. Lokasi port berdekatan dengan Downtown Beirut. Tingkat kehancuran dan kerusakan properti terjadi dalam radius beberapa kilometer dari pusat ledakan.

2. Sejauh ini belum ada keterangan resmi penyebab ledakan. Sumber awal menyampaikan analisa bahwa ledakan terjadi di salah satu hangar besar yang menyimpan bahan-bahan rentan meledak yang disimpan di pelabuhan.

3. Ada informasi juga bahwa ledakan besar tersebut berasal dari bahan Sodium Nitrat dalam volume besar yang disimpan di Port. Sodium Nitrat adalah bahan putih yang digunakan utk pengawet makanan dan bisa meledak apabila terkena api.

4. Kementerian Kesehatan Lebanon menyampaikan informadi jumlah korban meninggal mencapai puluhan dan korban luka-luka mencapai ratusan.

5. Berdasarkan pengecekan terakhir seluruh WNI dalam keadaan aman dan selamat. Dalam catatan KBRI, terdapat 1.447 WNI, 1.234 diantaranya adalah Kontingen Garuda dan 213 merupakan WNI sipil termasuk keluarga KBRI dan mahasiswa.

6. KBRI telah menyampaikan imbauan melalui WAG dan melalui simpul-simpul WNI. Sejauh ini WNI terpantau aman. KBRI telah mengimbau utk segera melapor apabila berada dalam situasi tidak aman.

7. KBRI telah melakukan komunikasi dengan pihak Kepolisian dan meminta laporan segera apabila ada update mengenai WNI dan sepakat akan segera menyampaikan informasi kepada KBRI.

8. 1 (seorang) WNI yang sedang di karantina di RS Rafiq Hariri, Beirut, yang tidak jauh dari lokasi ledakan, juga sudah terkonfirmasi aman.

Demikian, terima kasih.
Hajriyanto Y Tohari
Dubes RI untuk Lebanon."

Selesai.

Simak tautan ini:

Share:

Tuesday, August 4, 2020

TRUMP & IDE MENUNDA PILPRES DI AS



Kurang lebih 3 bulan lagi, tepatnya tanggal 3 November 2020, Pilpres di AS akan digelar. Dari berbagai survei di negara-negara bagian yg disebut dengan wilayah-wilayah "ajang perebutan suara" (battleground states), seperti Florida, Wisconsin, Michigan, Ohio dll, petahana Trump dari partai Rebublik, cenderung kalah jauh dari penantangnya, Joe Biden, kandidat partai Demokrat.

Mungkin didorong oleh kakhawatiran akan kalah telak itu, maka Trump punya ide "nyleneh" yang langsung ditolak oleh banyak pihak, termasuk oleh Ketua Senat AS, Mitch McConnell, yang notabene dari partai Republik dan biasanya selalu "sendiko dhawuh" kepada sang penghuni Gedung Putih itu.

Alasan yang dikemukakan Presiden Trump di ruang publik untuk menunda Pilpres adalah kekhawatiran bahwa cara pemungutan suara yg melalui kiriman pos akan menyebabkan terjadinya kecurangan. Dalih ini dianggap tak masuk akal karena cara yg seperti itu sudah sering dilakukan dan TIDAK PERNAH ada kasus kecurangan pemungutan suara melalui pos tsb. Tetapi alasan penolakan yang lebih mendasar lagi adalah fakta bahwa di negara Paman Sam itu tak pernah terjadi penundaan Pilpres kendati dalam kondisi darurat seperti perang dunia pun!

Tak pelak, sang petahana lantas menuai kritik ramai-ramai di ruang publik sebagai pemimpin yang dituding berusaha mengubah sistem demokrasi menuju otoriterisme. Popularitas Trump yang rendah akibat kegagalan-2nya mengatasi pandemi, malaise ekonomi, dan protes massal anti-rasisme, makin jeblog dan malah memperkuat kecurigaan publik. Ujungnya, alih2 Trump menangguk simpati, ide "nyleneh" dan tak populer tsb. malah makin meningkatkan defisit dukungan!

Dalam catatan sejarah politik dan demokrasi AS, jika ulah Trump dan para pendukungnya berlanjut, apalagi sampai unggul dalam Pilpres 2020, maka proses kemunduran AS sebagai negara yang menganggap diri sebagai "the land of the free" (negara orang-orang merdeka) akan terjadi. Bahkan  ada yang menyebut bahwa kemungkinan negara tsb akan diperintah oleh sebuah rezim fasis, atau minimum rezim otoriter, bukan hal yang tertutup.

Sebuah pelajaran penting bagi para pemimpin yang coba-coba "mengail di air keruh" untuk keuntungan pribadi dan kelompoknya. IMHO.

Simak tautan ini:

1. https://youtu.be/xVj9Pbk8ni0
2. https://ig.ft.com/us-election-2020/
3. https://www.270towin.com/2020-polls-biden-trump/
4. https://edition.cnn.com/2020/07/30/politics/trump-delay-election-no-authority/index.html
5. https://www.independent.co.uk/news/world/americas/us-election/us-election-2020-trump-delay-history-before-a9647796.html


Simak tautan ini:

Share:

Sunday, August 2, 2020

GUS DUR & IEDUL QURBAN: SEBUAH REFLEKSI

Sebagai tokoh yang mementingkan kedamaian dan menghindarkan konflik, termasuk yang mengeksploitasi teologi, almaghfurlah Gus Dur (GD) sering dihadapkan dengan masalah-masalah yang nyerempet2 tafsir teologis. Beliau sedapat mungkin "menjawab" secara retorik, faktual, dan sebisa mungkin "win-win" alias tak membuat salah satu pihak kehilangan muka.

Misalnya pertanyaan teologis: "Siapa sebenarnya yang menjadi kurban dalam peristiwa Iedul Qurban? Apakah Nabi Ishaq atau Nabi Ismail?". Pertanyaan ini jelas tak mungkin dijawab dengan jawaban teologis juga, tanpa meriskir debat yang tak berujung.

Almaghfurlah GD, seperti biasa, melontarkan jawaban retorik tetapi faktual dengan implikasi bahwa soal teologis tak bisa diselesaikan secara hitam putih seperti soal matematika. Jawaban yang diperlukan adalah yang bisa menghindarkan dari konflik antar kedua belah pihak.

Maka almaghfurlah menjawab dg humor saja: "Lha faktanya yg disembelih kan kambing domba, bukan Nabi Ishaq atau Nabi Ismail. Gak usah diributkan." Dengan jawaban yang bukan teologis itu beliau menghindar dari sebuah 'deja vu' perdebatan yang tak mungkin selesai selama kedua keyakinan yang berbeda tersebut ada. Sebaliknya beliau mengajak semua untuk melihat fakta yang disepakati kedua pihak: sebuah ibadah/ ritual pengurbanan hewan sebagai pertanda kepatuhan dan kedekatan kepadaNya

Sebuah kepiawaian resolusi konflik yang luar biasa. Alfatihah untuk almaghfurlah Gus Dur dan selamat Iedul Qurban 1441H.

Sumber:

Share:

Saturday, August 1, 2020

INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI'UN: GUS IM WAFAT.

Kabar duka pagi tadi saya terima: wafatnya Gus Hasyim Wahid (GHW), yang saya panggil Gus Im. Almarhum adalah salah seorang sahabat saya tercinta, salah seorang mentor (dalam ilmu dan humor), salah seorang guru dalam memahami dinamika masyarakat, dan seorang pejuang demokratisasi yang selalu menemani almaghfurlah Gus Dur, yang notabene adalah kakanda tertua almarhum.

Gus Im akan selalu saya kenang sebagai partner yang mengasyikkan dalam debat tentang segala hal: demokrasi, musik, ke NUan, politik global dll. Seperti juga almaghfurlah GD, almarhum Gus Im sangat perhatian kepada saya sejak kenal pertama. Gus Im bahkan berkenan memberi kata pengantar buku saya tentang almaghfurlah Gus Dur pada 2013, "Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita." Kami belum bertemu lagi sejak itu, kecuali hanya melalui beberapa email dan titip salam lewat para sahabat.

Dan kini Gus Im telah dipanggil ke hadirat Ilahi. Insya Allah almarhum husnul khotimah. Amiin, Alfatihah...

Selamat jalan Gus Im, love you...

Simak tautan ini:

Share:

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS