Friday, June 15, 2018

PESAN SYAWALAN: LEBARAN DAN BID'AH


Alkisah serombongan tamu yang sedianya mau berlebaran di rumah tetangga, yang baru saja pindah di lingkungan mereka, terpaksa harus kecewa. Pasalnya si tetangga baru, dengan rumah mewah dan penampilan salehnya, menolak menerima tamu lebaran.

Pasalnya, sang tuan rumah punya pandangan berbeda soal lebaran dan kunjung mengunjungi atau halal bihalal. Menurut beliau, tradisi itu tidak ada dasar dalil ayat Qur'an dan Hadisnya, tidak juga dipraktikkan Nabi dan para sahabat beliau, dan karenanya termasuk BID'AH.

"Jadi saya tidak mau ikut2an perbuatan yang BID'AH ya.. karena saya tidak mau melakukan pelanggaran dalam beramal saleh. Semua harus ada dalilnya dan bukan dibuat-buat oleh orang yang bukan ahli fiqih yang sahih. Lebaran itu BID'AH, tahu!?. Silakan kembali ke rumah masing-masing.." Katanya sambil menutup pintu pagar dan masuk ke rumah.

Maka para tamu pun beringsut dari pagar rumah untuk melanjutkan ke tetangga lain. Tapi ada satu orang yang tampaknya kurang puas. Sambil bersungut2 ia menggumam:
"Dasar pelit aja. Macem-macem alasannya. Silaturahim kok bid'ah. Tunggu entar butuh pertolongan tetangga, gantian kita bilang itu bid'ah!"

Dan sejak itu pula sang tetangga baru itu dapat julukan populer: "Om Bid'ah".
Share:

Monday, June 11, 2018

AN INCOVENIENT TRUTH?: VERSI LAIN MUNDURNYA YUDI LATIF


Ketika saya baca berita mundurnya Yudi Latif (YL) dari jabatan Ketua BPIP, saya memosting status di TL ini, dan berharap bhw sebabnya bukan karena konflik internal. Sesudah itu muncul penjelasan dari Istana dan BPIP sendiri, bahwa alasan YL adalah beban keluarga yang harus diurus ybs. Surat yang ditulis YL sendiri tak secara transparan menyatakan apa alasan beliau, hanya berbagai poin yang bisa ditafsirkan berbeda-beda juga.

Nah, kini ada versi "baru" yang bersumber dari seorang mantan tenaga ahli di BPIP, Damhuri Muhammad (DM), yang pernah bekerja dekat dengan YL selama setahun sebelumnya. Menurut hemat saya, penjelasan DM ini cukup menarik dan masuk akal ketimbang versi Istana dan BPIP, yang pernah disampaikan PJ, Mahfud MD, Johan Budi, Romo Benni, dll. (https://news.detik.com/berita/4060692/mahfud-md-yudi-latif-mundur-dari-kepala-bpip-mau-urus-keluarga)

Setidaknya kalaupun ada elemen masalah keluarga, tampaknya BUKAN merupakan alasan esensial atau menjadi inti masalah. Alasan esensial pengunduran diri YL adalah kondisi manajemen BPIP yang sebelumnya disebut PIP itu. Ternyata, menurut versi baru ini, ada masalah sangat serius dalam manajemen Kantor lembaga tsb yang membuat YL tak mungkin menjalankan tugas.

Selain fakta seperti anggaran yg tak turun selama setahun, juga ketidakefektifan kesekretariatan dan dualisme kepemimpinan di BPIP (silakan anda membaca tautan di bawah). Jadi, hemat saya, soalnya bukanlah masalah keluarga, atau tudingan soal besarnya gaji para pimpinan BPIP, tetapi masalah yang lebih FUNDAMENTAL, yaitu Manajemen dan struktur organisasi yg DYSFUNCTIONAL.

Jika versi baru ala DM itu benar, maka saya pribadi sangat bisa memahami kesulitan YL sebagai seorang CEO yang kewenangannya ternyata tak jelas; anggaran seret; dan pembuatan kebijakan yang tidak transparan. Jika perlu, mungkin DM ini silakan dikonfrontir saja agar publik tahu versi mana yang sahih.

Sambil menunggu kejelasan tsb, saya hanya bisa bertanya: "Bagaimana Kantor yang fungsinya menjadi referensi pelaksanaan Pancasila seperti BPIP, tetapi pengelolaannya amburadul seperti itu akan bisa efektif?" It's really beyond me.

Saya malah jadi salut kepada Yudi Latif atas keputusan beliau. Who is next?Simak tautan ini:

https://tirto.id/mantan-tenaga-ahli-bpip-ungkap-penyebab-yudi-latif-mundur-cL5k
Share:

Friday, June 8, 2018

BUKA BERSAMA DENGAN KIROYAN PARTNERS: "SPIRITUALITAS & RELIGIOSITAS"


Semalam (7Juni 2018), bertempat di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta, saya ikut acara Bukber tahunan yg diselenggarakan oleh Kiroyan Partners (KP), sebuah perusahaan konsultan komunikasi publik di mana saya menjadi salah seorang senior advisornya.

Seperti tahun2 sebelumnya, saya mendapat tugas memberikan "tausiyah" dalam acara itu, walaupun jelas saya bukan Ustadz, apalagi Kyai. Karena sudah lebih dari 10 th berturut turut jadi langganan, saya bilang anggap saja ini semacam "Unofficial Annual Religious Lecture" di KP oleh AS Hikam, hehehe..

Tema tahun ini saya ambil dari Surat Ali Imran 190 yang biasanya ditafsirkan para pakar sebagai ayat2 yang menunjukkan bhw para ulil albab (mereka yg tercerahkan nalar & nuraninya) senantiasa berdzikir dan berfikir tentang keagungan Allah swt melalui ciptaan-ciptaanNya berupa langit, bumi dan segala isinya.

Saya menambahkan tafisr ayat ini dengan mengaitkan antara spiritualitas dengan religiositas atau keberagamaan ummat manusia, khususnya ummat Islam. Demikian pula saya mengingatkan bahwa memahami firman Tuhan dan beragama tak bisa lepas dr historisitas kita sebagai manusia. Akan lebih indah dan bernakna apabila keberagamaan kita berorientasi ke masa depan, bukan ke belakang. Sehingga dalam berfikir atau berkiprah dalam keilmuan pun tidak ada keraguan utk mencari dan memajukan ilmu seluas-luasnya. Sebab pada hakikatnya, secara spiritual ilmu Allah swt adalah tak terhingga. Sehabat apapun ilmu dan kemampuan yg berhasil dicapai mahluqNya tetap tidak akan bisa menyaingi (apalagi melebihi) ilmuNya.

Jika spiritualitas menjadi perspektif dlam keberagamaan seperti itu, maka sikap dan laku beragama akan lebih santun, ramah dan nguwongke. Bisa saja dua orang berbeda agama mereka, namun bisa bekerjasama karena ada kesamaan dalam landasan spiritualitas. Misalnya spiritualitas yang menempatkan etika tanggungjawab, kasih sayang, dan toleransi serta kemanusiaan.

Banyak contoh dari kemampuan seperti itu. Saya menggunakan pengalaman para pendahulu kita seperti alm. Romo Mangunwijaya, Gus Dur, Ibu Gedong Bagus Oka, Johan Efendi dll yang berbeda agama tetapi menjadi kekuatan utuh dalam perjuangan membela Hak asasi, pluralisme, demokrasi, dan toleransi. Salah satu penjelasannya mengapa beliau-beliau bisa demikian adalah karena mereka share spiritualitas etik yang sama: memuliakan manusia sebagai mahluk Tuhan.

Semoga perenungan ini bermanfaat bagi kehidupan bangsa yang sedang mengalami krisis saat ini. Keberagamaan kita harus dilandasi dg spiritualitas agar memunculan sikap dan laku beragama yg ramah bukan yg mudah marah. Amin.
Share:

Tuesday, June 5, 2018

SALAM METAL DARI TERSANGKA KPK: POLITIK EKONOMI KORUPSI


Indonesia memang sedang menderita sakit parah. Bukan rakyatnya, tetapi para pemimpinnya. Coba tengok gambar di bawah ini. Bupati Purbalingga, Tasdi (T), yang tertangkap tangan dalam operasi yang digelar KPK, malah tampil pede dan bahkan mengacungkan tiga jarinya, yang dikenal dengan "salam Metal."

Orang tidak usah menjadi pakar dalam ilmu psikologi utk tahu bahwa ada yang salah dalam tindak-tanduk yang 'nyleneh" dari si tersangka ini. Namun, sejatinya tampilan seperti ini tidak terlalu jauh bedanya dengan para koruptor yang sudah memakai ropi oranye KPK, tetapi malah cengengesan dan wajahnya sumringah.

Seolah-olah mereka ingin menyampaikan pesan kepada publik dan rakyat Indonesia bahwa kasus korupsi bukan hal yang buruk dan tidak mencoreng nama, kredibilitas, karir, ataupun keluarga mereka. Ketangkap korupsi hanyalah soal "sial" saja.

Rasionalisasi para koruptor seperti itu menjadi kian dapat dipahami ketika kalkulasi antara sanksi yang dijatuhkan dengan keuntungan yang diperoleh. Politik ekonomi korupsi (the political economy of corruption) akan menunjukkan bahwa koruptor akan semakin beruntung jika ia bisa melalap uang negara yang sebesar-2nya. Toh sanksinya tidak akan seberapa, apalagi kalau Hakim-2nya di tingkat pertama punya kecenderungan memangkas tuntutan Jaksa tipikor secara signifikan, misalnya lebih dari 2/3nya. Ditambah, sanksi sosial yang nyaris tidak ada dari masyarakat thd para koruptor tsb!

Akhir-akhir ini malah beredar kabar bahwa Presiden Jokowi (PJ) setuju jika para mantan koruptor menjadi caleg; alasan beliau karena hal itu merupakan hak konstitusional mereka. Ini berbeda dengan sikap KPU dan KPK yang berusaha menolak para mantan koruptor tersebut menjadi caleg. Mengapa? Secara nalar sehat, tentu kedua lembaga tsb khawatir bahwa para mantan tsb akan melakukan tindak pidana korupsi yang sama atau mungkin lebih besar jika terpilih. Dan tidak ada jaminan bahwa para pemilih akan menolak mereka di bilik suara, karena berbagai alasan, termasuk kuatnya money politics.

Walhasil, alasan-alasan politik ekonomi di atas membantu menjelaskan mengapa tidak ada efek jera dalam tindakan hukum terhadap para koruptor di negeri ini. Tentu saja ini masih ditambah lagi dengan mental dan budaya dalam masyarakat yang permisif terhadap tipikor. Bukan hanya rakyat, tetapi para pejabat negara sendiri yang suka menjenguk para tahanan korupsi, seakan-akan memperteguh pandangan bahwa mereka itu hanya sedang sial. Bukan sebagai para penghancur negara dan bangsa!

Jadi, kalau pejabat negara seperti Tasdi dan lain-lain malah tampil sumringah saat ditangkap KPK, sebenarnya hal itu menjadi salah satu bukti bahwa pencegahan dan penindakan korupsi di negeri ini sangat tidak membuat jera para pelakunya. Karenanya sudah waktunya mereka itu diberikan sanksi yang benar-benar mampu membuat jera, bukan saja pelaku2 langsung tetapi juga orang-orang sekitarnya. Korupsi uang negara, kalau perlu, harus disetarakan dengan aksi terorisme. Aparat hukum yang lembek terhadap korupsi harus dianggap sebagai pihak yang melindungi mereka dan dihukum berat.

Ini semua memerlukan nyali, bukan hanya sekedar retorika apalagi janji politik. Sebab korupsi bukan saja merupakan suatukejahatan berat dan luar biasa (extraordinary crime), tetapi juga MUSUH BESAR bangsa dan Negara. Paham?!

Simak tautan ini:
Share:

Monday, May 28, 2018

KEBERAGAMAAN & PERILAKU TERHADAP LIYAN

"Jika kamu ingin tahu bagaimana seseorang beragama, jangan hanya kamu lihat bagaimana ia shalat dan puasa. Tetapi lihatlah juga bagaimana ia memperlakukan orang lain." (Imam Ja'far As Shadiq, 702-765)
Keberagamaan seseorang merupakan refleksi dari kapasitasnya melaksanakan ajaran agama baik dalam kehidupan pribadi maupun kemasyarakatan. Karenanya, semakin dalam dan luas keberagamaannya, seseorang akan semakin menempatkan dimensi spiritual ketimbang dimensi "agama" yang lahiriah.

Salah satu bukti dari kedalaman spiritual tersebut adalah bagimana perilaku seorang yang mengklaim beragama terhadap pihak lain, baik yang seagama maupun yang tidak. Bahkan terhadap mereka yang mengklaim tidak beragama sekalipun. Sikap dan laku yang bajik terhadap liyan menjadi bukti terpenting apakah keberagamaan seseorang telah diperkuat dengan spiritualitas. Sehingga apa yang merupakan kepentingan atau hasrat untuk meraih kemuliaaan secara pribadi di depan Tuhan, terefleksikan dengan apa yang dilakukannya dalam kenyataan kehidupan.

Dewasa ini yang terjadi justry sebaliknya. Keberagamaan dimanifestasikan dengan penonjolan pribadi dan kepentingannya, namun melupakan dimensi spiritualitas berupa perilaku terhadap liyan. Karenanya terjadilah formalisme keagamaan yang berlebihan dan kecenderungan intoleransi bahkan kekerasan terhadap yang dianggap tak seagama, bahka seagama tetapi berbeda pemahaman dan tafsir atas ajaran-ajaran.
Implikasinya adalah sebuah fenomena keberagamaan yang tampak di luar sangat massif dan berkembang, namun kehilangan dimensi spiritualitas. Keberagamaan lantas tereduksi menjadi ritualitas yang rigid, namun tak memiliki implikasi positif bagi kehidupan kemanusiaan. Yang lebih mengenaskan lagi apabila keberagamaan seperti itu menafikan etika tanggungjawab bagi kehidupan bersama.
Share:

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS