Sunday, September 18, 2022

INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI'UN: PROF. DR. AZUMARDI AZRA






Kita bangsa Indonesia kembali kehilangan salah seorang putera terbaiknya, pada hari ini Minggu 18 September 2022, di Malaysia. Almarhum, ketika masih bersama kita, sebelum wafat masih menjabat sebagai Ketua Dewan Pers. Prof Azra juga dikenal sebagai sosok cendekiawan Muslim terkemuka yg memiliki keilmuan dan wawasan luas dan menjadi rujukan akademis maupun di luar akademis, nasional maupun internasional.

Semoga Allah swt memberikan husnul khotimah kepada almarhum, dan kepada seluruh keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran menghadapinya.

Selamat jalan, Prof. Azumardi Azra. Doa kami selalu menyertai semoga mendapat tempat terbaik di sisi NYa. Alfatihah... Amin YRA (Muhammad AS Hikam & Keluarga)

(https://news.detik.com/berita/d-6297994/ketua-dewan-pers-azyumardi-azra-meninggal-dunia)

Share:

Thursday, September 1, 2022

KOMNAS HAM & PERTANGGUNGJAWABAN PUBLIK.



Saya, terus terang, terperangah membaca statemen pihak Komnas HAM mengenai hasil penyelidikannya terhadap kasus pembunuhan Brigadir J. Menurut statemen lembaga tsb, yg diwakili oleh Komisionernya, Beka Ulung Hapsara (BUH):

"Terdapat dugaan kuat terjadinya peristiwa kekerasan seksual yang dilakukan oleh Brigadir J kepada Saudari PC (Putri Candrawathi) di Magelang, tanggal 7 Juli 2022."

Kabar ini, setidaknya bagi saya, cukup mengagetkan karena publik telah memperoleh informasi-informasi dari pihak Polri dan Tim penyelidiknya sendiri yang, notabene, sudah melaksanakan rekonstruksi dan bahkan didesak untuk melakukan dua kali otopsi terhadap jenazah almarhum Brigadir J. Hasilnya jelas berbeda dengan laporan Komisioner Komnas HAM, BUH, di atas. Pihak Polri telah menghentikan penyelidikan tentang pengakuan adanya kekerasan seksual terhadap Ny. PC, isteri FS, oleh Brigadir J, dan tidak lagi mengakui validitas alibi tersebut dalam kasus penembakan terhadap sang ajudan!

Karenanya, saya pun bertanya-tanya apakah pihak Komnas HAM sungguh telah memiliki bukti-bukti baru, berbeda dengan yang selama ini sudah diumumkan ke publik dan bahkan di DPR oleh petinggi Polri? Jika demikian halnya, saya rasa Komnas HAM harus mau terbuka kepada publik tentang apa saja yg telah ditemukannya sedemikian rupa sehingga hasilnya bisa bertolak belakang dengan berbagai temuan Polri sampai saat ini. Publik berhak untuk tahu kebenaran yang ada. IMHO

Simak tautan ini:

1. https://news.detik.com/berita/d-6266939/komnas-ham-duga-kuat-ada-kekerasan-seksual-oleh-brigadir-j-ke-istri-sambo
2. https://nasional.sindonews.com/read/873165/13/5-poin-penting-kasus-pembunuhan-brigadir-j-versi-komnas-ham-1662023346
3. https://nasional.tempo.co/read/1629284/ini-3-rekomendasi-komnas-ham-di-kasus-pembunuhan-brigadir-j
4. https://www.youtube.com/watch?v=Ld2R4fQueDk
5. https://news.detik.com/berita/d-6266885/komnas-ham-temukan-4-pelanggaran-ham-di-kasus-pembunuhan-brigadir-j
Share:

Wednesday, August 3, 2022

PARTAI HIJAU & 'KEAJAIBAN POLITIK' JERMAN KONTEMPORER


Oleh: Manfred Henningsen*)

PENGANTAR
: Saya menerjemahkan sebuah artikel dari Profesor Manfred Henningsen dari Dept. Ilmu Politik Universitas Hawai'i, Manoa, Honolulu, AS. Judul aslinya "Germany’s Political Miracles after WWII" yg substansinya ttg sebuah transformasi yg dilakukan sebuah parpol di Jerman, dari yg semula radikal dan cenderung ke kiri, tetapi kemudian berubah menjadi lebih moderat dan mendapat dukungan publik Jerman. Apakah ini bisa menjadi lesson learned di Indonesia? Silakan disimak dan dikomentari. Trims (MASH).

Dinamika perpolitikan di Jerman pasca Perang Dunia II ditandai dengan serangkaian perkembangan luar biasa. Salah satu buktinya adalah peran yang dimainkan oleh Partai Hijau Jerman (PHJ) dalam pemerintahan Kanselir Olaf Scholz saat ini. Tidak seperti partai Hijau di hampir semua masyarakat Barat lainnya, PHJ telah berhasil mengambil jarak dari latar belakang gerakan sosial dan kritik radikalnya terhadap apa yang disebut “sistem”. PHJ telah menjadi partai politik biasa dan mematuhi aturan sistem, dan bahkan pernah mengkritik kiprah sebagian politisi yang disebut dengan politisi progresif di AS yang dianggap telah merusak agenda arus utama Partai Demokrat di negara Paman Sam tsb. Karena telah menyadari perlunya suatu transformasi internal tsb , PHJ kemudian berhasil diterima oleh sebagian besar pemilih Jerman di semua kelompok umur. Perkembangan politik yang ajaib di Jerman kontemporer ini, sayangnya, tidak terlalu diperhatikan oleh para politisi, jurnalis, dan intelektual Barat. Bahkan orang Jerman sendiri, sebagaimana yang saya saksikan sendiri dalam kunjungan baru-baru ini ke negara kelahiran saya itu, tidak menyadari bahwa sesuatu yang luar biasa sedang terjadi di masyarakat mereka. Dengan kata lain, hemat saya, Jerman kini sedang mengalami sebuah transformasi politik yang tidak hanya akan berdampak besar pada negara anggota Uni Eropa (UE) yang paling kuat secara demografis dan ekonomi itu sendiri. Tetapi, lebih jauh, transformasi tersebut akan berdampak pada seluruh UE.

Bukan hanya itu. Bahkan empat kekuatan pemenang Perang Dunia II, yang secara politis “menduduki” Jerman dengan ratusan ribu tentara sampai reunifikasi pada tahun 1990, seharusnya dapat belajar dari Jerman kontemporer bagaimana mengelola masyarakat mereka sendiri dengan damai dan sukses. Dinamika perpolitikan yang saat ini sedang kacau balau di Amerika Serikat, Inggris, dan bahkan Prancis, menuntut semacam politik pragmatis dan sekaligus visioner yang menjadi ciri khas Jerman kontemporer. Rusia di bawah Vladimir Putin (VP) tampaknya menjadi contoh sebuah kondisi politik yg terpuruk yang hanya dapat disembuhkan oleh gerakan masyarakat sipilnya sebagai tanggapan atas kinerja militernya yang memuakkan di Ukraina. Namun skenario ini tampaknya bertahan pada saat ini di masa depan yang jauh.

Menurut sebuah jajak pendapat terbaru yang diterbitkan oleh majalah berita, Der Spiegel (25 Juni 2022), ada tiga politisi yang terpopuler di belakang Presiden Steinmeier dan menjadi anggota Kabinet Kanselir Olaf Scholz. Ketiganya bukan anggota Partai Sosial Demokrat (SPD) tapi tergabung dalam Partai Hijau Jerman. Mereka adalah Wakil Rektor dan Menteri Ekonomi dan Energi, Robert Habeck; Menteri Luar Negeri, Annalena Baerbock, dan Menteri Pertanian, Cem Oezdemir. Ketiga politisi ini adalah anggota partai yang muncul dari gerakan radikal lingkungan Hijau, anti-nuklir, dan aktifis perdamaian sosial tahun 1970-an. Gerakan sosial ini telah mengatasi perpecahan internal antara apa yang disebut 'Realos' dan 'Fundis', realis ekologis, dan fundamentalis, yang sempat akan mengoyak keutuhan gerakan itu. Namun perpecahan tersebut telah dianggap menjadi ciri masa lalu.

Di sisi lain, ketegangan ideologis masih mewarnai partai-partai di ekstrem kiri dan kanan: Linke (Kiri) dan AfD (Alternatif untuk Jerman). Kedua kubu tersebut terlibat dalam pertarungan ideologis internal yang ujung-ujungnya hanya menunjukkan semakin tidak relevannya mereka dalam politik Jerman. Namun demikian, hemat saya, baik Linke maupun AfD tidak merupakan ancaman bagi stabilitas tatanan politik seperti yang dilakukan oleh sayap kiri Prancis di bawah Jean-Luc Melenchon dan sayap kanan di bawah Marine Le Pen dalam pemilihan Parlemen baru-baru ini di Prancis. Bisa dikatakan bahwa jika kita membandingkan dinamika perpolitikan Jerman dengan Perancis, Italia, Inggris, atau bahkan dengan Amerika Serikat pun, maka Jerman adalah negara Barat yang saat ini paling stabil.

Namun “keajaiban politik” baru Jerman ini tidaklah serta merta identik dengan stabilitas sistem politik itu sendiri. Bagaimanapun juga transformasi Gerakan Hijau, yang kini menjadi partai politik yang telah mau menerima aturan dan kondisi sistem politik, dahulunya juga pernah memertanyakan legitimasi eksistensialnya. Mereka kini telah menjadi bagian dari sistem dan diakui oleh mayoritas pemilih Jerman, terutama yang masih berada di bagian Barat negara itu, sebagai kekuatan politik yang layak dan terpercaya. Yang juga luar biasa dalam fenomen ini adalah fakta bahwa salah satu dari ketiganya, Cem Oezdemir, menggarisbawahi keberhasilan integrasi warganegara dengan latar belakang migran dalam masyarakat Jerman. Ia lahir di Jerman sebagai putra dari orang tua Turki-nya yang datang ke negara itu sebagai pekerja tamu pada 1960-an. Fakta ini ini juga yang melatarbelakangi Aminata Toure, 29 tahun, putri kelahiran Jerman dari orang tua migran Afrika, yang baru saja diangkat menjadi Menteri Sosial di negara bagian Schleswig-Holstein, setelah menjadi Wakil Presiden di Parlemen negara bagian tsb.

Salah satu kepiawaian Wakil Kanselir Hijau dan Menteri Urusan Ekonomi dan Aksi Iklim, Robert Habeck, ditunjukkannya saat diwawancarai oleh majalah berita Der Spiegel tentang krisis energi yang tidak dapat diprediksi namun pasti yang akan melanda Jerman pada musim gugur dan musim dingin ini. Cara dia menanggapi pertanyaan tentang kelemahan antisipasi untuk konsumen swasta dan bisnis menunjukkan daya tariknya terhadap para pemilih terutama di Barat negara itu. Dia tidak mengelak tetapi mengkonfirmasi kekurangan yang diakibatkan oleh pengurangan pengiriman gas dan minyak Rusia. Namun berbicara pada akhir Juni kepada para pekerja kilang utama di Timur, yang akan menjadi korban dari penghentian pengiriman gas Rusia, dia jutru disambut meriah oleh para pekerja yang sebelumnya memprotes!.

Kebijakan energi Habeck ini merupakan respon politik Jerman terhadap invasi berdarah oleh Valdimir Putin di Ukraina dan awalnya dikritik oleh Amerika dan sekutu lainnya karena implementasinya yang lambat, telah diidentifikasi secara publik sebagai penyebab kenaikan harga konsumen dan masalah pengiriman di sektor-sektor utama ekonomi. Habeck menekankan keberadaan masalah ini dan kelanjutannya. Dia tidak menolak jawaban dan menegaskan kesuraman prediksi. Dia tidak ragu-ragu untuk menguraikan langkah-langkah sulit yang akan dia rekomendasikan dan bersedia untuk diterapkan. Dia juga menegaskan komitmen untuk perluasan sumber energi alternatif dan menunjukkan pragmatisme politik tanpa melupakan biaya sosial yang besar akan menyebabkan tindakan ini.

Habeck, Baerbock, dan Oezdemir mewakili kelas politisi baru yang komitmen politiknya dapat diidentikkan dengan pragmatisme. Namun para pragmatis Hijau Jerman tsb berbeda dari rekan-rekan Anglo-Amerika mereka. Pragmatisme Anglo-Amerika, yang didefinisikan oleh salah satu pendirinya, filsuf Inggris Charles Saunders Peirce, pada awal abad ke-20, sebagai realisme tanpa ide moral.
Habeck dan rekan-rekannya dari Partai Hijau memang pragmatis, namun mereka tidak pernah melupakan konsekuensi moral ekologis, sosial, dan keseluruhan dari tindakan mereka. Mereka tidak melupakan visi komprehensif 'Hijau' tentang dunia dalam masalah yang hanya dapat diselamatkan dari kehancuran lingkungan dengan tindakan politik yang mengakui sifat terminal dari ancaman tersebut.

Berkaca pada dimensi moral identitas politik mereka, trio 'Hijau' di kabinet Scholz menyadari sejak invasi terhadap Ukraina oleh Vladimir Putin diluncurkan pada 24 Februari, yaitu bahwa aksi tersebut harus dihentikan. Scholz ragu-ragu untuk beberapa waktu untuk berkomitmen pada penghentian pipa Nordstream-2 namun alhirnya memberikan pidatonya yang terkenal "Zeitenwende" di Parlemen Jerman, Bundestag, dengan janji meningkatkan anggaran militer sebesar 100 miliar Euro beberapa hari setelah invasi dan menyatakan dukungan tanpa syarat untuk pertahanan Ukraina melawan penjajah berdarah. Dia mungkin mula-mula ragu-ragu karena menghormati warisan pasifis Jerman pasca-Perang Dunia II dan terutama inisiatif kebijakan luar negeri Sosial Demokrat oleh dua kanselir Sosial Demokrat, Willy Brandt (1969-1974) dan Helmut Schmidt (1974-1982). Kenangan tentang pemuda kiri radikalnya sendiri mungkin telah menambah keengganannya. Bahkan pada pertemuan G7 di Jerman yang dia pimpin pada bulan Juni, dia tidak bisa mengeluarkan pernyataan untuk mendukung pemenangan Ukraina. Sebaliknya, dia hanya menyatakan bahwa Putin seharusnya tidak menang.

Namun para anggota Partai Hijau dari kabinetnya bersikeras bahwa Ukraina harus menang. Kompas moral mereka memberi tahu mereka bahwa pelajaran dari Perang Dunia II dan sejarah Nazi Jerman harus menjadi pelopor penolakan yang jelas untuk berkompromi dengan para pemimpin seperti Putin. Perilakunya yang sembrono dan kejam serta perilaku kejam tentara Rusia mengingatkan mereka pada Hitler dan Nazi yang sebenarnya, yakni Putin yang melancarkan perang di Ukraina.

*) Professor Emeritus
    Department of Political Science
    University of Hawaii at Manoa
    Honoluli, HI, USA
Share:

Wednesday, June 29, 2022

COVID-19 DARI PANDEMI KE EPIDEMI: BAGAIMANA SIKAP KITA?


Dua tahun sudah kita hidup dalam kondisi pandemi COVID-19, dan tentunya wajar kalau kita bertanya-tanya apakah kita akan menghabiskan sisa hidup ke depan dengan memakai masker kemana pun kita pergi; mendapat booster setiap tahun; membatasi kontak fisik dengan teman-teman dan sanak saudara; dan harus selalu waspada dengan berita-berita mengenai kenaikan kasus COVID-19?

Tentu saya tidak sendirian jika mengatakan bahwa saya sudah lelah atau jenuh dengan cara hidup seperti di atas. Keinginan agar semua aspek kehidupan bisa kembali seperti "sediakala", misalnya, kiranya pernah tersirat satu dua kali di benak kita semua. Dan keinginan atau doa ini seakan-akan segera "terkabul", karena belakangan ini negeri kita faktanya telah mengalami penurunan dalam kasus penyebaran COVID-19 (walaupun dengan catatan, ada sedikit kenaikan yang terjadi belakangan ini) dan pemerintah mulai menyusun rencana peralihan status pandemi COVID-19 menjadi endemi.

Dalam perbincangan publik terkait ihwal ini terlihat seakan-akan pemerintah, dan imbasnya masyarakat Indonesia, menganggap COVID-19 adalah sesuatu yg terkendali penyebarannya dan kehidupan pun bisa kembali “normal”. Pertanyaannya: Apakah anggapan seperti ini bijak?

Pertama, saya rasa kita harus mulai dengan definisi dulu agar supaya kita semua mempunyai pemahaman yang sama mengenai hal ini. Dengan kata lain, kita harus jelas apa definisi dari "pandemi" dan "endemi" itu sendiri. Seperti yang didefinisikan oleh WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), pandemi merujuk ke sebuah kondisi ketika penyebaran suatu penyakit telah melampaui batasan negara atau wilayah geografis. Contohnya sudah pasti: COVID-19 yang sampai sekarang sudah tersebar di hampir seluruh negara di muka Bumi. Contoh lain adalah wabah Flu Spanyol (Spanish Influenza) yang juga pernah melanda di akhir Perang Dunia I. Berikutnya, dan yang paling banyak diungkit saat memperbincangkan pandemi, adalah Maut Hitam (the Black Death), sebuah pandemi penyakit Bubo (pembengkakan kelenjar getah bening) yang melanda benua Eropa di abad 14 dan merenggut sedikitnya 75 juta jiwa!.

Sementara itu, definisi endemi adalah kondisi ketika penyebaran suatu penyakit yg secara konsisten di dalam satu populasi yg menempati suatu area geografis tertentu dan pada suatu waktu tertentu. Suatu penyakit dapat dikategorisasikan sebagai penyakit endemik, jika pola dan kecepatan penyebarannya sudah bisa diprediksi sehingga sistem kesehatan di tempat tsb tidak kewalahan menangani jumlah pasien. Contoh penyakit-penyakit yg endemik antara lain: Malaria yang endemik di wilayah Papua, HIV/AIDS yang endemik di daerah Afrika sub-Sahara dan Afrika Selatan, Tuberkulosis dan demam berdarah (dengue fever) di Indonesia.

Jadi perbedaan antara pandemi dan endemi hanyalah dari lingkup persebarannya saja, bukan dari tingkat keparahan penyakitnya. Sebagai contoh, penyakit Malaria lebih mematikan dibanding COVID-19, tapi karena malaria tidak menular secepat dan semudah COVID-19, dia tetap diklasifikasikan sebagai endemi, bukan pandemi.

Lalu bagaimana caranya sebuah penyakit bisa transisi dari pandemi menjadi endemi? dan apakah sudah ada penyakit yg seperti COVID-19 yg menjadi penyakit endemic?

Jadi kesimpulannya: Memang ada penyakit yang sudah beralih dari sebuah pandemi ke endemi, namanya Influenza, Flu atau pilek.

Penyakit Flu yang pada awalnya sangat menular (dan mematikan) ini lambat laun menjadi penyakit musiman yg hanya muncul di suatu populasi pada saat-saat tertentu seperti saat peralihan musim dari panas ke musim dingin. Dikarenakan jenis virus yg menyebabkan COVID-19 (SARS-CoV-2) berasal dr “keluarga” yang sama dengan virus influenza, banyak ahli yang memprediksi bahwa virus SARS-CoV-2 tidak akan hilang dari peredaran (akan selalu ada selamanya) dan lambat laun, dan melalui riset yang intensif, kita akan bisa memprediksi pola dan kecepatan persebaran varian-varian baru (yang sudah pasti akan tercipta) dari virus ini. Ditambah dengan kemajuan2 dari pengobatan & vaksin-vaksin yang ada, sebuah penyakit lambat laun akan bisa diatasi dan menjadi sebuah penyakit yg penyebarannya terkontrol.

Akan tetapi, sangatlah tidak bijak jika kita menganggap bahwa karena suatu saat COVID-19 akan menjadi endemi, lantas kita bisa bersikap santai atau lengah menghadapinya. Ingat, hanya karena sebuah penyakit diklasifikasikan sebagai endemi bukan berarti dia tidak mematikan. Apalagi, tidak ada jaminan bahwa varian-varian COVID-19 yang akan datang akan lebih jinak dibanding yang sudah beredar sekarang. Untuk sementara, subvarian BA.4 dan BA.5 dari varian Omicron diketahui lebih cepat menular dibandingkan Omicron, hanya saja tingkat keparahannya tidak melebihi tingkat keparahan varian Omicron. Bahkan data yang ada sampai sekarang menunjukkan bahwa tingkat keparahan dan mortalitas nya cenderung lebih rendah dibandingkan varian Omicron sebelumnya. Akan tetapi, beberapa studi menunjukkan bahwa subvarian BA.4 dan BA.5 ini lebih mampu "menghindari" deteksi dari sistem imunitas tubuh kita ketimbang varian-varian sebelumnya.

Pertanyaan yg tak kalah penting selanjutnya: Apa yang akan terjadi ke depan dengan perubahan tsb? Sejujurnya, tidak ada yang tahu. Meskipun pemerintah tetap mempersiapkan skenario-skenario transisi pandemi menuju endemi, namun tetap besar kemungkinan bahwa subvarian-subvarian Omicron baru akan muncul. Jika pola mutasi yang ada sekarang berlanjut, maka kedepannya kita mungkin akan semakin banyak menemukan subvarian yang lebih cepat menular, tidak mematikan dan lolos dari sistem imun tubuh.

Salah satu kemungkinan yang diharapkan adalah COVID-19 akan menjadi penyakit musiman yang kemunculan nya bisa diprediksi dan gejala nya menjadi semakin ringan. Akan tetapi, masih banyak pertanyaan yang perlu dijawab melalui riset seperti jenis obat dan perawatan apa saja yang paling berguna untuk mengatasi gejala COVID-19 maupun gejala-gejala long COVID yang diderita sebagian penyintas COVID-19.

Jadi kuncinya adalah: Tetaplah menjalankan protokol kesehatan meskipun kita mungkin sudah merasa jenuh dan lelah; batasi mobilitas anda; dan laksanakan vaksinasi (apalagi jika anda punya komorbid atau sistem imunitas lemah). Sekian.
Share:

Wednesday, June 8, 2022

GERAKAN "DES GANJAR": AWAL PERSAINGAN KUBU MEGAWATI VS JOKOWI?


Munculnya gerakan mendukung Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo (GP), dalam bentuk 30 ribu relawan, termasuk di dalamnya para perangkat desa, yg disebut dengan "Des Ganjar" bisa ditengarai sebagai telah terjadinya persaingan politik internal dalam partai penguasa RI, PDIP, atau menajamnya perbedaan pilihan siapa yang akan diusung sebagai kandidat dalam Pilpres 2024. Tak mengherankan jika publik akan menganggap telah terjadi perbedaan antara kubu Ketum DPP PDIP, Megawati Sukarnoputri (MS) disatu pihak, dengan kubu Istana yang "dikomandoi" oleh Presiden Jokowi (PJ). Pihak yang disebut terakhir itulah yg kemungkinan besar berada di balik Des Ganjar. Mengapa? Yang paling mudah untuk dijadikan sebagai indikator adalah reaksi thd gerakan mobilisasi Des Ganjar dari sebagian elit PDIP yg dikenal sangat dekat dg MS seperti Trimedya Panjaitan (TP) dan Masinton Pasadibu (MP) serta Puan Maharani (PM). Reaksi mereka cenderung sangat kritis dan bisa dianggap menolak GP serta kiprahnya dalam menggalang dukungan bagi pencapresan yg seolah mendapat restu dari Istana. Indikator kedua adalah kemampuan sekaligus keberanian GP dkk utk terang2an melakukan move terbuka TANPA lebih dahulu meminta restu kpd DPP PDIP, khususnya MS. Ini sebuah "anomali" dalam budaya politik partai berlambang Banteng moncong putih tsb, atau bahkan fatsoen politik Indonesia pada umumnya. Dengan kata lain, jika GP memiliki keyakinan dan keberanian utk melakukan hal ini pastinya BUKAN tanpa perhitungan matang, termasuk pendukung politik yg sangat kuat. Salah satu yg patut diduga tentu adlh Istana. Indikator ketiga adalah kemampuan mobilisasi sumberdaya pendanaan utk mobilisasi gerakan secara cepat, massif, dan sisrematis. Diperkirakan hanya dalam waktu kurang dari sebulan GP dkk bisa mengumpulkan 30 ribu relawan, termasuk para perangkat desa, dg anggaran yg mencapai Rp 1 M. Tanpa sebuah organisasi dan manajemen yg canggih, dg kapasitas jejaring yg luas di seluruh negeri, tampaknya nyaris hil yg mustahal bisa dilakukan! Berangkat dari indikator2 di atas, bisa ditengarai bahwa fenomen Des Ganjar ini adalah sebuah tantangan terbuka thd elit DPP PDIP, khususnya MS yang sampai saat ini belum menunjukkan ada tanda2 akan menyokong tampilnya GP pada Pilpres 2024 resmi dr partai tsb. Bahkan sebaliknya, semakin sering muncul kritik2 tajam baik thd GP dan PJ dari para pentolan politisi PDIP baik di Parlemen maupun di luarnya. Jika analisa sementara itu ada benarnya, maka apabila tidak segera diupayakan suatu negosiasi politik antara GP dan elit PDIP, maka persaingan tsb akan kian menajam dan bisa saja secara terbuka memperhadapkan MS vs PJ. Ini tentu akan sangat disayangkan bagi kemampuan elektabilitas kandidat dr partai tsb. Jelas bhw baik kubu GP maupun MS memiliki pendukung tradisional dari basis massa bawah yg sama2 kuatnya. Jika terpecah maka akan merugikan kandidat keduanya pula! Mumpung belum terlalu jauh, saya kira penting bagi MS dan PJ utk rundingan: Mencari solusi politik yang tepat agar PDIP tetap mampu menggolkan kandidatnya dan meneruskan proses pembangunan bagi negara dan bangsa. MS jelas memiliki track record sangat baik dalam soal mengutamakan kepentingan NKRI ketimbang kepentingan pribadi & kelompoknya sepanjang karier politiknya. Semoga PJ demikian juga hendaknya. Sejarahlah yg akan mencatat apakah harapan tsb akan terjadi. Wallahua'lam. Simak tautan ini: 1.
https://m.mediaindonesia.com/nusantara/497047/lebih-30-ribu-warga-desa-se-indonesia-dukung-ganjar-presiden-2024 2. https://jateng.inews.id/berita/puluhan-ribu-relawan-desa-bulatkan-tekad-dukung-ganjar-presiden-2024 3. https://wartaekonomi.co.id/read418989/des-ganjar-sukses-kumpulkan-30-ribu-massa-deklarasi-ganjar-untuk-presiden-2024 4. https://youtu.be/8EglLuhGLiQ 5. https://radarkudus.jawapos.com/nasional/06/06/2022/pecah-30-ribu-relawan-desa-se-indonesia-deklarasi-dukung-ganjar-presiden-2024/
Share:

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS