Wednesday, December 12, 2018

"MLEDHING": MODUS PROTES DENGAN GUYON?

Pak Ngadiyono (Ng), Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gunung Kidul, konon dilaporkan ke kantor Polisi, gegara dituding telah melakukan penghinaan thd seorang pegawai Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kab Sleman yang sedang bertugas dalam sebuah acara silaturahim kubu Prabowo dengan ormas Muhammadiyah di Kab Sleman.

Kader Gerindra tsb, konon, ikut hadir di acara tsb. Saat somplokan dengan si pegawai Bawaslu itu, Ng menyapanya: "Bawaslu ya?", sambil berpose memantati (istilah Jawa "mledingi") dan menirukan bunyi "pret!" . Nah, ternyata pihak Bawalsu DIY tak terima dengan ulah sang legislator dan lapor ke Mapolda DIY. Menurut Koordinator Divisi Penindakan Pelanggaran Bawalsu DIY, Sri Rahayu Werdiningsih (SRW), pihaknya tidak terima dengan aksi "pledingan" tsb, karena dianggap "telah menghina lembaga negara."

Bagi saya, bukan soal laporan yang jadi perhatian. Tetapi soal aksi "pledingan" yang dipakai utk mengekspressikan ketidakpuasan atau protes terhadap pejabat yang dipersepsi tidak adil atau kurang disukai. "Mleding" dalam konteks budaya Jawa bisa punya banyak makna, mulai dari sekedar guyonan antar-teman, olok-olok, sampai pada pernyataan ketidak sukaan dan bahkan protes.

Cara protes dengan pledingan ini ternyata sudah lama digunakan oleh rakyat utk penguasa yang dianggap tidak adil atau menindas. Seorang kawan saya yang pakar antropologi budaya, mengatakan bahwa para tawanan di Boven Digul pada zaman kolonial, sering melakukan "pledingan" ketika pesawat Belanda melewati wilayah udara di sana.Dan tindakan protes yang tampaknya lucu itu ternyata bisa punya konsekuensi serius. Seorang teman dari Bali bercerita bahwa di zaman kolonial itu, konon ada penduduk yang memledingi tentara kolonial, dan ia pun ditembak mati!

Cara protes atau perlawanan yang tampak sederhana seperti pledingan ini, ternyata tidak sederhana konsekuensinya. Dalam masyarakat yang sudah terbuka dan demokratis serta kebiasaan pergalan di masyarakat yg santai dan penuh senda gurau seperti di Yogya pun bisa berpotensi serius. Apakah ini karena masyarakat kita memang sedang darurat humor atau gampang tersinggung dan mudah marah?

Saya tak berani membayangkan seandainya ada massa di alun-alun Yogya dengan jumlah ribuan lalu bersama-sama "mleding" (entah kepada siapa) sebagai tanda kekecewaan atau protes. Besar kemungkian peristiwa mleding massal itu akan menjadi salah satu topik diskusi di ILC! Wkwkwkwk...

Simak tautan ini:
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS