Sunday, November 7, 2010

MAHFUD Md VS REFLY HARUN: ANTARA GENGSI DAN REPUTASI MAHKAMAH KONSTITUSI

Oleh Muhammad AS Hikam
President University


Refly Harun

Refly Harun (RH) mungkin tak pernah mimpi bahwa artikelnya yang dimuat oleh Kompas (25/10/2010) akan berbuntut panjang bagi dirinya, Artikel yang nadanya secara umum sangat positif terhadap Mahkamah Konstitusi (MK) dan   pemimpinnya, Prof. Dr. Mahfud Md, SH, MH (MMd) itu, ternyata berbuah lain. RH kini menjadi semacam "ontran-ontran" akibat artikelnya karena ia harus membuktikan apa yang ditulisnya, Bukan itu saja. Konon, MK atau lebih tepatnya MMd mungkin akan melaporkan RH ke Polisi jika pihak yang disebut terakhir tsb tidak mampu membuktikan apa yang ditulisnya melalui investigasi yang didukung dan dibuat oleh MK dan dipimpin RH sendiri!

Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap MK dan MMd, saya cenderung melihat apa yang dilakukan MMd terhadap RH merupakan suatu hal yang tidak semestinya bahkan terkesan berlebihan. Saya tidak ada masalah bahwa RH harus mampu membuktikan ucapannya. Saya juga sependapat bahwa integritas MK (dan MMd) menjadi taruhan di sini. Setidaknya, RH harus mampu menjelaskan apakah tulisannya yang mengatakan bahwa dirinya "pernah melihat dengan mata kepala sendiri uang dollar AS senilai Rp 1 miliar, yang menurut pemiliknya akan diserahkan ke salah satu hakim MK" itu suatu hal yang bisa dipertanggungjawabkan atau tidak. Sebab, dalam tulisan itu ada kalimat "yang menurut pemiliknya", dan ini berarti RH sendiri tidak terlalu yakin. Yang dia perlukan adalah mengkonfrontir orang tsb untuk mendapat kepastian apakah yang dikatakannya itu benar atau hanya semacam "bluffing" alias omong besar saja.

MMd berhak untuk merasa "limbung" atau "malu" atau mungkin "tersinggung" dengan tulisan RH. Namun jika kemudian RH diberikan tugas menjadi pimpinan tim penyelidik dugaan korupsi di MK dengan target membuktikan ada atau tidak, saya kira berlebihan. Apalagi dengan semaca "ancaman" untuk memolisikan RH. Saya melihat bahwa sehebat apapun tim yang dibuat RH, toh tidak akan punya kekuasaan dan wewenang "memeriksa" para Hakim MK. Paling-paling juga mewawancarai dan meminta keterangan. RH dan timnya pasti juga akan mendapat resisitensi sangat kuat jika misalnya mau "memeriksa" terlalu jauh, misalnya, rekening para Hakim atau staf MK. Walhasil, tim seperti ini lebih merupakan sebuah tim yang hebat di nama tetapi belum tentu efektif.

Perkembangan terakhir tampaknya makin mengarah kepada munculnya kritik terhadap MMd dalam menyikapi tulisan RH. Bukan karena orang meragukan integritas dan kebersihan MMd atau KPK, tetapi lebih kepada soal cara yang ditempuh untuk membuat RH menjadi terbebani secara moral dan seolah-olah malah menjadi calon tertuduh. Ibaratnya, seperti membunuh nyamuk dengan meriam, MK dan MMd seakan ingin menampilkan RH sebagai sosok yang mesti diberi pelajaran supaya tidak kurang ajar terhadap lembaga tinggi negara dan Hakim-hakimnya. Wawancara MMd di Metro TV beberapa hari lalu, misalnya, sangat merisaukan saya karena cara beliau memberikan argumen yang sinis dan terkesan kontradiktif. Di satu pihak beliau menyatakan bahwa RH memiliki reputasi baik dan dapat dipercaya omongannya dan karena itu benar, tetapi di pihak lain menyudutkan RH karena menurut beliau MK dan Hakim-hakim MK semua bersih.

MK dan MMd tidak perlu bereaksi kelewatan (over-react), karena memang di negeri ini sekarang sedang berkecamuk wabah sinisisme dan curiga terhadap apa saja. Ini sejatinya merupakan refleksi terhadap ketidakpercayaan publik yg sangat tinggi terhadap lembaga negara (ekskekutif, legislatif, yudikatif), sehingga seolah-olah tidak ada yang benar. Apalagi kalau sudah menyangkut korupsi, semua lembaga negara termasuk MK tidak imun terhadapnya dan kemungkinan adanya korupsi tetap ada. Saya kira MMd mesti lebih arif den tidak membuka front yang tidak perlu. Seribu kawan masih kurang, tetapi seorang musuh terlalu banyak, kata pepatah. MK, sehebat apapun dia, saya kira masih membutuhkan teman. Dan perlu banyak.
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS