Thursday, August 30, 2012

WAWANCARA IMAJINER DENGAN GUSDUR (16B): "SAMPANG"




 Oleh: Muhammad AS Hikam



(Agak lama saya menunggu Gus Dur menyelesaikan wiridannya sebelum beliau jengkar dari sajadah. Mungkin karena hari masih cukup pagi dan saya agak terburu-buru. Toh sudah biasa kalau mau bertemu beliau orang tidak usah bikin janji atau teleopn dulu dan sebagainya. Kalau memang beliau ada ya kita bisa letemu dan pasti dilayani (soal berapa lama tergantung situasi). Sambil menata nafas, saya menunggu di sambil nglesot di karpet. Dan begitu Gus Dur selesai segera saya hampiri dan menyapa beliau)

"Assalamu"alaikum, Gus.." Sapa saya sambil bersalaman dan mencium tangan beliau.

"Salam, wah pagi-pagi sudah nongol. Piye, waras Kang?" Kata GD seperti biasa.

"Inggih Gus, Alhamdulillah.. Ini rebat cekap saja Gus." Kata saya (rebut cukup, artinya cepat-cepatan saja).

"Lha ada apa kok cepet-cepatan?"

"Ini ada soal sangat mendesak yg saya mau tanya, masalah gegeran di Sampang, Gus..."

"Oh, itu. Halah, kirain ada apa. Ya memang penting tetapi kan tidak usah buru-buru. Memangnya sampeyan mau ke Sampang apa gimana? Hehehe..." Tanya beliau sambil tertawa."Bukan gitu, Gus, ini cepet-2an supaya saya bisa mendapat pemahaman yang lebih baik. Kan panjenengan yang paling pengalaman kalau urusan yang repot-repot di internal nahdliyyin, khususnya di Jatim.." Jawab saya

"Ah, sampean bisa saja. Kan ada banyak orang tokoh Jatim di PBNU atau yang di luar PBNU. Apalagi saya kan sudah lama tidak ke sana, hahaha..." Kami berdua tertawa tergelak dengan kalimat terakhir itu.

"Iya lah Gus, tetapi sekali lagi saya masih ingin dengar pandangan njenengan. Ini bisa jadi seperti pengalaman ketika kaum nahdliyyin direpotkan oleh tragedi pembunuhan para Kyai di daerah Tapal Kuda; Banyuwangi, Jember, Situbondo sebelum Reformasi dulu. Lagi pula Sampang kan bukan sekali ini menjadi fokus perhatian nasional karena konflik..""Kapan sampean terakhir ke Sampang, Kang?" Tanya GD

"Sudah lama, Gus, kayaknya bersama njenengan waktu di PKB dulu. Saya ingat tengah malam mobil njenengan diarak masuk lapangan di tengah ribuan nahdliyyin dan pendukung PKB. Kita pulang sampai Surabaya sudah jam 3 pagi."

"Masak setelah itu belum ke sana lagi?" Desak GD

"Seingat saya belum, Gus. Kalau toh ke Madura mungkin cuma sampai Bangkalan saja. Memangnya kenapa Gus?" Saya balik tanya.

"Karena saya pengen tahu bagaimana perkembangan kondisi masyarakat Sampang sekarang. Kan tentunya ada pengaruh perubahan sosial dan politik serta ekonomi lokal sehingga konflik itu menjadi perhatian nasional dan, bahkan, sekarang meng-internasional karena dipantau oleh pegiat HAM internasional." Terang GD

"Ingggih Gus, nuwun sewu saya belum ke Sampang lagi. Jadi kasus yang bermula dari konflik keluarga sebuah Ponpes di Sampang kini jadi perhatian internasional ya Gus?""Ya, makanya tidak bisa masalah konflik yang membawa korban jiwa dan harta serta membuat orang mengungsi besar-2an lalu direduksi menjadi urusan keluarga saja..""Tapi para pejabat, bahkan termasuk Pak Mahfud MD juga bilang gitu Gus, selain Menteri Agama dan Mendagri..""Ya para pejabat kan biasanya tidak mau repot. Kalau sudah mengatakan itu lalu dianggap masyarakat akan percaya dan masalah lalu hilang. Dulu ketika tragedi Banyuwangi, Jember, dan Situbondo malah lebih parah. Masak pembunuhan para Kyai disebut sebagai ulah orang-orang kurang waras dan bahkan pembunuhan terhadap para bromocorah. Apa gak gila namanya kalau para Kyai disebut seperti  itu? Padahal setelah kita seldiki ada indikasi bahwa peristiwa tersebut dirancang dan dieksekusi secara sistematis." Kata GD menjelaskan.

"Sayangnya sampai sekarang kasus itu pun masih samar-samar juga bagi publik, Gus." Keluh saya

"Karena memang Pemerintah dan masyarakat kita mudah lupa atau melupakan tragedi-2 seperti itu. Bisa juga karena tidak mau belajar dari sejarah. Padahal temuan TPF yg diketuai Cak Anam waktu itu sangat valid. Siapa otaknya, pelakunya, korbannya, kronologinya, semuanya lengkap. Tapi ya itu, semua seolah dilupakan demi kepentingan politik.." GD agak keras suaranya. (Cak Anam adlh Drs. Choirul Anam, mantan Ketua DPW PKB Jatim dan skrg Ketum DPP PKNU, red.)"Kalau soal Sampang ini apakah juga sistematis Gus?"

"Itu yang mestinya dikaji oleh PBNU. Petinggi PBNU harus cawe-cawe dan proaktif, jangan cuma ikut-ikutan apa kata Pemerintah atau kelompok-kelompk kepentingan lain. Madura kan basis NU dan suka atau tidak, cepat atau lambat, NU sebagai organisasi akan menjadi sorotan publik nasional dan internasional. Gimana kita tahu kasus Sampang itu rekayasa sistematis atau tidak, kalau tidak ada penyelidikan  yang komprehensif. Dan yg paling paham soal kaum nahdliyyin mestinya kan PBNU dengan seluruh jajaran di bawahnya." Terang GD.

"Kendati kita belum tahu soal sistematis atau tidak, tapi menurut njenengan itu kan tidak sekedar urusan keluarga atau kriminalitas murni, kan Gus?"

"Yang bilang kriminal murni dan urusan keluarga itu orang-orang yang belum paham saja Kang. Sudah jelas ada presedennya dan fakta bhw konflik itu melibatkan ribuan orang serta perusakan harta benda, kan tidak mungkin sesederhana itu. Apalagi ada elemen paham keagamaan, yaitu Syi'ah versus Aswaja, yang terkait. Memangnya berapa banyak urusan kriminal murni dan pertikaian keluarga di kampung kecil lalu jadi perhatian nasional dan bahkan di PBB?" Jawab GD."Lho, Gus, tapi kan memang asal-usulnya itu soal pertengkaran Tajul Muluk dan Rois yg bersaudara itu...."

"Ah sampean kayak ndak ngerti soal konflik sosial saja. Konflik keluarga itu hanya pemicu atau trigger untuk sebuah ledakan peristiwa. Tetapi trigger tidak sama dengan inti masalah terjadinya konflik yang berdampak besar seperti di Sampang itu. Pasti ada permasalahan yg lebih besar dan menyangkut politik, ekonomi, dan sosial termasuk konflik pemahaman agama yg semuanya berkait berkelindan. Agama sangat sensitif bagi orang Madura. Apalagi kalau melibatkan NU.. Sampean tahu sendiri, joke bhw bagi orang Madura NU itu "agama." Bukan cuma ormas, hehehe..."

"Hehehe.. injih Gus, karena saking kuatnya ikatan Ulama dan masyarakat di Madura dan hampir semua Ulama di sana NU..."

"Makanya, mau tak mau PBNU harus aktif menyelidiki termasuk bagaimana menyikapi para Ulamanya sendiri yang di Jatim, termasuk MUI Jatim juga, karena biasanya akan berseliweran fatwa-fatwa yang bukannya menenteramkan masyarakat dan kaum nahdliyyin tetapi malah bikin kekisruhan!" Kata GD melanjutkan.

"Benar Gus, MUI Jatim tampaknya membuat fatwa tentang Syi'ah. Kalau saya tdk salah, Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Jatim Achmad Zein Alkaf mengatakan Syi'ah tidak layak di Indonesia dan sesat. Padahal dia itu juga tokoh  NU juga, Gus..""Memang orang NU kan ada yang anti Syi'ah. Saya sih tidak heran, sudah tahu saya siapa beliau.." Potong GD."Dan itulah yang makin membuat masalah menjadi out of control. Kenapa harus menyalah-nyalahkan dan menyesat-nyesatkan pemahaman Islam yang lain utk konsumsi publik yang belum tentu mampu memaknai dengan baik. Mbah Hasyim Asy'ari, Roisul Akbar NU, dulu menjelaskan mengenai Aswaja ala nahdliyyah dan memeringatkan agar menjauhi faham Syi'ah. Tetapi beliau tdk mengatakan sebagai paham sesat. Yang ditolak beliau adalah ekstremisme faham Syi'ah mengenai para sahabat Nabi selain Sayyidina Ali KW. Kan Syi'ah memang sangat kritis terhadap Sayyidina Abu Bakar, Umar apalagi Utsman, dan juga Siti Aisah RA. Itu yang tidak sesuai dengan Aswaja NU yg selalu berprinsip tasamuh, tawazun, tawasuth, dan 'adalah. Faham atau firqah dalam Islam banyak tetapi kita tidak berhak mengatakan Syi'ah sebagai sesat?" GD melanjutkan penjelasan beliau.

"Ya Gus, malah njenengan pernah membuat statemen bahwa NU itu Syiah minus Imamah.. Juga bahwa ritual nahdliyyin sangat mirip dengan Syi"ah dlam kaitan dengan kecintaan terhadap para Ahlul Bait.." Saya memotong beliau."Lha memang sejarah masuknya Islam ke Indonesia itu kan dari macam-macam pintu, sehingga ada yang pengaruh Syi'ahnya juga kuat. Lha di Ponpes Salafiah NU juga yang dibaca kitab-kitabnya ada banyak yang juga dibaca oleh kaum Syi'ah. Kalau kita pujian sambil menunggu Imam memimpin jama'ah sholat di Masjid, kita sering mengucapkan pujian kepada para Ahlul Bait, seperti 'lii khomsatin uthfi' biha, likhomsatin uthfi' biha..' Lha itu pujian untuk menghormati Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah saw, kan?. Demikian juga tradisi Islam di beberapa daerah seperti Aceh, Maluku, bahkan di Jawa sendiri, banyak yang merupakan pengaruh ajaran dan tradisi Syi'ah. Walhasil, kalau ada fatwa Syi'ah sesat, lalu bagaimana dengan para Ulama NU dan kaum nahdlliyyin sendiri yang seumur-umur menjalankan ritual ala Syi'ah? belum lagi kalau kita bicara tasawuf. Mestinya Kang Said Agil Siradj jangan diam saja terhadap fatwa seperti itu. Kan dia ahli dalam bidang tasawuf dan Syi'ah."

"Atau mungkin Gus Agil khawatir dituduh Syi'ah seperti dulu yang sempat rame it Gus. Kasihan.." Kata saya membela Ketum PBNU.

"Ah, gombal sampean. Saya malah pernah dituduh Kafir, tapi tetap jalan terus Kang. Namanya perjuangan kok. Kanjeng Nabi saja pernah dituduh kena tenung atau santet dan dianggap gila oleh kaum Kafir Quraisy. Na'udzubillah min dzalik!""Kan tidak sama Gus, kekuatan mental njenengan dengan orang lain. Walaupun sama-2 Gusnya, tapi njenengan kan sudah putus urat takutnya, hehehe..."

"Ya memang orang itu beda-beda, tetapi kan bisa mengajak yang lain agar bersama-sama melindungi NU dari gempuran baik dari dalam maupun luar. Dari dulu NU adlh salah satu benteng keindonesiaan dan NKRI. Beberapa pendiri Republik adlh NU, seperti Roisul Akbar NU, Hadlratus Syekh Hasyim Asy'ari dan KH Wahid Hasyim. Makanya peran NU adlh ikut menjaga keutuhan dan soliditas bangsa. Dalam masyarakat pluralis, ya tidak elok kalau NU malah ikut ngipas-ngipasi perbedaan paham dan membawa perpevahan. Kalaupun NU punya pandangan teologis berbeda dg Syi'ah, Wahabi, Ahmadiyah dll, itu hal yang normal. Lha wong sesama NU saja ada yg beda pandangan fiqihnya, sesama Aswaja ada yg seperti Wahabi ada yg seperti NU kok. Tidak bisa orang menuntut semua orang Islam berpandangan persis sama. Kalau itu maunya, biasanya dengan memaksakan kehendak dan kekerasan. Yang penting dakwah NU harus terus dan menggunakan etika yg diajarkan Rasulullah sehingga tdk menciptakan gegeran yg mengganggu kehidupan berbangsa."

"Injih Gus. Jadi soal Sampang ini bagaimana intinya?"

"Intinya ya bahwa itu soal yg kompleks dan tidak bisa direduksi menjadi urusan remeh-temeh seperti kriminal murni dan urusan keluarga thok. Bahwa elemen-2 itu ada ya memang, tapi bukan inti masalah. Makanya harus diperjelas dengan penyelidikan yg tuntas sehigga tidak pating blasur dan cuma menjadi alasan utk menghindar dari bekerja. Pemerintah harus fokus dan memprioritaskan penegakan hukum agar tidak terjadi kekerasan yg berlarut-2 sehingga ada korban atau perusakan dan pengusiran orang dari tempat tinggal mereka. Masyarakat sipil mesti kerjasama, terutama ormas keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, Persis dll. Ini masa transisi yg sangat rentan dengan fitnah, bukan saja tingkat lokal, tetapi juga nasional dan global." Tutur GD panjang lebar.

"Maturnuwun Gus, walaupun njenengan tidak memberi kata putus tetapi arah solusinya jelas."

"Ya memang lain Kang, kalau saya di Indonesia kan bisa mencari informasi lebih banyak dan turun ke lapangan sendiri. Jadi bisa lebih langsung. kalau perlu malah memberi inisial siapa-siapa yg menjadi otaknya, hehehe....""Hehehe... Itu yg sekarang tidak ada di Indonesia Gus, orang yg berani memberi inisial... Walaupun sering kontroversial, tapi bikin orang jadi penasaran dan melakukan pencarian... Injih Gus, saya pamit dulu. Mau ngantor.. Assalamu'alaikum, Gus." Kata saya sambil bersalaman dan mencium tangan beliau.

"Salam, Kang.."

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS