Thursday, September 27, 2012

WAWANCARA IMAJINER DENGAN GUS DUR (17): MEMPERINGATI 1000 HARI WAFATNYA ALMAGHFURLAH


Oleh Muhammad AS Hikam

(Ruangan tempat GD istirahat kosong saat saya datang. Hanya samar-samar suara gemericik air terdengar dari arah jendela yg terbuka, dan kebetulan tepat menghadap sungai yang airnya mengalir deras. Saya pun pergi ke taman di seberang rumah, mencari di mana beliau berada. Dan benar saja, GD sedang duduk di bangku taman, menikmati sepoi angin sore dan semerbak harum kembang. Berbaju koko putih dan kopiah warna yg sama, beliau tampak segar seperti biasa)

"Assalamu'alaikum, Gus.." Saya mengucapkan salam dari jauh sabil berjalan mendekat

"Salam, Kang... waras tah sampean?" Jawab beliau sambil berdiri. Saya segera menyalami dan mencium tangan beliau.

"Alhamdulillah, Gus. Tadi saya cari di ruangan kok sepi..."

"Ya Kang, habis mengantar tamu yang barusan pergi tadi.." Kata GD

"Siapa, Gus, kok tumben?" Tanya saya, heran.

"Ah, biasa Kang, tamu sering datang. Sampean saja yang jarang ke sini...hehehe..""Inggih Gus, lagi banyak urusan duniawi, hehehe... Tapi siapa tadi tamunya kok sampai diantar segala?" desak saya.

"Itu tadi Kyai Faqih Langitan yg mampir, makanya saya nganter sebentar keluar..""Wah.. telat saya Gus.. Tahu gitu kan rada pagian supaya bisa ikut tabarrukan*) sama Yai Faqih juga.." Saya agak terkejut juga dg informasi itu.

"Lha kan  gampang, sampean mampir saja nanti ke tempat beliaunya..." Jawab GD sambil duduk di bangku taman kembali dan saya pun ikut duduk di sebelah beliau.

"Nanti saja Gus kalau ada kesempatan dan beliau kerso disowani..."**)

"Masak sih sowan ditolak. Lagipula sampean kan kenal dekat dengan Kyai Faqih, sesama wong Tuban aja lho.."

"Hehehe... inggih, Gus, satu saat saya akan wawancara beliau juga, buat selingan..." Jawab saya.

"Ada kabar apa yang menarik, Kang, dari negeri kita?" Tanya GD setelah meneguk minuman yang  tersedia di meja

"Pertama, tentu ikut mangayubagyo 1000 hari wafatnya njenengan, Gus. Seluruh Indonesia ikut berdoa buat njenengan. Di Ciganjur ada pentas wayang dg dhalang Ki Enthus, yangnjenengan sukai..." Kata saya

"Hehehe... opo lakone,***) Kang..""Katanya  lakon 'Gugurnya Kumbokarno,' Gus... Salah satu lakon kegemaran njenengan, kan?"

"Oh iya, itu lakon bagus. Perlambang sikap patriotisme dan kesetiaan, sekaligus kritik terhadap penguasa..." Jelas GD

"Inggih, Gus, sayang saya gak ikut nonton. Malam ini ada sholawatan bersama Habib Syekh dari Solo, Gus. Pasti meriah banget..""Ya alhamdulillah, gabungan antara budaya Jawa dan Islam, antara doa dan pendidikan budaya politik. Semoga bisa terus dipelihara, nguri-uri tradisi baik yg datang dari luar maupun dari tanh air sendiri yg memang baik bagi bangsa..." Kata GD

"Ya, Gus. Oh iya, itu pasangan Jokowi dan Ahok akhirnya menang di Pemilukada DKI, Gus. Sebuah kemenangan yang fenomenal, walaupun di putaran pertama pasangan ini juga unggul melawan Foke.""Saya tahu itu si Ahok, dulu juga saya dukung ketika nyalon di Belitung.." Kata GD

"Dan dukungan njenengan itu juga sering dia singgung dalam wacana publik, hahaha..." Saya memotong ucapan beliau

"Tapi yang penting bukan itu. Rakyat Jakarta memang mau berubah. Pendekatan teknokratik dan birokratik ternyata tidak bisa menciptakan terobosan yang mampu menjawab tantangan zaman.""Tapi , Gus, yang menarik adalah mencuatnya isu SARA dalam kampanye di DKI. Banyak pihak yang sempat khawatir, termasuk saya, kalau paska Pemilukada akan ribut.."

"Isu SARA gak bakalan mempan, Kang di Jakarta. Yang repot itu kalau ada yang main kekerasan. Kalau cuma menyebarkan isu agama atau etnis saya kira kokq tidak begitu ampuh karena penduduk Jakarta kan memang kosmopolit. Paling-paling yang masih bisa dipengaruhi dg sentimen agama dan etnik cuma sedikit."

"Benar Gus, tampaknya begitu. Hanya karena media memang luar biasa ekspose nya terhadap isu SARA itu jadi kesannya jadi sangat menegangkan.""Isu agama selalu begitu dan paling mudah untuk dimanfaatkan untuk komoditas politik. Jangankan di Indonesia, sampean tahu sendiri di Amerika yang sekuler saja isu agama juga jadi komoditas kampanye Pilpres sekarang. Itu Romney yang penganut Mormon kan repot meyakinkan pendukung partai Republik yang berasal  dari kelompok fundamentalis Kristen. Dulu juga Obama difitnah dengan isu bahwa dia sebenarnya beragama Islam, hanya karena bapak tirinya orang Indonesia dan ia pernah sekolah di Jakarta. Padahal Obama sekolah Katoliknya lebih lama ketimbang sekolah negeri." GD menjelaskan.

"Saya pernah ngobrol dengan seorang pendeta Kristen asal Indonesia di Washington, DC, Gus. Beliau juga cerita bahwa banyak gereja-gereja Kristen di AS lebih konservatif daripada yang di Indonesia. Apalagi di negara-negara bagian seperti Virginia Barat atau daerah Selatan." Saya menyela.

"Memang, orang di luar AS kan hanya melihat sisi makronya saja, padahal kalau masuk ke daerah-daerah yang jauh dari kota-kota besar, kita akan saksikan juga bagaimana persoalan agama di sana juga masih belum banyak berubah. Repotnya, karena politisi memerlukan dukungan suara yang banyak, dan suara itu dari daerah-daerah maka kelompok-kelompok kepentingan pun menggunakan isu agama. Karena informasi dan ekspose tentang Islam masih terbatas serta kebanyakan yang serem-seremnya saja, maka Islam pun dianggap sebagai sesuatu yang mengerikan. Padahal kenyataaannya pemeluk Islam makin bertambah banyak jumlahnya dan mereka juga sama-sama warganegara AS yang punya loyalitas dan patriotisme yang kuat."

"Apakah Indonesia akan seperti di AS, Gus, negara yang sudah begitu kuat tradisi demokrasinya tetapi juga masih punya masalah-masalah primordial seperti hubungan lintas-agama, ras, dan warna kulit?"

"Masalah primordial akan selalu ada dan sewaktu-waktu, khususnya saat krisis ekonomi, muncul. Bedanya kalau di AS, negara dan aparatnya sangat serius melakukan respon jika terjadi pelanggaran hukum dan gangguan publik. Itu sebabnya aksi-aksi kekerasan yang menggunakan dalih agama atau ras cepat diatasi, apalagi kalau kemudian dianggap mengancam keamanan nasional. Di negara kita, aturannya sebenarnya juga begitu, hanya ketika para pelaksananya yg di lapangan menghadapi perlawanan kadang-kadang pihak yang di atas tidak tegas, karena ada kepentingan politik. Akhirnya ya pelaksana di bawah sering kagok atau malah ogah-ogahan. Dan ini dimanfaatkan oleh para pendukung kekerasan untuk terus melakukan aksi.."

"Apa masalahnya soal penegakan hukum Gus?"

"Lho kalau aturan sudah ada, kan urusannya tinggal mau melaksanakan atau tidak toh, Kang. Karena pemimpin kurang tegas, ragu-ragu, atau mungkin ingin menyenangkan banyak pihak, kadang-2 bisa mengorbankan yang prinsip. Saya dulu sering mengutip kata-kata Presiden AS, Harry S Truman yg terkenal, "the buck stops here," yg berarti keputusan harus diambil. Kalau tidak diambil cepat dan tegas, bagaimana kerusuhan di Ambon tahun 2000 bisa diakhiri dg segera, demikian juga gerakan separatis di Papua, dll. Soal kekerasan berbasis primordial pun memerlukan keputusan tegas, kalau ada oras atau indiviodu yang ngotot mengumbar kekerasan dan menimbulkan korban ya harus ditangkap, diadili dan dihukum..."

"Tapi kan itu kalau sudah meledak, Gus, sementara akar masalahnya..." Saya menyela.

"Akar masalah harus diselesakikan  juga, tetapi kan ada prioritas. Akar masalah kan ada soal penafsiran ajaran, ideologi, kepentingan politik dll ya mesti diselesaikan secara tuntas. Namun hal itu bukan semuanya urusan Pemerintah.  Misalnya ormas keagamaan seperti NU kan punya tugas dakwah, lembaga pendidikan punya tugas mendidik multikulturalisme, parpol punya tugas memberikan pendidikan politik kebangsaan, dll. Yang bagian kerjaan negara, seperti contoh di AS tadi, ya ngurusi yang strategis dan bersifat segera atau imminent. Khususnya penegakan hukum tidak bisa ditunda-tunda kalau memang makin sering terjadi kekerasan dan korban berjatuhan. Mau nunggu rakyatnya ngamuk..?"

"Wah malah gak keruan nanti Gus kalau rakyat main hakim sendiri.." Kata saya

"Lha makanya, kan rakyat juga manusia yang punya batas kesabaran. Kalau Pemerintah yang diharapkan melindungi malah sak karepe dhewe, ya mereka akan ambil jalan sendiri. Dan hasilnya lebih banyak madharat daripada manfaatnya. Karena rakyat itu kan tidak dilatih atau dilengkapi keahlian untuk melakukan tindakan seperti itu.." Jawab GD

"Kayaknya sudah malam ini Gus, pamit dulu ya siapa tahu masih sempat lihat sholawatan Habib Syekh di Ciganjur.." Kata saya sambil berdiri dan berslaman

"Iya Kang, salam saya saja kepada semua dan terimakasih masih mengingat saya. Yang penting bukan perayaannya tetapi perjuangan untuk Indonesia diteruskan dan dikembangkan.." Kata GD sambil berjalan menuju rumah

"Insya Allah akan saya sampaikan... Assalamu'alaikum, Gus.."

"Salam..."
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS