Saturday, December 29, 2012

WAWANCARA IMAJINER DENGAN GUS DUR (19): TUTUP TAHUN 2012 DAN HAUL KE 3

(Agak malam saya datang ke peristirahatan Gus Dur, namun ruang masih terang benderang. Sayup terdengar suara tadarrus Qur'an dari balik ruang. Saya kira GD sudah istirahat sehingga saya agak ragu utk masuk. Tapi justru beliau yang keluar terlebih dahulu membuak pintu).

     

 Oleh Muhammad AS Hikam

"Assalamu'alaikum, Gus."

"Salam,  Kang.. Piye, waras?..." Jawab khas GD. Saya segera menyalami dan mencium tangan beliau.

"Wah, lampunya tumben terang benderang, Gus?" Saya bertanya sambil tengok kanan dan kiri. Ruangan seperti baru saja dipergunakan  untuk menyambut tamu

"Ayo masuk saja, ini tadi baru saja ada tamu-tamu yang datang."

"Wah, ketinggalan dong saya. Siapa saja Gus..." Tanya saya

"Hehehe.. biasa, para masyayikh Ulama-ulama. Tadi ada mbah Faqih, ada mbah Bisri Syansuri, ada Kyai Ahmad Siddiq.." Jawab GD sumringah.

"Pertemuan rutin bahtsul masail apa Gus, hehehe...." Canda saya

"Hehehe.. gak juga, sudah lama janjian mau ke tempat saya. Kan seringnya saya yang sowan ke tempat beliau-2."

"Ya Gus, Insya Allah suatu saat saya ingin sowan juga ke beliau-beliau. Oh ya Gus, saya mau mohon izin.." Kata saya setelah duduk bersila di karpet

"Izin apa wong saya tidak punya wewenang apa-apa kok..."

"Lho, kan besuk tgl 30 Desember saya mau mengadakan peringatan Haul ke 3 njenengan, Gus. Seperti tahun lalu juga, sederhana saja.."

"Oh, ya monggo saja Kang. Siapa yang sampean undang hadir?" Kata beliau sambil leyeh-leyeh.

"The usual suspects aja Gus. Kan tidak seperti di Ciganjur, apalgi di Tebuireng yg kolosal kalau membuat acara Haul njenengan, hehehe.. Tapi yg jelas tahun ini yang bicara adalah Mas Arifin Junaidi, Gus. Tahun lalu kan Pak As'ad dan Pak Anand Krishna..." Jawab saya.

"Yo wis apik, Kang. Walupun saya tdk hadir secara fisik tapi Insya Allah saya doakan lancar-lancar saja. Temanya apa?" Tanya GD.

"Soal pengalaman hidup dan berjuang bersama njenengan, Gus. Saya kira Mas Arifin adlh salah seorang yg paling representatif untuk bicara tema ini." Jawab saya.

"Jelas, Kang. Arifin kan tahu betul susahnya mengikuti saya." Jawab GD.

" Dan enaknya juga, toh Gus?"

"Kalau untuk Arifin sengsaranya yang jauh lebih banyak, tanya saja nanti hehehehe..." Beliau tertawa."Makanya Gus, Haul tahun ini juga untuk refleksi perjuangan njenengan yang banyak sengsaranya itu. Kan yang tidak tahu cuma lihat bagian enaknya saja.."

"Biasa Kang yg begitu itu. Kan memang manusia cenderung melupakan atau malah merepressi ingatan-2 yang kurang nyaman, walaupun resikonya sering menjadi sindroma ingatan pendek. Dan Haul itu sebenarnya kan agar kita melakukan perenungan perjalanan dan perjuangan hidup agar kita belajar darinya. Ada bagian enak juga tidak enak dan lain-lain" Sambung GD.

"Kalau Filsuf Eric Voegelin mengistilahkannya dengan sebutan 'anamnesis', Gus." Kata saya menimpali

"Persis, seperti dokter kalau memeriksa pasien biasanya kan melakukan anamnesis itu. Supaya diagnosanya komprehensif karena tahu riwayat si pasien."

"Dan salah satu yang saat ini sangat penting untuk proses anamnesis sejarah bangsa adalah perjuangan melawan intoleransi dan kekerasan atas nama agama yang njenengan lakukan dulu. Soalnya masalah ini semakin mengemuka, Gus, sehingga banyak anak bangsa yang mulai merasa patah arang dengan kehidupan berbangsa kita."

"Sebuah harga yang mesti dibayar dalam membangun bangsa yg plural dan kompleks seperti Indonesia Kang. Jangankan Indonesia, Amerika Serikat pun sampai kini masih menghadapi tantangan yg berasal dari pluralitas itu." Terang GD.

"Benar Gus, kadang orang yang anti demokrasi menggunakan argumen bahwa di AS pun masih banyak pandangan dan praktik diskriminatif, padahal sudah berdemokrasi ratusan tahun."

"Karena orang seperti itu hanya melihat secara sepihak dan memilih apa yang cocok dengan keinginannya. Coba kalau mereka bicara komprehensif dengan dan kepala dingin, tentu beda. Di AS memang masih banyak masalah seperti itu, namun selalu diiringi dengan usaha keras dari pemimpinnya untuk mengembalikan ke jalan Konstitusi. Dan perlu diingat bahwa demokrasi bukan hal yg  sekali diumumkan lalu beres selamanya. Paradoks demokrasi adalah ia juga terbuka terhadap berbagai masalah dan dinamika. Demokrasi itu kan sistem yang 'open-ended', sehingga pelakunya pun tidak bisa enak-enakan dan tanpa kewaspadaan." GD menjelaskan cukup panjang.

"Termasuk dalam soal kekerasan dg agama, Gus. Laporan terakhir dari The Wahid Institute (TWI) tentang kekerasan agama sangat mengkhawatirkan. Jumlah kekerasan bukan saja naik, tetapi pelakunya justru termasuk organisasi yang dianggap wahana pemersatu ummat Islam, yakni MUI, Gus."

"Saya tidak heran Kang, kan sudah saya tulis masalah terkait MUI itu. Itu kan lembaga yang sebenarnya bukan Negara, tetapi dulu dibentuk rezim Orba dalam rangka kontrol terhadap ormas-ormas agama. Boleh-boleh saja dibuat lembaga seperti itu, namun perlu juga selalu dijaga jangan sampai menganggap dirinya punya otoritas seperti negara. Apalagi ormas-2 seperti NU dan Muhammadiyah tidak berada di bawah kekuasaan MUI...." Lanjut GD.

"Tapi fatwa dan rekomendasi MUI sering dipakai Pemerintah sampai sekarang, Gus. Bahkan sampai di level terbawah juga...." Saya memotong.

"Itu yang mestinya diluruskan oleh masyarakat khususnya petinggi-2 ormas agama Islam. Bukan malah dibiarkan karena tokoh-2nya masuk ke sana dan mendapat manfaat pribadi dan kelompok dalam jangka. Saya tidak anti MUI, tetapi tidak setuju saja jika fatwa-2 MUI menganggap dan dianggap sebagai satu-2nya sumber hukum positif ummat Islam. Pemerintah kan mau mudahnya saja, tetapi rakyatnya kan menolak walaupun tidak terbuka."

"Misalnya apa Gus?"

"Ya misalnya fatwa Natal, fatwa mengharamkan rokok, dll. MUI bisa saja mengeluarkan fatwa mengharamkan ucapan selamat Natal. Tetapi yang ikut fatwa itu siapa? Malah Pemerintah yg suka mengggunakan fatwa MUI juga masih Natalan bersama, hehehe...." Jawab GD sambil tertawa.

"Faktanya kan MUI sangat keras terhadap Ahmadiyah terhadap Syiah, seperti MUI Jatim yang memfatwakan Syi'ah sebagai paham sesat, Gus?"

"Ya harus ada yang konsisten menolak dengan tegas fatwa-2 seperti itu, tapi tidak perlu marah-marah atau memakai kekerasan. Kehidupan berbangsa dan bernegara kita kan ada landasan Konstitusinya. Kalau fatwa-2 itu kemudian bisa berdampak negatif terhadap kehidupan berbangsa, bagaimana? Publik harus tahu yg namanya fatwa kan tidak mengikat seperti hukum posistif, Baru setelah dijadikan aturan resmi oleh pihak yg berwenang dlm bentuk perundang-undangan, ia bisa mengikat. Lha apa bedanya dengan fatwa-2 Ulama NU atau Majelis Tarjih Muhammadiyah? Rakyat dan ummat Islam harus diberi pendidikan dan pencerahan supaya tidak mudah dimanipulasi dan diombang-ambingkan." Jelas GD panjang-lebar.

"Gus, apakah njenengan sepakat dengan argumen TWI  bahwa kekerasan yg dilakukan MUI berwujud fatwa-2 yang keras seperti thd pengikut Ahmadiyah dan Syi'ah itu?"

"Kan kekerasan itu tidak harus fisik. Kalau sampean dihina dan dianggap sesat secara sepihak, artinya sampean juga mengalami kekerasan psikologis, stigma dan degradasi sebagai manusia? Malah sering, kekerasan yg tidak fisik seperti paham rasisme jauh lebih berbahaya dari pada sekedar kriminalitas fisik biasa. Jadi fatwa-2 yang memberikan stigma dan mengakibatkan tindakan tidak adil mestinya bisa dianggap kekerasan juga toh Kang?" Terang GD.

"Tapi sepertinya sedikit pihak yang sepakat dg TWI , Gus. Yang banyak, bahkan dari kalangan nahdliyyin sendiri, akan menganggap argumen TWI itu disponsori pihak anti Islam.." Keluh saya.

"Hehehe... itu kan sudah jelas, dan TWI juga sadar. Kalau saya dulu hanya repot dengan soal disukai atai dibenci, maka tidak akan ada perjuangan. Makanya saya sering bilang 'gitu aja kok repot', itu dalam semangat siap mengadapi resiko. Lha wong tdak disukai saja kok pusing... Yang membela kebenaran biasanya malah tidak disukai. Nabi saja dalam perjuangan juga difitnah dan diperangi kok. Apalagi cuma saya atau TWI..."

"Sikap njenengan itu yg membuat saya ikut semangat, walaupun kalau dibanding dg resiko njenengan jauhnya ibarat bainas sama' was sumur, Gus, hehehe.."

"Jangan khawatir, Kang. TWI dan para pejuang HAM lain juga akan mendapat dukungan mayoritas rakyat yg diam. Saya selalu optimis, bahwa kalau rakyat tidak mendukung para pemimpin dan pejuang, ndak mungkin ada Indonesia. Bahwa ada juga pihak yg marah, benci, tersinggung, dll. itu pasti. Namanya juga hidup di dunia. Kalau sudah di tempat saya sekarang, adanya cuma senang terus...hehehehe..." Jawab GD santai.

"Inggih Gus, ini sekalian menyambut Tahun Baru 2013. Ada pesan buat para Gusdurians di dunia maya, Gus?"

"Tetap berjuang terus dengan jujur dan konsisten. Indonesia masih mengalami pancaroba, sehingga masih akan banyak persoalan yg menghadang di tahun mendatang. Tapi Insya Allah dengan keteguhan dan kejujuran, pelan tapi pasti, semua rintangan bisa diewati. Indonesia akan menjadi negara-bangsa yang besar seperti diamanatkan oleh para pendiri."

"Maturnuwun Gus. Sudah larut malam, saya pamit dulu. Assalamu"alaikum, Gus.." Saya pun menyalami beliau.

"Salam Kang, jangan lupa salam saya buat mbakyu dan anak sampean."

"Insya Allah, Gus..."

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS