Friday, March 15, 2013

AS HIKAM: APA PERLU INDONESIA IMPOR PEMIMPIN?


Editor: | Jumat, 15 Maret 2013 18:58 WIB

Apa Perlu Indonesia Impor Pemimpin? - Testimoni Malam Anugerah "The Right Man on The Right Place" - "The Right Man on The Right Place""The Right Man on The Right Place"(Foto: LICOM)

LENSAINDONESIA.COM: Indonesia tampaknya sudah dalam keadaan ‘darurat kepemimpinan.’ Yang dimaksud, bukan hanya di tataran nasional atau politik saja, tetapi di semua tataran dan bidang. Saking daruratnya, perlu ada terobosan pemikiran yang radikal dan ‘out of the box’. Misalnya, apakah bisa dilakukan impor pemimpin dari bangsa asing.
Demikian disampaikan bekas Menristek era Gus Dur, kepada LICOM, Jumat (15/3/2013).
“Bisa juga kita impor pemimpin dari negeri jiran, bukan dari Barat atau Timur Tengah. Sebab, kalau kita cermati, masalah yang dihadapi bangsa dan negeri ini sejatinya tak besar-besar amat: soal harga cabe, harga bawang, pencurian ikan, dan sebagainya,” sambungnya.
Tetapi karena magnitudenya besar, maka jika diwujudkan dalam bentuk uang, maka triliunan besarnya kerugian yang ditimbulkan. Padahal konon ini republik para petani. Tapi nyaris semua komoditas pertanian impor atau tata niaganya ambur adul.
“Sementara, di negeri-negeri jiran, sektor pertanian sangat berkembang. Thailand, Malaysia, dan bahkan Vietnam adalah para pemain besar di bidang itu. Apakah bangsa Indonesia tidak punya kemampuan? Saya kira bukan itu soalnya. Tetapi karena kepemimpinan kita tidak visioner dan amanah serta transformatif,” imbuhnya.
Sedangkan di negara-negara jiran makin banyak dicetak para pemimpin yang mumpuni dan bermutu. Kenapa kita malu mengakui bahwa kita dalam keadaan darurat kepemimpinan? Ataukah kita mau menunggu sampai “sekarat” dulu? Kalau kita masih saja berharap dari sumber-sumber kepemimpinan resmi (DPR, Kementerian, Parpol, Universitas, LSM, dan lain-lain), maka percuma. Di lembaga-lembaga itu, bukannya pemimpin yang ada. Tetapi para pecundang yang berpura-pura bergaya seperti pemimpin. Tapi jika disuruh membuktikan visi, kejujuran, dan kemampuan melakukan perubahan, langsung ketahuan bahwa mereka tak mampu.
“Jadi, kalau sudah darurat, kenapa masih “mbulet” dan malu-malu? Bukankah dalam kaidah Ushul fiqh dinyatakan “ad-dlaruratu tubiihul mahdluraat” (kedaruratan itu menghalalkan tindakan luar biasa). Seperti misalnya, tadi itu. Mengimpor pemimpin dari negara jiran. Ini bukan soal nasionalisme, tapi kedaruratan nasional,” imbuhnya.
Hikam pun memberi apresiasi kepada Lensa Indonesia yang menggelar acara “The Right Man on The Right Place”. Acara ini yang digelar di Gedung Jakarta Media Centre, Kebon Sirih, Jakarta ini bukti Indonesia haus akan tokoh-tokoh berkualitas. Diharapkan, nama-nama yang terpilih dapat meng-influence dan menginspirasi bangsa Indonesia untuk bangkit. Bangsa ini masih punya sosok-sosok yang kredibel dan memunculkan keyakinan bahwa bangsa ini bisa bangkit dari keterpurukan.
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS