Saturday, March 23, 2013

WAWANCARA IMAJINER DENGAN GUS DUR (20): RUMOR KUDETA

(Udara pagi masih cukup dingin dan mentari pun belum sampai sepenggalah saat saya sowan. Gus Dur rupanya baru menyelesaikan sholat dhuha, ketika saya masuk ruangan. Kicau burung dan gemericik air terdengar sayup-sayup menerobos jendela menambah semarak suasana pagi.)

Oleh: Muhammad AS Hikam


"Assalamu'alaikum, Gus.." Ucap saya seraya menyalami dan mencium tangan beliau

"Salam, Kang.. piye, waras tah? Sudah agak lama baru nongol.." Jawab GD sambil duduk. Saya pun mengikuti.

"Alhamduliilah, Gus, maaf baru bisa sowan lagi, soalnya baru selesai urusan banjir di Jakarta, hehehe..."

"Lho emangnya daerah sampean kena banjir juga?" Tanya GD

"Kalau di kampung saya persis sih tidak, Gus. Cuma di sekelilingnya dan di jalan-jalan wilayah Ciputat, Pondok Indah, Fatmawati itu sering kena banjir atau pohon-pohon yg tumbang, lalu macet berat.." Terang saya

"Yah, semoga tidak makin parah saja, Kang, itulah akibat terlalu njomplangnya pembangunan. Peredaran uang dan pembangunan terkonsentasi di ibukota negara. Sementara kapasitas sebuah kota seperti Jakarta kan terbatas, karena memang tidak ideal untuk sebuah ibukota negara." Kata beliau menjelaskan.

"Kayaknya semua orang mengusulkan ibukota dipindah, Gus.."

"Dari zaman Pak Karno juga sudah ada ide itu, tapi masalahnya kan tidak sekadar pindah begitu saja. Harus ada pertimbangan dan perencanaan yang pas. Kalau saya, ibukota itu ya dipisahkan dari aktivitas bisnis dan industri. Lihat model Washington dan Canberra, atau di Putrajaya itu. Jakarta sejak dibangun zaman VOC campuraduk nggak karuan lalu diteruskan saja sampai sekarang. Jadinya ya ibarat desa raksasa saja, bukan sebuah ibukota negara yang benar-2 dirancang untuk pusat pemerintahan." GD menjelaskan panjang lebar.

"Setuju Gus. Ngomong-2 soal pemerintahan, Gus, sekarang ini muncul lagi isu akan ada kudeta. Tak kurang yang melontarkan malah Presiden sendiri.."

"Halah, Kang, sampean ini kagetan saja. Mbok ya sudah ndak usah repot-repot. Mana ada upaya kudeta segala rupa... Saya kira itu pemanasan politik menjelang Pemilu. Paling-2 juga perang urat saraf dari mereka yang anti SBY dengan melontarkan isu pemakzulan atau sejenisnya. Itu sih biasa.." Potong GD cepat.

"Tapi kan kita pernah mengalami hal itu, Gus?" Kilah saya.

"Kalau zaman kita dulu beda. Waktu itu kekuatan anti Reformasi sangat kuat, bahkan kelompok militer yang tidak happy dengan kebijakan politik dan ketatanegaraan saya kan juga menyusun kekuatan. Mereka bersama para politisi yang gerah dengan perubahan-perubahan mendasar dan cepat khawatir. Sementara parpol sangat terfragmentasi dan rakyat terlalu lemah paska Orba." Terang beliau.

"Dan mereka berhasil mengisolasi njenengan ya Gus, sehingga praktis sendirian."

"Ya karena saya juga tidak ingin ribut-ribut. Kekuasaan tidak harus dipertahankan dengan mengorbankan nyawa rakyat banyak. Kalau waktu itu saya mau, kan banyak juga yang siap mendukung habis-2an. Tapi buat apa, wong kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, tapi menambah persoalan. Negara kita sudah terlalu sering mengalami pertumpahan darah rakyat yg ndak perlu. Kita lihat saja apa yang terjadi setelah pemaksaan pemakzulan itu, apakah Reformasi menjadi lebih baik. Nyata kan enggak, toh?"

"Benar, Gus, reformasi kini semakin diragukan banyak pihak. DPR kehilangan kepercayaan, Pemerintah sangat lamban memecahkan masalah-2 strategis, korupsi marak, dan konflik serta kekrasan  sosial makin marak.." Kat saya menimpali"Belum lagi soal supremasi hukum, yang paling saya perhatikan, Kang. demokrasi tidak akan tegak tanpa supremasi hukum, Malah bisa saja namanya demokrasi tapi isinya anarki dan kesewenang-2an. Hukum malah dipakai untuk melegitimasi tindakan-2 yang berlawanan dengan keadilan." Sambung GD

"Seperti yang dialami oleh sahabat njenengan, Pak Anand Krishna. Beliau difitnah melalui tuduhan pelecehan seksual yg walaupun ternyata dibebaskan di Pengadilan Negeri tetapi oleh MA dicabut dan malah dihukum melalui kasasi. Padahal inti masalahnya ya karena beliau melakukan pembelaan hak asasi manusia, khusunya di bidang kebebasan beragama dan berkeyakinan, Gus.."

"Saya tahu itu Kang.. Pak Anand, alm. Romo Mangun, alm. Bu Gedong Oka, alm. Kang Muslim Abdurahman, mas Djohan Efendi dll itu kan satu citakan dan komplotan dengan saya dalam urusan pembelakan HAM dan kebebasan beragama. Makanya resikonya ya tidak jauh-jauh amat, hehehe..." Sambung beliau sambil tertawa.

"Injih Gus, tetapi saya sangat kasihan dengan Pak Anand, karena tuduhannya sangat mengerikan. Secara legal formal beliau dikenai dakwaan pelecehan seksual, tetapi yang disebarkan di masyarakat di Bali, beliau difitnah sebagai orang yg lebih berbahaya dari teroris, Gus. Sangat mengerikan, karena bagi masyarakat Bali terorisme kan bahaya dan ancaman paling top, tetapi Pak Anand lebih dari itu.." Kata saya agak meninggi..

"Lha apa urusannya dengan Bali segala?" Tanya GD

"Kan Pak Anand selama proses kasasi berjalan dan pembelaan itu tinggal di Ashramnya di Ubud, Gus. karena di Jakarta sudah tidak terlalu aman. Toh tetap saja beliau ditahan paksa oleh Kejaksaan.."

"Masya Allah, saya ikut prihatin Kang, tak mengira beliau mendapat cobaan separah itu. Ya semoga tabah saja dan kawan-kawan seperjuangan terus memback-up sedapat mungkin. Insya Allah yg namanya fitnah akan kalah pada akhirnya dan semua dibikin terang benderang.." Kata GD.

"Benar Gus, wong sebagian Hakim-hakim kasasinya sekarang ada yg ditahan atau diperiksa karena ternyata melakukan korupsi..""Nah, kan.. saya tidak percaya sedikitpun tuduhan yg ditimpak kepada Pak Anand, wong saya tahu persis siapa beliau dan kiprahnya. Ya memang ada pihak-2 yg gerah dengan kiprah beliau yang dianggap menyinggung agamanya dan kepentingan politiknya. Pak Anand kan orang yg kritis dan to the point. Sayang beliau tak punya organisasi massa atau ditopang parpol dll. Karena beliau itu kan intelektual dan pemikir. Bukan seperti kita-kita ini Kang yang bisa kemana-mana, hehehe..."

"Tapi beliau punya jejaring internasional, Gus yang saat ini sangat intensif membantu dan membela kasus bleiau agar diketahui dunia termasuk PBB, Mahkamah Internasional, dll..." Saya meneruskan.

"Baguslah kalau demikian, memang itu yg mesti dilakukan karena bagaimanapun fitnah yang keji itu harus dibongkar dan diketahui oleh seluruh dunia..."

"Jadi, Gus, urusan heboh kudeta itu gak perlu dibuat repot ya, hehehe..." Saya kembali menanya soal sebelumnya.

"Ya biarin saja elit penguasa heboh, kan rakyat juga mencatat. Itu kan berarti juga ada rasa kurang aman atau, bisa jadi, semacam rasa bersalah sehingga muncul pernyataan itu. Rakyat tidak tertarik dengan upaya-2 inkonstitusional juga, sehingga kalau ada upaya pemakzulan pun kalau memakai pemaksaan kehendak rasanya tidak akan berhasil. Rakyat Indonesia labih banyak yang diam karena mereka masih sangat sibuk dengan urusan dasar yg belum selesai, seperti kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesehatan, dsb. Orang-2 yg pada ribut dan rebutan kan para 'pelanggan' biasa di tingkat elit. Motifnya macam-2, ada yg karena motif luhur, tapi ada juga yg karena merasa tidak mungkin bisa berkuasa kalau harus lewat Pemilu. Ada  pula orang-2 yang pokoknya mau ribut-2 saja, dan tak kalah penting ada yang pesanan kekuatan asing supaya negeri kita lemah, dll. Pemerintah dan aparat keamanan harus sigap dan tegas menerapkan aturan. Ketimbang melontarkan pernyataan heboh dan mengundang spekulasi, lebih baik diselesaikan secara hukum dan ketegasan tindakan..." Terang GD.

"Injih Gus, memang intnya kan di situ, ketegasan. Kayaknya sudah ada konsensus publik soal klemahnya ketegasan itu Gus... Gak kayak njenengan dulu.."

"Ya setiap pemimpin kan punya pilihan dan gaya, dengan segala resikonya. Ada pemimpin yang berani dan mengambil resiko sebesar apapun, ada yang berani tetapi sangat hati-2, ada juga yang kompromi terus-terusan sampai tidak kelihatan kapan dan apa keputusannya...hahaha.."

"Hahahaha..... injih Gus, pamit dulu ya, nanti sowan lagi." Kata saya sambil menyalami dan cium tangan beliau.

"Iya kang, salam saya untuk Pak Anand Krshna dan teman-2, sabar saja dan terus berjuang, ya.."

"Insya Allah saya sampaikan, Gus.. Assalamu"alaikum.."

"Salam..."
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS