Tuesday, August 13, 2013

ARGUMEN DENNY JA SOAL ITSBAT SEMAKIN ABSURD

Terus terang saya semakin heran dengan pembelaan diri (apologia) Denny JA (DJA) tentang tudingannya thd sidang Itsbat. DJA menggunakan ibarat bahwa untuk mengetahui nikmatnya makanan, orang tdk perlu jadi ahli gizi. Jadi dg ibarat itu DJA ingin berdalih bahwa dirinya punya kapasitas utk komentar soal penentuan (itsbat) 1 Ramadhan/ 1 Syawal. Saya kira, kalau nalar DJA dipakai, akan banyak jurusan di universitas ditutup dg alasan tak perlu jadi ahli dan sarjana dalam satu bidang untuk bisa 'tahu' dan menilai sesuatu. Buat apa ada jurusan Ilmu Politik , Psikologi, Sosiologi, Antropologi, dll? Kan semua orang juga tahu dan melakukan kegiatan politik, pendidikan, sosial, budaya, dll tanpa harus jadi ahli. Kita perlu bertanya, buat apa DJA repot-2 mendirikan lembaga survei dg klaim kecanggihan dan keilmiahan, kalau ternyata hasilnya juga ada miripnya dengan spekulasi orang jalanan? Banyak orang tanpa kredensial doktor dalam ilmu sosial-politik pun bisa omong soal siapa yg bakal unggul dlm Pemilu atau Pilkada. Apakah lalu DJA akan setuju jika dibilang kualitas surveinya sama dengan obrolan warung kopi? Ini mengingatkan saya akan sebuah Hadits yg menggambarkan adanya manusia yang "tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu tetapi menganggap dirinya tahu." DJA harusnya paham bhw soal Itsbat bukan cuma soal 'common sense' belaka, tetapi juga terkait dengan bidang keilmuan (hard science termasuk astronomi), soal kenegaraan, ilmu keagamaan (termasuk fiqih), dll. DJA jelas sedang merendahkan dirinya sendiri dengan perbandingan yg dia buat. Memang benar semua orang berhak komentar, tetapi kalau seorang terpelajar bangga dengan kengawuran nalarnya, saya jadi bertanya: sudah demikian rendahkah mutu bangsa ini? Na'udzubillah min dzalik!!

Selanjutnya baca tautan ini:

http://www.rmol.co/read/2013/08/12/121619/Denny-JA-Melanjutkan-Polemik-Sidang-Isbat-Hari-Raya-

 
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS