Wednesday, March 26, 2014

KRITIK ATAU KENYINYIRAN FAHRI HAMZAH THD JOKOWI?

Kritik dan nyinyir, bagi saya, adalah dua hal yg berbeda baik dalam hal penalaran maupun hasil yang diinginkan. Kritik yg sehat (bukan yang asbun dan asjep), selalu menggunakan penalaran yg runut disertai pembuktian yg bisa dipertanggungjawabkan. Nyinyir, selalu didasari oleh rasa dengki dan iri atau sekedar ingin menjelekkan, sehingga pasti tanpa ada nalar sebagi landasan apalagi pembuktian. Dalam politik kita yang kini terbuka saat ini publik sering kali tidak sempat lagi membedakan antara keduanya, apalagi jika yg bicara sudah dianggap tokoh, selebriti tv, dan apalagi kalau partainya sudah mengklaim sebagai partai yang cerdas. Contoh dari kenyinyiran politisi itu adalah omongan Fahri Hamzah (FH) tentang Jokowi yang diibaratkannya seperti ayam aduan. Publik tahu bhw Jokowi diberi amanah oleh PDIP dan Ketumnya, Megawati, yg notabene diberi otoritas menentukan siapa yg akan dijadikan capres partai tsb. Dengan omongan itu FH menurut hemat saya bukan hanya nyinyir thd Jokowi, tetapi sekaligus juga thd PDIP dan Megawati sebagai pribadi maupun pemimpin politik. Sebab, jika Jokowi hanya seperti ayam aduan, maka hal itu berarti menyepelekan kualitas kepemimpinan beliau selama 9 tahun sebagai pemegang amanah rakyat baik di Solo maupun Jakarta. Kualitas kepemimpinan Jokowi diakui publik karena keberanian bersikap dan kemandirian serta kesederhanaan beliau. Tudingan FH jelas tidak punya pembuktian yg cukup solid dan nalar, tetapi hanya inuendo dan 'sound bite' belaka yg memang bisa mendatangkan sorak sorai tetapi tak akan membuat publik menjadi lebih cerdas! Akan halnya kenyinyiran thd PDIP dan pimpinannya dalam tudingan itu juga jelas. Sangatlah tidak etis untuk mencampuri urusan rumah tangga parpol lain karena seandainya itu terjadi pada PKS dan pemimpinannya, FH pasti tak akan membiarkannya. Politisi semacam FH (yang saya kira sangat banyak di negeri ini) gagal untuk menunjukkan keteladanan kepada rakyat bahwa demokrasi itu mengharuskan adanya landasan etika yg kuat. Demokrasi membutuhkan kritik dan/atau politisi yg kritis. Tetapi demokrasi tak butuh kenyinyiran dan/atau politisi nyinyir.

Selanjutnya baca tautan ini:

 http://pemilu.okezone.com/read/2014/03/25/567/960442/fahri-hamzah-jokowi-mirip-ayam
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS