Friday, April 11, 2014

LAYAKKAH ELIT PDIP DAN PENDUKUNG JOKOWI PANIK?

Kampanye negatif terhadap PDIP umumnya, dan pencapresan Jokowi, khususnya cenderung meningkat  selepas munculnya berbagai hitung cepat di media dan media sosial. Yang paling sering dipakai sebagai ladasan "ilmiah" para penyerang adalah apa yg disebut sebagai "kegagalan efek Jokowi" dalam menaikkan elektabilitas PDIP sesuai target perolehan suara 27% atau lebih, karena ternyata perolehannya hanya berkisar pada angka 19,29% (tergantung mana yg anda pakai). Fakta sosial dan interpretasi sosial adalah dua hal yg berbeda. Keduanya bahkan bisa dibuat bertentangan, tergantung kecanggihan si penafsir dan bagaimana tafsir itu disiarkan dan dipercaya oleh khalayaknya. Jika suatu tafsir digembar-gemborkan dan dijadikan rujukan, maka sesalah apapun tafsir itu ia bisa menjadi dominan dan bahkan semacam "kebenaran" baru. Itulah yg sedang berlangsung dengan tafsir "mlempemnya efek Jokowi" tsb. Fakta bhw kemenangan PDIP meleset dari target tak terbantahkan. Masalahnya, apakah jika target meleset itu sama dengan kekalahan total? Fakta bahwa Jokowi diharapkan mendongkrak perolehan suara adalah benar. Masalahnya apakah jika Jokowi tidak dicapreskan, maka PDIP sudah otomatis memperoleh suara 19%?. Jangan-2 PDIP bisa meraih angka tsb JUSTRU karena Jokowi nyapres. Soal masih di bawah target, itu yang harus diselidiki, dicermati, dan dievaluasi serta dijawab secara memadai. Hemat saya, ada masalah-2 yg menghambat efek Jokowi : 1) Ekspose Jokowi di media (formal dan media sosial) masih terlalu singkat dan kurang efektif. Dominannya gambar-2 Mega dan Puan, dan sedikitnya gambar Jokowi bisa menyumbat ekspose beliau; 2) Waktu kampanye Jokowi sangat singkat dibanding dg saingan-2 beliau spt Prabowo, ARB, dan bahkan jika dibanding dg para peserta konvensi PD seperti Dahlan Iskan, atau dengan figur lain spt Rhoma; 3) Serangan kampanye negatif thd Jokowi sangat gencar, mendalam, dan jauh lebih meluas ketimbang thd tokoh lain seperti Prabowo dan ARB; 4) Gaya kampanye Jokowi yang "low profile," nJawani, dll mungkin efektif untuk generasi tua dan kelas sosial yang mapan. Tetapi gaya itu kurang menarik bagi pemilih muda dan sebagian kelompok masyarakat yg ingin perubahan cepat. Prabowo yg menggebu dan tampak sangat tegas mengritik korupsi, ketergantungan ekonomi, kemiskinan, diskriminasi, dan isu-isu dasar lain, saya kira, lebih berhasil menarik simpati khalayak!; 5) Kondisi internal elit PDIP sendiri yg masih belum solid dengan pencapresan Jokowi juga menjadi masalah serius bagi penyebaran efek Jokowi. Ini berbeda dengan soliditas elite Gerindra, Demokrat, dan bahkan Golkar (yg sejatinya ada masalah juga). Dari beberapa poin tsb, saya menganggap TAK LAYAK DAN TAK NALAR jika baik para elit PDIP maupun para pendukung Jokowi lantas menampilkan kepanikan dan kehilangan rasa percaya diri ttg pencapresan Jokowi. Justru sebaliknya, seharusnya PDIP dan pendukung Jokowi melakukan konsolidasi cepat dan mengoreksi kesalahan-kesalahan yg ada tsb. Pileg 2014 sudah menunjukkan hasil bhw PDIP punya modal paling baik untuk mengantar capresnya. Tugas selanjutnya adalah fokus mengantar Gub DKI itu sebagai capres tanpa ragu, panik, dan perpecahan. Sebab, hemat saya, pertandingan babak selanjutnya (Pilpres) bakal lebih seru dan masih jauh dari jelas siapa pemenangnya. PDIP dan para pendukung Jokowi tidak bisa bersikap "taken for granted" merasa sudah unggul atau, sebaliknya, mudah panik menghadapi perubahan-perubahan cepat yg, pada gilirannya, bisa merusak perjuangan mereka. 

Simak tautan ini:

http://indonesiasatu.kompas.com/read/2014/04/11/0712515/jokowi.bukan.lagi.kartu.as.pdi-p?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS