Sunday, January 11, 2015

MEMAHAMI STATEMEN PAUS FRANSISKUS

Paus Fransiskus (PF) selalu membuat banyak kalangan, termasuk kalangan Gereja Katolik, terperangah dengan berbagai pernyataan yang dikeluarkannya. Yang paling gres, adalah pernyataan yang dikemukakan dalam wawancara dengan Eugenio Scalfari (ES), salah seorang pendiri dan mantan Redaktur media La Repubblica, terbitan Italia. PF menyatakan "Saya percaya kepada Tuhan, namun bukan Tuhan Katolik." Sepintas, ucapan ini tentu bisa menimbulkan salah paham maupun paham yang salah, seakan-akan Pemimpin Vatikan itu tidak lagi mengakui prinsip dasar teologi Katolik. Tetapi, sejatinya, Sri Paus sedang menyampaikan carapandang yang inklusif tentang keber-agamaan yang berangkat dari kepercayaan terhadap Tuhan.

Bagi beliau, Tuhan adalah dzat (Being) yang bersifat universal, tidak terbagi bagi, seakan-akan ada berbagai macam Tuhan tergantung kelompok keagamaan tertentu. Dengan demikian, dalam pandangan PF, agama-agama adalah cara yang berbeda-beda dalam memahami dan meyakini Tuhan yang sama dan memiliki sifat-sifat yang sama seperti kasih sayang, pencipta alam semesta, maha Mulia, dsb. Cara pandang seperti itu sejatinya dimiliki juga oleh para Sufi dan spiritualis yang menolak pengkotak-kotakan pemahaman terhadap ketuhanan berdasarkan agama-agama yang berbeda-beda sehingga menciptakan berbagai persoalan sepanjang sejarah yang tak jarang membawa malapetaka bagi manusia yang notabene adalah ummat beragama.

Itu sebabnya, PF mengatakan juga bahwa beliau menolak cara pandang keagamaan yang disebutnya Vatikan sentris, pandangan yang terpusat kepada apa maunya Vatikan. Sebab pandangan seperti itu "mengabaikan dunia di sekeliling kita". Dan masih kata beliau, "Saya tidak sependapat dengan pandangan demikian, dan akan berusaha merubahnya." Pemahaman saya thd pernyataan ini adalah, bahwa PF menginginkan agar Vatikan mempunyai cakrawala pemahaman keagamaan yang luas dan inklusif serta bermanfaat bagi dunia. Yang juga berarti PF melakukan kritik kepada Gereja Katolik yang dianggap beliau mengalami kemunduran dalam ihwal ini. Sebab itu PF menghimbau agar Vatikan kembali ke "Khittah" nya, yakni "menjadi komunitas orang-orang beriman dan para pendeta yang peduli dengan jiwa manusia dan melayani manusia ciptaan Tuhan."

Pandangan PF bukanlah sesuatu yang radikal atau apalagi dianggap sebagai bertentangan dengan teologi Kristiani atau Kanon Teologis Gereja Katolik. Hemat saya, statemen itu merupakan peringatan terhadap kecenderungan yang terjadi saat ini di mana pemahaman keagamaan menjadi beku dan kaku serta terpenjara dalam tembok-tembok lembaga (organisasi) agama. Jika direfleksikan pada ummat beragama lain, termasuk Islam, saya kira juga bisa dicari relevansinya. Yakni agar para agamawan, ulama, pendidik, dan aktivis Muslim mengingat pesan Islam yang universal, tidak eksklusif, apalagi mudah menganggap liyan sebagai sesat dan harus diperangi dan dihancurkan. Islam dan para agamawan serta komunitas Islam harus pula membantu dan bermanfaat bagi kemanusiaan, sehingga Islam akan benar-2 menjadi karunia bagi semua (rahmatan lil 'alamin). Itulah salah satu pesan profetik yang juga dibawa oleh Rasulullah saw, para sahabat, dan para ulama dari dulu sampai hari akhir nanti.
Saya pribadi memahami pernyataan Paussebagai hal yang sangat positif bukan hanya bagi ummat Katolik saja, tetapi juga bagi ummat beragama lainnya dan bagi kemanusiaan yg saat ini sedang mengalami krisis dalam multidimensional, termasuk pergaulan antar-ummat beragama.

Simak tautan ini:

http://www.ibtimes.com/pope-francis-i-believe-god-not-catholic-god-1415620
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS