Friday, February 20, 2015

LION AIR DAN PENUNDAAN KEBERANGKATAN: SIAPA YG SALAH?

Entah sudah berapa kali saya membaca dan mendengar ihwal penundaan pesawat maskapai LION AIR (LA). Dan saya pribadi memang tdk pernah percaya kpd maskapai ini. Bahkan saya cenderung "menyalahkan" penumpang yg masih saja mau menggunakan pswt LA kendati murah harganya. Sebab bagi saya, perusahaan ini memang sudah tdk layak utk disebut sbg perushaan penerbangan yg profesional manajemennya, apalagi dlm urudan pelayanan ketepatan waktu. Saking seringnya delay, ada orang yg memplesetkan namanya menjadi LIAR AIR alias maskapai penerbangan tukang ngibul (soal jadwal keberangkatan).

Saya kira problem utamanya bukan hanya pd manajemennya yg brengsek. Semua orang juga sudah tahu soal itu. Problemnya juga pd Pemerintah yg mau saja memberi toleransi kpd LA. Kultur bisnis di negeri adalah pembiaran thd praktik2 buruk spt itu karena pihak pemerintah bisa disogok oleh pemilik persh. Akhirnya terjadilah pembiasaan praktik buruk itu. Sementara itu para konsumen juga lemah dan tdk mau repot2, apalagi dg iming-2 dan jebakan harga tiket murah. Filosofi utk menolak hak konsumen adalah: "murah kok minta pelayanan prima!". Jadilah sebuah konspirasi antara pengusaha- penguasa-konsumen yg hasilnya adlh praktik buruk manajemen penerbangan dan pembiaran alias impunitas terhadap praktik-2 kotor. Slogan mengutamakan pelanggan adalah mbelgedhes belaka. Yg penting pengusaha kian mengeruk laba, penguasa meraup suap, sementara penumpang tersia2 tapi tak berdaya!

Jadi kl hari ini ada kehebohan lagi terkait delay parah oleh LA, ya percuma kalau marah-2. Wong semua pihak ikut berpatisipasi dlm kekacauan itu. Saya hanya bisa menyarankan jangan pernah pakai pesawat LA wlpn terpaksa. Hanya itu solusinya utk sementara. Kl anda cuma mengeluh dan lapor pd pejabat pemerintah, paling jwbnya juga klise, "nanti akan kami periksa!". Tapi apa mungkin pejabat akhirnya memeriksa dirinya sendiri yg juga terlibat dalam kebrengsekan itu? Apalagi boss LA adalah Waketum sebuah parpol koalisi KIH dan jadi Wantimpres. Semakin jauhlah si panggang dari api.

Makanya solusi jangka panjang penerbangan RI adlah dibuka sekalian saja rute domestik untuk maskapai-2 asing yg profesional dan bertanggungjawab spt SQ, Cthay, MAS, China Air, Eva Air, dll. Insyaa Allah praktik2 busuk seperti menunda penerbangan akan bisa dikurangi dg drastis.  Kalau tdk demikian rasanya kehebohan ini akan jadi rutinitas biasa saja utk pengisi media, dan pengusaha2 spt pemilik LA ini cuma belaga pilon. "Ah paling mereka pada protes sebentar. Besok juga naik pesawat gue lagi!"
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS