Monday, May 25, 2015

MENYIMAK KEPRIHATINAN BJ HABIBIE

Keprihatinan Presiden RI ke 3, Prof. Dr. Ing. BJ.Habibie (BJH) adalah keprihatinan anak bangsa yg sudah sangat lama tetapi akan terus menghantui bangsa dan negeri ini jika tidak ada kepedulian nyata dari negara dan rakyat Indonesia sendiri. Saya pribadi menganggap persoalan ini merupakan hasil dialektika antara keniscayaan dinamika global dengan visi nasionalisme yang dimiliki bangsa Indonesia, wabil khusus para penyelenggara negaranya. Hasil dari dialektika tersebut adalah kecemasan dan rasa ketiadaan harapan (hopelessness) yang pada gilirannya akan membuat Indonesia sebagai bangsa besar (jumlahnya), tetapi lemah dalam menghadapi ancaman eksistensialnya di masa depan.

Hampir merupakan sebuah truisme bahwa tidak ada bangsa yang maju dalam pengertian fisik dan mentalnya, tanpa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pintar saja tidak cukup apabila kepintaran tsb pada akhiornya menjadi properti pihak lain, bukan properti bangsa. Hampir semua orang memuji potensi individual bangsa Indonesia dalam mempelajari dan menguasai ilmu pengetahuan, namun akan sulit untuk mempercayai jika ada orang yg mengklaim bahwa bangsa ini secara kolektif disebut sebagai bangsa yang telah kuat dan mandiri dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti yang dikeluhkan BJH, kemampuan mempelajari dan menguasai iptek dari anak bangsa itu kemudian dimanfaatkan oleh pihak lain karena mereka yang bampu mengapresiasi dan mendukung pengembangan dan aplikasi secara sustematis dan sustainable. Sementara di Indonesia, yg lebih banyak muncul adalah kekaguman dan kepuasan diri.

Hasilnya adalah, sebagaimana dinyatakan BJH ada tren ilmuwan dan perekayasa teknologi Indonesia menjadi milik pihak lain. Jika mereka ditanya kenapa demikian, alasannya pun mirip: karena di negeri sendiri tidak diperhatikan khusunya tidak ada insentif dalam bentuk lapangan kerja yg memadai. Secara nalar pragmatis dan instrumental, memang sulit utk membantah argumen tsb. Sebab pada akhirnya ini soal hak asasi individual terkait dengan aktualisasi diri dan upaya memperbaiki kehidupan. Tak ada seorangpun, termasuk negara, yang bisa menghentikan arus brain-drain tersebut. Sama saja dengan melarang warganegara Indonesia menjadi TKI. Bahkan sejujurnya para ilmuwan dan perekayasa yang hebat-2 itu juga TKI tetapi dengan kompensasi dan status yg berbeda.

Jika bangsa ini sepakat utk menghentikan tren tersebut, sejatinya ada berbagai contoh dan praktik-2 yang baik dari berbagai bangsa yg bisa ditiru oleh Indonesia. sebut saja Malaysia, Thailand, Taiwan, dan Korea. Mereka dengan sadara dan sistematis membuat kebijakan-kebijakan utk memberdayakan iptek nasional dengan peningkatan kualitas pendidikan, riset, dan pemanfaatan dalam sektor-sektor penting di dalam negeri. Pelan tapi pasti, Malaysia kini sudah meninggalkan Indonesia dalam jumlah penulisan karya ilmiah internasional, dan dalam beberapa bidang industri seperti otomotif dan migas. Korea telah mampu menjadi pesaing utama negara-negara adikuasa dlam teknologi maju. Demikian pula dengan Thailand yang diakui sebagai salah satu powerhouse dalam bioteknolgi khususnya pertanian. Jangan dikata lagi Taiwan yang memang sudah melesat lebih dulu di sektor iptek maju. Semua ini diawali dengan kesadaran para pemimpin dan rakyat bahwa Iptek adalah kunci kemajuan dan kemandirian bangsa.

Jika pemimpin bangsa hanya berfikir "cepat saji" dan mengandalkan pada keuntungan bisnis yang cepat, maka konsekuensinya adalah apa yg disebut BJH d istilah "lebih suka impor." Dan sehebat apapun tukang impor yg hanya dilandasi pemburuan laba dalam tempo cepat, tidak akan menghasilkan sebuah kemandirian. Bangsa Indonesia akan terus menerus menjadi net-importer dalam segala hal. Dan lama-lama akan termasuk "net-importer" harga dirinya sebagai bangsa!.


Simak tautan ini:

http://nasional.kompas.com/read/2015/05/25/04290021/Habibie.Ilmuwan.Indonesia.di.Luar.Negeri.karena.Pemerintah.Lebih.Senang.Impor
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS