Tuesday, November 24, 2015

KEMARAHAN BUYA SYAFII MAARIF TERHADAP ELITE PENGUASA

Siapapun yang memiliki nalar dan nurani sehat, sulit utk tidak bersimpati dengan kemarahan Buya Prof. Syafii Maarif (SM) yang menganggap republik ini sudah dikuasai para garong alias perampok, khusunya di tingkat elit kekuasaan. Orang bisa saja setuju atau tidak setuju dengan istilah Republik Garong yang beliau pakai, tetapi rasanya orang tak akan keberatan dengan pandangan beliau secara keseluruhan bahwa negeri ini sedang diancam oleh krisis yg ditimbulkan oleh mereka yang berada dalam elite kekuasaan.

Buya tentu tidak hanya mengutarakan sinyalemen tsb berlandaskan subyektifitas thok, tetapi setelah bertukar pikiran dengan Presiden Jokowi (PJ) dan Wapres JK, dan mungkin juga dengan banyak tokoh politik, cendekiawan, dan ormas-ormas khususnya ormas keagamaan di mana beliau adalah salah seorang pemimpin yang dihormati dan diikuti pendapatnya. Dan yang lebih penting, Buya membaca apa yang ada dalam nalar dan nurani publik di negeri ini dan, sebagai seorang pemimpin yg bertanggungjawab, beliau menyuarakan kembali ke ranah publik agar bisa diketahui dan diperbincangkan serta diperhatikan oleh para elite.

Jika kita sering membaca berbagai laporan survei pendapat publik di media maupun pandangan-pandangan dalam media sosial, maka kejenuhan dan kemuakan yang dirasakan oleh Buya bukanlah hal yang mengada-ada. Publik telah banyak membuat petisi-petisi yang isinya menuntut perubahan-2 mendasar, publik juga seringkali melakukan protes-2 terhadap praktik-2 penyimpangan dan penyalahgunaan hukum, publik juga seringkali melakukakan perlawanan kolektif secara fisik terhadap apa yang dianggap sebagai kesewenang-2an aparat dan penegak hukum, bahkan tak jarang dengan pengorbanan nyawa dan harta. Publik juga melaporkan keluhan mereka ke forum internasional karena meras tidak ditanggapi atau dipedulikan oleh para penguasa.

Namun semua hal itu nyaris tak mempan utk mengubah pikiran dan perbuatan kaum elite. Alih-alih berubah, mereka malah dengan bangga menampilkan arogansi dan ketidak pedulian mereka dengan cara terus menerus mengulangi kesalahan yg sama dan bahkan lebih parah. Bukti yang paling kongkrit adalah perilaku para anggota DPR periode 2014-2019 yang dalam waktu setahun terakhir ini telah menorehkan daftar panjang praktik-2 yang membuat rakyat yang diwakilinya kian muak, termasuk dan terutama praktik korupsi. Pada tataran eksekutif, rakyat juga melihat bagaimana Pemerintah selama setahun ini masih belum mampu menciptakan sebuah sistem pengelolaan pemerintahan yang mampu bekerja dengan harmonis dan produktif. Alih-alih, Pemerintah PJ sangat rentan dengan pertengkaran dan konflik kepentingan antar-anggota kabinet. Kompromi politik menjadi satu-2nya cara utk menyelamatkan diri dari ancaman kolaps, tetapi harus dibayar mahal dengan semakin tidak fokusnya kinerja!

Statemen Buya SM bukanlkah hal baru atau paling keras apalagi kalau kita bandingkan dg komentar-2 di medsos. Tapi soalnya, saya kira, bukan di situ. Soalnya adalah, jika publik dan para tokoh sekelas beliau telah bersuara seperti itu, itu pertanda bahwa ada yang sangat tidak beres di dalam elite kekuasaan. Dan jika pandangan Buya ini gemanya kian membahana dan dijadikan rujukan oleh publik dalam menyikapi perilaku para elit, saya kira ibaratnya adalah lampu kuning sudah menyala.

Simak tautan ini:

 http://www.rmol.co/read/2015/11/24/225670/Indonesia-Katanya-Republik-Garong

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS