Wednesday, September 7, 2016

UMI KULSUM SANG DIVA KLASIK DARI MESIR


Dalam perjalanan kembali dari menghadiri Haul di Ponpes Salafiyah Kholidiyah, hari Minggu lalu (4/9/16), saya tiba-2 disergap rindu kepada almaghfurlah Gus Dur. Dan entah mengapa saya lalu memutar lagu Umi Kulsum di YouTube menggunakan HP. Mungkin karena beliau adalh juga fans berat sang diva klasik dari Negeri Sungai Nil itu.

Sepanjang perjalanan Tuban-Surabaya, saya memutar salah satu lagu Umi Kulsum (1904-1975) yg paling saya suka,"Dzikrayyat" atau Kenangan. Saya sertakan terjemahan bebas lirik lagu tsb, agar bisa dinikmati para sahabat yg tidak mengerti bahasa Arab.


DZIKRAYYAT (KENANGAN)

(1)
Kenanganku melintas di dalam imaji
Dalam gulita malam ia berpendar dan bersinar menerangi
Bangunkan kalbuku dari lelap tidur dan mimpi
Masa lalu pun terpampang nyata, hari demi hari

Bagaimana bisa kulupakan kenangan ini
Yang 'tlah menyatu dalam hati?
Ia tak lain adalah lelakon asmaraku sendiri

(2)
Kenangan asmara menggoda pikiran dan prasangkaku
Tak tahu lagi mana yang lebih dekat dengan diriku
Ia adalah melodi, terngiang selalu ditelingaku.
Kerna ia muncul dari senandung dan nyanyianku

Kenanganku adalah campuran kidung dan cinta
Antara tangis dan rintihan duka
Bagaimana aku bisa melupakannya?
Diriku selalu mengingat bersama deraian air mata.
Aku menangis bersama lagu sedihku.

(3)
Ada kalanya, secercah cahaya fajar tersenyum temaram
Saat kenangan muncul dari ketiadaan
Melenakan hati, seperti bunga2 cinta yg lembut memanggil perlahan
Aku memyiraminya dengan penuh cinta dan menjaganya dengan perjanjian
Cintaku adalah kerinduan, kan kupetik saat pertemuan

Bagaimana mungkin kenanganku tak mengharu-biru pikiran?
Ia muncul bagai cahya purnama, lembut bagai air gemericik pelan.
Cobaan asmara pun merayap meninggalkan sepi dan kepiluan.

(4)
Mungkinkah kulupakan kenangan itu, padahal ia adalah cinta berikut hatiku?
Mungkinkah kulupakan kenangan itu, padahal ia adalah gema dalam telingaku?
Mungkinkah kulupakan kenangan itu, padahal ia adalah impian dalam hidupku?

Ia adalah gambaran hidupku, dalam cermin keakuanku
Aku hidup di dalamnya dengan segenap keyakinanku
Begitu dekat dan tersambung selalu.
Ia hidup di dalam prasangka, harapan, dan tujuanku.

Tahun-tahun terus lewat, namun kenangan itu terus bersamaku
Sepanjang usia, di masa lalu, dan masa depanku.
Bagaimana aku melupakannya, sedangkan hatiku bersama selalu?
Karena ia tak lain adalah lelakon asmaraku
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS