Sunday, December 18, 2016

BENARKAH SOLO JADI WILAYAH "AL-KACO"?

Kunjungan saya ke Kota Solo kali ini punya kenangan khas. Soalnya saya mendapat istilah baru dr sopir taksi yg saya gunakan selama saya jalan ke Ngawi, Magetan, Sarangan, Tawangmangu dan Solo, yaitu kelompok "AL-KACO" singkatan "ALiran KAthok COngkrang" alias "Aliran Celana Cingkrang".

Ketika saya tanya kenapa kok disebut kaco, jawab pak sopir begini: "Orang2 itu tdk mau bergaul kecuali dengan sesama kelompok nya. Orang tua sendiripun kalau tidak ikut kelompok itu, gak diajak gaul." Menurut pak sopir, "saya ini ya Islam tapi jangankan sama keluarga, lha wong dengan non Muslim saja saya harus bisa srawung dengan baik." Makanya bagi pak sopir, ajaran seperti itu kaco jika dilihat dari perspektif kehidupan manusia, apalagi orang Islam.

Anehnya wilayah Solo dan bahkan sampai daerah Tawangmangu, kata pak Sopir, kini dipenuhi para pendukung Al-Kaco tsb. Bahkan di Kota Bengawan itu markas Al-Kaco sangat besar, katanya. Saya tidak sempat tanya di mana itu.

Saya hanya bisa mesem saja dengan penuturan pak Sopir taksi yg sangat terang benderang itu. Aliran fundamentalis dan garis keras memang sangat marak di Kota yg konon merupakan pusat budaya Jawa yg halus, ramah, toleran, dan mengutamakan harmoni alias keselarasan itu. Mengapa kini radikalisme dan intoleransi bisa hadir dan malah bisa berkembang di sana?

Coba kita bertanya pada rumput yg bergoyang...
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS