Thursday, December 14, 2017

MEMBACA INTERTEKSTUALITAS DALAM SIMBOL: KAMPANYE CAGUB JATENG 2018


Saya tidak tahu apakah gambar di sebelah kiri ini adalah asli jepretan kamera atau sebuah rekayasa photoshop. Namun terlepas dari asal-muasalnya, saya kira ia sangat menarik untuk dimaknai khusunya terkait dengan hingar bingar politik seperti Pilkada 2018 di Jawa Tengan yang akan datang. Melihat gambar tersebut, suka atau tidak, orang akan "dipaksa" untuk mengaitkan dan/ atau menyambungkan baliho tentang seorang bakal calon Gubernur (Balongub) Jateng, yang dipasang di atas jalan, dengan tulisan di bak sebuah truck yang "kebetulan" sedang lewat persis di jalan di bawah baliho tsb.

Seandainya gambar itu benar-benar jepretan foto yangasli, maka tentu orang yang mengambil foto itu sangat piawai menangkap momentum yang melahirkan sebuah statemen yang baru hasil gabungan keduanya, yang kontras artinya berbeda dengan kalimat-kalimat baik di baliho maupun di bak truck itu, jika mereka dibaca sendiri-. Gabungan seperti itu mungkin bisa kita sebut sebagai "intertekstualitas" yang menciptakan sebuah penanda dan yang ditandai secara baru sama sekali dan memnghasilkan sebuah statemen politik yang bisa dikatakan "subversif.".

Munculnya penanda baru tsb lantas menampilkan sebuah statemen dan makna yang menafikan atau setidaknya men "suspend" atau menunda klaim dari baliho kampanye sang Balongub Jateng itu. Lewatnya truck, dengan tulisan "ngapusi" (menipu) sekonyong-konyong merupakan sebuah aksi "subversif" terhadap sebuah klaim politik yang ditampilkan dalam kata-kata "Ngancani (menemani), "Ngladeni" (melayani), dan "Ngayomi" (melindungi).

Tak pelak lagi, intertektualitas kedua statemen tersebut memunculkan sebuah interpretasi baru yang meledek atau bahkan meniadakan sama sekali klaim si Balongub dan, pada saat yang sama, juga parpol-parpol yang mengusungnya.

Momen yang hilarious alias lucu dan nggregetake ini bisa jadi sengaja atau tidak disengaja diciptakan dan direkayasa secara fotografis. Terlepas dari itu semua, pemaknaan atas gambar itu secara kreatif mungkin diperlukan agar kita tidak mudah terjebak oleh klaim-klaim politik, termasuk kampanye cagub, caleg, capres, cabup dll.

Kritik tak harus kereng, sangar, dan penuh kemarahan. Kritik yang tampaknya tak disengaja dan biasa-biasa saja, bahkan sementara sifatnya, ternyata bisa bermuatan "subversif", kendati juga lucu dan "menghibur". Bisa jadi kritik model sepereti ini tak kalah efektif dibanding misalnya dengan propaganda yang dikemas secara serius dan melibatkan kecanggihan retorika dan demagogi.
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS