Friday, April 27, 2018

MUHAMMAD AS HIKAM: DEMOKRASI TANPA TEDENG ALING-ALING*)


Tinjauan Buku:
Muhammad AS Hikam."Demokrasi Indonesia: Antara Asa Dan Realita." Yogyakarta: Galang Press, 2018, xiii, 345, indeks).
Oleh very**)

Selamatan Wiwitan menuju Upacara Kebo Ketan 2018 yang akan diselenggarakan di Desa Sekaralas, Ngawi, pada 28 April 2018 nanti, akan lain dari selamatan tradisional biasa. Pasalnya, di dalam prosesi upacaranya ada kegiatan diskusi bedah buku.

Mungkin sepanjang sejarah kebudayaan Jawa sejak masa neolitikum sampai saat ini, baru kali inilah ada suatu diskusi bedah buku dilaksanakan sebagai satu mata rantai prosesi upacara selamatan. Meski sesungguhnya diskusi sudah lama menjadi bagian vital dari kenyataan hidup kita, dan karena itu seharusnya kegiatan rasional dan ilmiah semacam diskusi buku sudah menjadi bagian dari prosesi upacara tradisional. Namun karena daya cipta di bidang seni upacara kita berabad-abad stagnan, rupanya kegiatan semacam diskusi ilmiah belum lazim dijadikan bagian dari prosesi sebuah karya seni upacara kita.

Dalam berbagai ritual budaya Jawa, mungkin hanya kebiasaan menyertakan kertas bertulis dan/atau alat tulis dalam kendil berisi ari-ari pada rangkaian prosesi pasca-kelahiran bayi yang agak menyinggung dunia akademis rasional. Kertas dan tulisan atau alat tulis itu disertakan saat mengubur atau melarung ari-ari sebagai ungkapan doa agar sang jabang bayi kelak menjadi manusia terpelajar yang mengenal baca tulis. Secara tidak langsung penyertaan alat baca tulis dan harapan yang terkait pada prosesi upacara merumat ari-ari bayi ini menyangkut juga persoalan diskusi dan kegiatan pematangan wacana lainnya. Namun, tampaknya sejak menitipkan alat tulis di prosesi perumatan ari-ari bayi tersebut, bangsa Jawa tidak mengembangkan lebih jauh soal ini di dalam seni upacara yang dikembangkan.

Demikian kenyataannya, porsi rasionalitas masih sangat terpinggirkan dibanding porsi estetis-simbolis di dalam prosesi seni upacara kita. Hal ini tidaklah mencerminkan realitas kehidupan kita di mana alam pikiran rasional sesungguhnya sangat dominan di dalam kehidupan bahkan melebihi alam pikiran mistis, artistik, estetis dan simbolis.

Oleh karena itu ketika penasehat Kraton Ngiyom, Dr. M.A.S Hikam mengajak ‘rasan-rasan’ dengan Bramantyo Priyosusilo, pimpinan Yayasan Kraton Ngiyom, tentang kemungkinan pelaksanaan bedah buku terbarunya di desa, langsung direspon positif: Bayangkan bedah buku itu menjadi bagian dari prosesi selamatan wiwitan menuju upacara kebo ketan 2018 yang secara tahunan digelar. Inilah latar belakang mengapa di dalam selamatan wiwitan menuju Upacara Kebo Keta 2018 dengan tema “Marilah kita mendo’a Indonesia bahagia” ini ‘mengubah adat’ dengan memasukkan satu kegiatan akademis dalam rangkaian prosesi upacaranya.

Apabila seni upacara dikembangkan, selalu diupayakan relevan dengan kondisi Abad XXI ini, maka karya penulis produktif Dr. Hikam ini, ditulis dengan suatu teknik masa depan pula. Teknik penulisan yang diterapkan, tidak mungkin dilakukan di abad lampau. Awalnya buku ini ditulis secara spontan di media sosial, sebagai status-status yang menanggapi berbagai isu politik yang muncul dari hari ke hari. Status-status itupun mendapatkan tanggapan spontan dari orang-orang yang mengikuti di media sosial. Setelah proses ini berjalan cukup lama, barulah tulisan-tulisan tersebut dirangkum dan disunting agar koheren di dalam satu buku.

Ada beberapa akibat dari teknik penulisan yang memanfaatkan sepenuhnya kenyataan penggunaan teknologi informasi di masyaraat saat ini. Salah satunya adalah cakupan tema dan perhatian buku ini sangat luas. Membacanya adalah seperti menganalisa satu-satu headline heboh maupun berita sampingan namun penting, dalam beberapa tahun terakhir ini. Analisa dan pembahasan terhadap satu-satu masalah tersebut pun selain terasa mendalam juga kontekstual, mungkin, karena secara langsung gagasan awal yang dilontarkan di media sosial itu mendapatkan tanggapan dari khalayak.

Biasanya status-status Dr. Hikam di media sosial banyak ditanggapi orang. Karena sikapnya yang memberi perhatian yang sama pada setiap orang yang menanggapi statusnya, segala macam manusia bisa berceloteh di sana, dan hanya dinilai dari penalaran dan argumentasi yang disusun. Kenaifan-kenaifan, prasangka-prasangka, dan ignorans-ignorans yang ada di masyarakat yang menanggapi status-status yang dilontarkan seketika menjadi feed-back bagi penulis dan seketika dapat ditanggapi.

Terbayang kerja keras penyunting buku ini, Stanislaus Riyanta, menyatukan berbagai status spontan dari kurun 2010-2017 ini tentu sangat tidak mudah. Satu hal yang mungkin agak memudahkan penyunting buku ini adalah fokus perhatian yang konsisten dari kegiatan media sosial yang dilakukan Dr. Hikam. Di dalam tulisan-tulisannya terasa sungguh bagaimana Dr. Hikam memiliki komitmen untuk menegakkan demokrasi sebagai sistem yang sudah disepakati bersama para pendiri negara dahulu. Berbagai kendala yang kita hadapi di dalam menegakkan demokrasi, baik yang berupa apatisme terhadap sistem demokrasi sebagai konsep, maupun berupa penyalahgunaan prinsip-prinsip demokrasi di dalam praktek, ditanggapi dan dibahas dengan menggunakan kejadian-kejadian nyata sebagai titik referensinya.

Membaca buku ini kita jadi ingat, misalnya, sepak terjang Habib Rizieq Shihab menyerang dan menghujat pribadi Presiden adalah jurus yang dia mainkan sejak dulu. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang sekarang sering diingat sebagai seorang Presiden yang banyak ‘memberi angin’ kepada ormas Islamisme yang dekat dengan kekerasan, tak luput dari target hujatan HRS. Kita diingatkan akan pernyataan-pernyataan Surya Paloh dan Anies Baswedan saat awal membentuk Nasdem sebagai ormas dan mengaku tidak berpolitik.

Kita disadarkan bahwa ketika elit penguasa berbicara tentang “koalisi politik” dan kita lihat berbagai partai yang mengaku memiliki platform yang berbeda-beda dapat saling merenggang atau merapat semudah ganggang yang mengapung di permukaan kolam tergenang, sesungguhnya mereka tidak sedang membangun koalisi melainkan sedang membentuk “kartel politik” dan di situlah kita sebagai rakyat dipecundangi.

Detail yang dibahas buku ini sangat kaya dan meskipun kadang melanglang ke luar negeri fokus utama buku ini adalah praktek dan ideal demokrasi di Indonesia. Partai-partai, lembaga-lembaga dan para tokoh elit politik dan sepak terjang riilnya, dideskripsikan dan dikomentari secara langsung, dalam konteks waktu dan tempat senyatanya, dan tanpa tedeng aling-aling. Kesesatan-kesesatan berfikir yang sering “digendamkan” kepada kita oleh para politisi sesuai kepentingan masing-masing, dibikin tawar bisanya dengan penalaran yang jernih, rilex dan tertata.

Misalnya soal tafsir Sila IV Pancasila dikaitkan dengan argumen mengenai pilihan langsung atau tak langsung, Fadli Zon pernah menyatakan bahwa sebetulnya kalau mau melakukan pemilihan langsung maka Pancasila Sila IV harus diubah dahulu. Mana yang lebih Pancasilais antara pemilihan langsung atau tidak langsung? Nah!

Buku ini luas dan mendalam, serius dan juga tidak kering dari humor. Ia juga menjadi dokumen sejarah yang jeli mencatati solah tingkah para politisi dan lembaga kita. Baik itu perbuatan atau sikap yang lucu, wagu, baik, buruk, membangkitkan harapan dan optimisme maupun sikap dan perbuatan yang membahayakan dan harus dicegah bahkan dilawan, misalnya obskurantisme, korupsi, dan ‘mbuletisme’.

Buku yang diterbitkan oleh Best Publisher, Yogyakarta, saat ini masih di dalam proses-proses akhir pencetakan dan apabila tidak ada aral melintang akan bisa diperoleh dari kios Galang Press di Rumah Tua Sekaralas pada saat Selamatan Wiwitan Upacara Kebo Ketan, Sabtu, 28 April 2018, di Rumah Tua Sekaralas, menuju Upacara Kebo Ketan, 24 dan 25 November nanti.

*) Artikel ini aslinya diposting di portal indonews.id. Saya (MASH) mengedit beberapa kalimat agar sesuai dengan format status ini, tanpa mengubah makna. http://indonews.id/mobile/artikel/13059/Muhammad-AS-Hikam-Demokrasi-Tanpa-Tedeng-Aling-aling/
**) Penulis adalah wartawan indonews.id
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS