Friday, May 4, 2018

TANTANGAN PARA PENDIDIK DALAM MEMBANGUN DEMOKRASI


"Bagi pendidik yang berfikir demokratis, tantangan terbesar yang dihadapinya adalah bagaimana menanamkan pemahaman tentang BATAS yang bisa diintegrasikan dengan KEBEBASAN. Semakin kebebasan menyiratkan kesadaran adanya batas yang niscaya, maka ia semakin memiliki kekuatan untuk terus berjuang atas nama kebebasan itu sendiri."
(Paolo Freire, tokoh pendidikan asal Brasil, 1921-1997)


Salah satu pemahaman yang salah kaprah tentang kebebasan (freedom) adalah bahwa ia tak mengenal batas. Demokrasi pun, yang biasanya dikaitkan dengan kebebasan, lantas diartikan kebebasan tanpa batas. Padahal, kebebasan tanpa batas justru mengingkari kata itu sendiri. Kebebasan hanya benar-benar terwujud jika di dalamnya disertai dengan kesadaran mengenai adanya batas yang built in.

Kesadaran tentang dialektika antara kebebasan dan batas itulah yang akan membuat wacana dan praksis kebebasan (termasuk berdemokrasi) menjadi bermakna dan produktif. Kesadaran itulah yang mendorong terwujudnya demokrasi dan nomokrasi pada saat yang sama. Kesadaran itu pula yang akan menghindarkan kita dari laku manipulatif dan culas seperti mengatasnamakan demokrasi hanya ketika kita menuntut hak tetapi melupakan kewajiban.

Kebebasan yang disertai dengan kesadaran akan batasnya adalah kekuatan positif dan produktif. Sebaliknya, kebebasan yang menafikan kesadaran akan batas adalah justru pencideraan dan distorsi terhadap, dan karenanya melemahkan, kebebasan itu sendiri. Demokrasi hanya akan terwujud secara efektif dan produktif jika para pelakunya mampu memadukan keduanya secara dialektis dan dinamis.

Pendidikan yang membebaskan mesti mampu menjawab tantangan ini, khususnya di Indonesia yang sedang memperjuangkan sistem demokrasi. Jangan sampai wacana dan praktik demokrasi berubah menjadi MOBOKRASI, atas nama kebebasan.

DIRGAHAYU HARI PENDIDIKAN NASIONAL.
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS