Sunday, June 24, 2018

MENJAGA SEMANGAT "UKHUWAH WATHONIYAH" MELALUI MAJELIS TA'LIM


Hari ini (24/06/18) saya diperintah oleh salah seorang kakak perempuan (mBakyu) untuk bicara di depan para ibu-ibu anggota Majelis Ta'lim asuhan beliau (sekitar 800 an orang) di Masjid Al-Arsyad, Pabuaran Sibang, Kota Tangerang. Karena ini perintah, saya harus patuh, walaupun  kualifikasi saya untuk ceramah agama bisa dikatakan belum punya.

Dalam suasana masih Halal Bihalal ini saya mengangkat tema peran Majelis Ta'lim dalam upaya memperkokoh "ukhuwwah wathoniyyah" alias solidaritas kebangsaan dalam konteks kehidupan masyarakat yang pada saat ini sedang mendapat ujian berupa maraknya wabah intoleransi dan ancaman radikalisme.

Sebagai komponen integral dalam NKRI, wajib hukumnya bagi ummat Islam untuk berperan aktif menjaga dan memelihara keberlangsungan dan keutuhan bangsa. Sebab hanya dengan cara tsb lah ummat Islam di Indonesia sampai sekarang, jika dibandingkan dengan ummat Muslim di belahan dunia lain, termasuk yang paling damai, aman, serta sepenuhnya dapat menjalankah ibadah agamanya (baik yang mahdloh maupun yang tidak) dan dapat menjadi contoh terbaik bagi ummat Islam di seluruh dunia.

Kalangan nahdliyyin, sebagai salah satu bagian terbesar dari ummat Islam Indonesia, memiliki bekal yang sangat kuat dan telah membuktikan efektifitasnya dalam perjalanan sejarah bangsa, mulai saat perjuangan melawan penjajahan sampai saat ini. Bekal tsb adalah prinsip2 dasar dalam beragama dalam konteks relasi masyarakat yang majemuk, yaitu 4 T: Tawasuth (di tengah, sak madyo); Tawazun (seimbang, proporsional); Ta'adul (adil) dan; Tasamuh (toleransi).

Dengan empat prinsip tsb kaum nahdliyiin menjadi salah satu garda depan memertahankan dan memperkuat ukhuwah kebangsaan Indonesia yang, pada gilirannya, menjadi faktor penopang keberagamaan dalam lingkungan NKRI. Dalam kaitan dengan tema ini, Tasamuh atau toleransi menjadi penting ketika wabah SARA dan radikalisme marak.

Saya mengingatkan agar Majelis Ta'lim ibu-ibu dapat menjadi salah satu wahana utama penanggulangan ancaman virus intoleransi dan radikalisme, sebab melalui kalangan ibu-ibu juga kelompok anti NKRI seperti HTI dan kelompok intoleran menyebarkan doktrin mereka. Ibu ibu adalah pilar utama negara dan secara sosiologis serta budaya merupakan kekuatan yang menentukan bagi perkembangan generasi muda.

Di era globalisasi ini peran Majelis Ta'lim para ibu juga penting untuk menjadi alat mengarahkan anak anak muda dalam menggunakan teknologi informasi yang tak akan bisa dicegah perkembangannya. Forum Majelis Ta'lim perlu diisi informasi-informasi aktual yang dapat menarik minat generasi muda millenial serta anak-anak. Selanjutnya Ibu-ibu juga harus melek teknologi infornasi agar bisa efektif memantau dan mengarahkan anak-anak dalam mengakses teknologi sehingga lebih bermanfaat bagi pendidikan dan pemajuan kehidupan bermasyarakat.

Akhirnya, forum-forum Majelis Taklim seyogyanya terus-menerus mengumandangkan pesan bahwa ummat Islam Indonesia adalah kekuatan penting menjaga kebangsaan; sehingga jika ummat ini tercabik oleh intoleransi dan radikalisme maka keberlangsungan NKRI akan ikut terancam.
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS