Tuesday, November 6, 2018

PEMAKNAAN PANCASILA SEBAGAI BAGIAN DARI GERAKAN DERADIKALISASI

Seminar sekaligus bedah buku karya Syaiful Arif yang berjudul "Pancasila, Islam, dan Deradikalisasi: Mengukuhkan Nilai Keindonesiaan," (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2018) digelar di Megawati Institute, Jakarta, kemarin 5 November 2018. Sebagai pembicara, selain penulis buku, juga Prof. Azumardi Azra (UIN), dan saya sendiri, MAS Hikam (Presiden University).

Pemaknaan ulang dan terus menerus terhadap Pancasila sebagaimana dilakukan oleh penulis buku ini sangat penting utk terus menerus dilakukan sesuai dengan dinamika bangsa dan negara RI. Menurut Prof Azumardi, peremajaan (rejuvenation) dalam pemahaman Pancasila penting dilakukan karena perkembangan dan tantangan bangsa di masa kini dan depan berbeda dengan sebelumnya, khususnya ketika ancaman radikalisme berkedok agam menjadi salah satu masalah global.

Indonesia sangat beruntung telah memiliki Pancasila sebagai acuan dasar kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga dapat menghindari dan mampu menghadapi ancaman dan bahaya radikalisme. Dibandingkan dengan negara-2 di kawasan Timteng dan Asia serta Afrika, Indonesia bisa menjadi contoh bagaimana ummat Islam mampu menjawab radikalisme bersama komponen lain melalui sebuah landasan ideologi Pancasila.

Saya sepakat dengan pandangan beliau seraya menambahkan bagiamana lingstra global, regional dan nasional kini sedang menghadapi maraknya politik identitas, yang bisa positif tetapi juga negatif bagi kehidupan dan tatanan negara-bangsa. Saya mengutip pandangan Francis Fukuyama, dalam bukunya Identity (2018) yang menganalisa fenomena krisis global dan kegagalan negara maju menjawab tantangan politik identitas, Salah satu solusi yang diajukan Fukuyama adalah penting suatu "kredo identitas nasional " (national creed of identities) sebagai landasan masuarakat modern menjawab tantangan tsb.

Bagi saya, Pancasila yang dijadikan sebagai falsafah kehidupan bangsa, ideologi dan dasar negara, merupakan kredo tsb yg ternyata mampu menyatukan dan membingkai keindonesiaan yg bhineka tsb selama ini. Kendati demikian bukan berarti bangsa ini bisa berpuas diri, karena tantangan dan ancaman radikalisme melalui politik identitas juga nyata dan berbahaya bagi NKRI. Diulai pada saat keterbukaan menjadi bagian dari reformasi dan demokratisasi pada 1998, masuk dan berkembang pula ideologi dan politik identitas yg berdimensi transnasional seperti HTI, ISIS, Al-Qaeda dll, ditambah dg yang sudah ada di dalam negeri.

Gerakan deradikalisasi sebagai instrumen membendung pengaruh radikalisme dan radikalisasi memerlukan keterlibatan seluruh komponen bangsa, termasuk kelompok beragama dan kelompok nasionalis. Salah satunya adalah menciptakan dan menyebarkan "serum" dan "vaksin" utk menangkal virus radikalisme dan mempekuat solidaritas kebangsaan. Untuk keperluan tsb, pendidikan kebangsaan, kewarganegaraan, dan Pancasila adalah sine qua non. Bentuknya bisa formal, informal, dan nonformal dalam masyarakat sipil dan ditopang secara penuh oleh negara.

Buku ini sangat baik utk menjadi salah satu sumber referensi karena berisi penafsiran ulang Pancasila dan keindonesiaan dari perspektif Islam moderat. Bukan saja ditulis dengan pendekatan keilmuan sosial dan filsafat kritis, tetapi juga diperkaya dengan tilikan strategis yang aktual saat ini. Lebih menarik lagi, buku ini juga menggunakan pemikiran alm Gus Dur yang diuraikan secara gamblang, dan narasi yang menarik bagi pembaca umum. Jika buku ini digunakan sebagai model bagi upaya pemaknaan ulang terhadap Pancasila oleh komponen-komponen bangsa, termasuk kalangan lintas-agama di Indonesia, niscaya akan sangat membantu akselerasi dan perluasan gerakan deradikalisasi tsb.

Simak tautan ini:

https://www.timesindonesia.co.id/read/188727/20181106/053612/muhammad-as-hikam-paham-radikal-ala-hti-mulai-merongrong-pancasila/
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS