Sunday, February 3, 2019

BADUT "YES", BADUT POLITIK "NO"


Siapa yang tak suka badut? Tanpa badut, maka pertunjukan sirkus jadi hambar; ibarat sayur tanpa garam. Badut juga akrab dengan anak-anak dan semua anak kayaknya suka kepada badut. Kalau ada anak yang tak suka atau ketakutan terhadap badut, sang orang tua mesti waspada. Bahkan kalau perlu, konsultasi dengan psikolog. Badut adalah profesi yang wajib diapresiasi karena membuat orang gembira dan bahagia.

Karenanya, alangkah sayangnya jika para badut ingin berubah profesi jadi politisi dan/ atau masuk parlemen. Terlepas dari soal hak asasi dan profesi, rasanya malah akan merugikan kalau badut tidak ada. Pagelaran sirkus jadi tak menarik dan anak-anak akan kesepian dengan absennya mereka. Tanpa mengurangi rasa hormat tanpa bermaksud melanggar hak asasi mereka, saya berharap dan lebih senang jika para badut tidak tertarik beralih profesi jadi politisi atau nyaleg.

Tetapi ada yang lebih penting lagi: Jangan pula karena tidak ada badut jadi politisi, lalu para politisi bertindak seperti "badut politik" (dalam artian pejoratif). Badut politik hanya menjadi lucu-lucuan, bahan guyonan, dan olok-olok di mata masyarakat karena kapasitas mereka yang rendah dan kekonyolan perilakunya. Hasilnya, pekerjaan utama mewakili & memerjuangkan kepentingan rakyat yang telah memilih mereka terbengkalai.
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS