Thursday, December 26, 2019

HAUL GUS DUR KE 10: SOLIDARITAS KEUMMATAN & KEMANUSIAAN


Fokus wacana dan kiprah terkait solidaritas keislaman (ukhuwwah Islamiyyah) seharusnya tidak hanya ditujukan kepada kaum Muslimin yang mengalami penindasan (legal, politik, sosial dan budaya), di negara2 "Selatan" (South) seperti Cina, Myanmar, India dsb., tetapi juga di negara-2 maju di Utara (North) dan adikuasa seperti AS & Eropa.

Fakta menunjukkan bahwa Presiden AS, Donald J. Trump, adalah sorang Islamophobe, anti imigran Muslim, dan mengangkat pembuat kebijakan-2 publik yang berpandangan rasis terhadap non kulit putih seperti penasehat bidang maslah imigran, Stephen Miller.

Jika memang solidaritas keummatan para elit dan tokoh Islam di Indonesia konsisten, dan dibarengi dengan solidaritas KEMANUSIAAN, maka seharusnya mereka juga bersuara kritis terhadap Presiden Trump. Protes2 mereka tak hanya tertuju kpd masalah Rohingya dan Uighur saja, tetapi juga tertuju kepada para pemimpin dan negara adikuasa, sperti AS dan Trump.

Sikap kritis terhadap para penindas dan penguasa rasis serta anti Muslim tak bisa hanya "pilih-pilih tebu" dan berdasar kepentingan kelompok, partai, atau strategi politik sempit. Jika sikap itu yang dipakai, maka akan menciptakan backlash alias pukulan balik, seakan2 solidaritas keislaman hanya terbatas pada keberadaan kepentingan sesaat dan sempit . Membela ummat Islam di Rohingya atau Uighur, umpamanya, akhirnya akan menuai tudingan "anti-Myanmar" dan "anti-Cina." Membela hak-hak dasar ummat Islam di AS dan di Rusia dan Eropa lantas terstigma "anti-AS," "anti-Rusia", dan "anti-Eropa," dst.

Solidaritas keislaman dan pembelaan thd kaum Muslimin pada aras global adalah bagian dari, dan harus dilakukan bersamaan dengan, solidaritas kemanusiaan. Hanya dengan perspektif tsb maka ukhuwwah Islamiyah akan terhindar dari jebakan politik sektarian dan permainan kekuatan2 politik global.

Salam rangka memeringati Haul almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke 10 pada bulan Desember 2019, sudah sepantasnya juga mengaktualisasikan pemikiran2 beliau. Salah satunya adalah keselarasan antara tiga dimensi solidaritas "keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan" yg menjadi salah satu legacy almaghfurlah dan para ulama nahdliyyin. Dunia sedang terancam oleh bahaya yg datang dari ideologi2 ekstrem, termasuk di antaranya rasisme dan radikalisme berkedok ajaran agama-agama.

Simak tautan ini:

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS