Friday, October 1, 2010

DUKUNGAN RI TERHADAP NUKLIR IRAN: SEBUAH "LOGICAL CUL DE SAC?"

Oleh Muhammad AS Hikam
President University


PLTN Busher  di Iran

Baru kali ini saya menghadapi sebuah logical cul de sac alias jalan buntu logika dalam skala sangat serius. Kenapa? Karena sikap Pemerintah Indonesia, cq Menlu, yang memang benar-benar defying logic alias mengingkari logika ibarat mengingkari hukum grafitasi. Coba anda camkan: bagaimana mungkin sebuah negara yang Pemerintahnya tidak punya sikap serius dan sungguh-sungguh dalam pengembangan PLTN untuk keperluan penyediaan energi alternatif di dalam negeri, lantas omong di forum antar-bangsa bahwa ia mendukung Program Nuklir (bukan saja PLTN, tetapi mungkin lebih dari itu) yang sedang digalakkan negara lain, dalam hal ini Iran. Padahal program nuklir negeri yang satu ini dianggap sangat kontroversial di mata sebagian negara adidaya yang bahkan telah memberikan sanksi kepada siapapun yang dianggap bekerja dengannya.


Jangan salah, saya pribadi pun mendukung program nuklir Iran tersebut, sejauh hal itu hanya terbatas pada pembangunan PLTN. Dan saya juga tidak setuju dengan AS dan negara-negara Eropa yang tanpa menggunakan argumen dan bukti-bukti konkret lalu memanipulasi PBB untuk memberikan sanksi kepada Teheran. Padahal lembaga PBB seperti IAEA saja tidak punya keberatan Pemerintah Iran membangun instalasi nuklir, karena tidak ada bukti bahwa ia sedang menciptakan senjata pemusnah massal (WMD). Kalau toh Iran kemudian menjadi anggota klub Nuklir (nuclear club), ya biar saja, karena memang  kemampuannya dalam Iptek ini telah sampai. Hal itu adalah realitas yang harus diterima oleh siapapun. Jadi saya samasekali tidak keberatan dan tidak menolak soal program nuklir Iran.

Saya hanya kehilangan kemampuan memahami sikap Pemerintah RI yang, menurut saya, sangat tidak konsisten, untuk tidak menyatakan hipokrit, mengenai pengembangan dan pembangunan PLTN di dalam negeri sendiri. Sebab bagi saya, pengumuman yang dibuat oleh Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa (MN) ini menunjukkan untuk kesekian kalinya sikap Pemerintah Indonesia yang hanya paying lip service alias bermanis mulut terhadap negara sahabat (Iran), tetapi sejatinya tidak memiliki keberanian untuk berbuat secara riil. Kalau memang Pemerintah Indonesia jujur dengan diri sendiri, maka seharusnya bukan saja dengan gagah mendukung program nuklir Iran, tetapi juga melakukan dan memacu proses pembangunan PLTN di negeri sendiri yang juga sudah merupakan sebuah keharusan bagi strategi energi nasional masa depan.

Faktanya adalah, Pemerintah Indonesia tidak pernah tegas, konsisten, apalagi berani berkomitmen dengan rencana yang telah dibuatnya, dan juga menapaki jalan yang telah diretas oleh para pendiri bangsa, khususnya (alm) Presiden Sukarno, dalam mengembangkan Iptek Nuklir untuk kesejahteraan bangsa. Kendati negeri ini telah merintis Iptek Nuklir dan berhasil menguasai Iptek ini jauh sebelum Pakistan, Korea, Jepang, dan mungkin India, tetapi sampai detik ini ternyata masih belum memiliki PLTN. Indonesia sudah menjadi guru dan tempat belajar dari negara-negara yang sekarang telah dan, sedang menyiapkan diri, masuk dalam klub nuklir. Namun ketika tiba saatnya negeri ini memerlukan sebuah PLTN, ternyata pemerintahnya menjadi bungkam seribu bahasa, dan paling-paling menggunakan jurus menunda atau mbulet, melingkar-lingkar tak berujung pangkal..

Dengan segala macam alasan dan dalih yang acap kali tidak dapat dipertahankan oleh nalar sehat, sebagian oknum Pemerintah dan pihak luar (termasuk NGO dan para pakar dan cendekiawan) rame-rame menghimpun kekuatan untuk menghadang pembangunan PLTN. Anehnya, ketika berada dalam forum antar-bangsa, Menlu kita dengan gagah perkasa (dan jelas berbeda dengan ketika menghadapi kasus intrusi kedaulatan negara oleh Malaysia) melakukan pembelaan terhadap negara sahabat yang program nuklirnya sedang ditentang negara-negara besar! Alangkah hebatnya, alangkah heroiknya, tetapi, pada saat beramaan, juga alangkah lebay nya! Inilah yang saya katakan di atas sebagai logical cul de sac.

Mungkin pemerintah Indonesia mencoba menarik hati Iran, seolah-olah negeri para Mullah itu tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan proyek PLTN RI. Saya menjadi teringat dengan mantan Duta Besar Republik Islam Iran di Indonesia, Mr. Behrouz Kamalfandi, ketika suatu saat ngobrol dengan saya tentang urusan PLTN ini. Beliau sangat menyayangkan sikap yang tidak supportif dan tidak jelas terhadap pengembangan PLTN di Indonesia sehingga terjadi stagnasi seperti sekarang. Tentu saja, karena sopan santun diplomatik Mr. Kamalfandi tidak menunjuk hidung siapa yang punya sikap seperti itu. Namun, saya rasa, orang tidak harus punya IQ 200 untuk tahu di mana alamat para peragu tersebut!

Pemerintah RI sudah melakukan sebuah sikap yang menurut saya sangat riskan untuk citra dirinya dan, bahkan,  bangsa Indonesia secara keseluruhan di mata internasional. Indonesia punya resiko menjadi bahan lelucon bangsa-bangsa lain karena mengatakan sesuatu yang begitu besar dengan gaya yang gagah, padahal ia tidak menjalankan apa yang dinyatakan itu di rumah sendiri. Sebagai seorang Muslim, saya langsung ingat sebuah Firman Allah swt: "Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu berkata tentang sesuatu yang tidak kamu sendiri kerjakan? Hal yang SANGAT DIBENCI ALLAH SWT adalah manakala kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. As-Shaf:1-2).

Masih adakah dari anda yang heran kenapa negeri ini selalu mendapat cobaan dari Allah swt? Jawabnya, mungkin karena para penguasa dan pemimpin negeri ini suka mengatakan hal-hal yang dirinya sendiri tidak mau mengerjakannya. Dalam soal PLTN dalam negeri, Pak Menlu  MN dengan sangat apik telah memberikan contoh terbaik!


Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS