Wednesday, April 4, 2012

SETELAH DI "PERSONA NON-GRATA" OLEH SETGAB, MASIHKAH PKS AKAN NGOTOT DI KABINET?


Palu telah diketokkan oleh Ketua Setgab, Pak SBY, buat anggotanya yg mbalelo. PKS dinyatakan persona non grata dan posisi di Kabinet akan dilukir. Ini barangkali sanksi politis yg menurut Pak SBY efektif tetapi tidak frontal. Kalau PKS masih ngotot memertahankan para Menterinya (pdhal dia sudah dicoret), maka publik akan makin sinis kepada parpol Islam itu. Tapi kalau Pak SBY frontal memaksa menteri-2 PKS hengkang, resikonya bisa dipakai sebagai "pendzoliman." Tinggal bagaimana PKS meyakinkan publik sehingga posisi yg rumam ini akan berbalik menguntungkan. Namanya juga politik transaksional!
‎Dalam teori dan praksis politik demokratis, parpol anggt koalisi yg sudah "persona non grata" pasti (bukan hanya umumnya) akan mundur dan menarik para Menterinya dari Kabinet. Namun, sistem koalisi parpol di Indonesia kan memang aneh bin ajaib, dan tidak pernah dipraktikkan oleh siapapun di dunia. Makanya, jangan heran kalau PKS masih ngotot memertahankan para mentrinya dg segudang alasan dan dalil-2 keagamaan, sama juga PD akan mencari-2 argumen membela keputusan absurd tsb.

Namun, dunia akan menjadi saksi bhw partai berdasar agama Islam ini adalah contoh konkret dr suatu nafsu berkuasa yg menghalalkan segala cara. Agama menjadi sekadar legitimasi belaka sementara prilaku jauh menyimpang. Sebagai seorang ilmuwan politik, saya terus terang sedih tetapi juga bersyukur kepada Tuhan. Karena kasus PKS ini adalah bukti paling konkret bhw yg bisa berprilaku hipokrit itu bukan hanya parpol sekuler, tetapi juga parpol berbasis agama (Islam). Entah sampai kapan Indonesia harus menderita seperti ini?
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS