Sunday, December 2, 2012

WAWANCARA IMAJINER DENGAN GUS DUR (18): HEBOH BHATOEGANA

Seperti kebiasaan almaghfurlah Gus Dur, beliau sering menerima tamu pagi sekali. Saya pun kali ini datang agak pagi supaya masih fresh. Sesampai di tempat tingal beliau, suasana hening dan temaram karena sang Surya belum sepenuhnya berbinar. Gus Dur baru saja selesai wiridan atau tadarusan ketika saya masuk. Beliau tampak heran karena tak biasanya saya sepagi itu)

Oleh: Muhammad AS Hikam

"Lho, Kang, sampeyan?" Sebelum saya mengucap salam beliau sudah keburu menegur.

"Assalamu'alaikum, Gus. Inggih, saya pagi-pagi.." Jawab saya, seraya  menyalami dan mencium tangan beliau.

"Waras, tah? Gimana kabar keluarga sampeyan...Kita ngobrol sambil jalan-jalan pagi saja ya?.." Kata beliau sambil berjalan keluar.

"Apa tidak ganti pakaian dulu, Gus, kan masih sarungan gitu, hehehe..." Tanya saya sambil menginthil di belakang.

"Alah gak usah, wong tidak jauh-2 saja. Lagian pake sarung kan malah demokratis, hehehe..." Canda GD"Hahahaha... jadi inget kata Habib Umar Muthohar, Semarang Gus. Kata beliau, sarungan itu pakaian paling demokratis, gak ada halangan, hahaha..."

"Hehehe... lha, bener kan, hehehe...!" GD pun ngakak di keheningan pagi."Tumben rada pagi sampeyan, tidak ngantor to?" Tanya GD setelah kami berjalan di jalan setapak yg asri dan di kanan-kirinya tanaman pagar berbunga warna warni. Burung-burung mengikuti kami dari dahan ke dahan sambil menyanyi memuji kebesaran Ilahi. Sebuah pagi yg sangat memesona.

"Sekarang saya punya banyak waktu, Gus, karena tiidak lagi menjabat jadi Wakil Rektor di Kampus. Saya sekarang konsentrasi mengajar saja." Kata saya

"Ooo ngono to.. Lha kenapa kok berhenti?" Tanya beliau

"Sudah tiga tahun menjabat Gus, cukuplah. Kan tidak bagus kalu lama-lama. Lagi pula saya harus tahu dri, fisik kan tidak muda lagi, hehehe..." Jawab saya

"Alaaah, sampeyan ada ada saja, saya dulu seusia sampeyan masih kluyuran tiap hari dari pagi sampai pagi lagi, bahkan ke luar negeri kan?"

"Lha memangnya siapa yang bisa menandingi stamina, panjenengan Gus? Masih inget gak saya hampir kolaps gara-2 dua hari ggak tidur mengikuti njenengan keliling, malah njenengan tertawakan itu ...?" Kata saya mengingatkan."Hehehe.. soalnya samopean gak bisa tidur kalau tidak ngglethak dulu. Kalau saya, begitu masuk mobil langsung bablas, kan?"

"Nah, itulah Gus. Jadi kalau saya mulai mikir kesehatan badan karena ya dasarnya fisik saya tidak sedahsyat njenengan..."

"Lha terus ngapain sampean setelah tidak jadi wakil Rektor?" Lanjut GD bertanya

"Kan saya masih mengajar dua kali seminggu, seminar sana sini. Ngamen lah Gus, seperti dulu dengan njenengan. Sambil ngurusi Group The Gusdurians, hehehe... Belakangan makin rame yg ikutan, Gus. Berkat karomah dari panjenengan.." Kata saya

"Ada perkembangan apa kok rame?" Tanya beliau

"Hehehe.. njenengan sudah tahu urusan Sutan Bhatoegana dari Partai Demokrat kan Gus?"

"Kan sudah selesai, masak mau rame lagi?" Kata beliau sambil berhenti di sebuah perempatan. Di sebelah kanan ada taman yg asri dan beliau lantas ke sana."Memang sudah selesai tapi ya namanya Indonesia Gus, yang begitu-2 kan buntutnya selalu ada. Dan bisa lebih rame lagi. Makanya saya mau nanya panjenengan soal itu?" Saya mulai memancing beliau

"Soal apa yg ditanyakan?"

"Sudah tepat nggak Gus, penyelsaian dg minta maaf itu?" Tanya saya

"Wah sampean kayak gak tahu saya saja, Kang. Lha buat apa sih repot-2 urusan gitu saja. Kalau saya dikritik, dilecehkan dan dipanas-panasi itu kan sudah sego jangan kehidupan saya dulu. Kalau Pak Bhatoegana lalu minta maaf kan sudah bagus, urusan selesai. Asal tidak diulang lagi saja.." (sego jangan = nasi dan sayur, ungkapan Jawa Timuran utk hal yg sudah biasa).

"Saya malah pernah dibilang kafir, atau tidak Islami, atau tetek bengek lainnya oleh mereka2 yang marah dengan saya. Saya biarkan saja, karena semakin marah dan semakin ngaco omongan mereka, berarti saya yang benar atau setidaknya kiprah saya membuat mereka merasa terganggu." Lanjut beliau."

"Iya benar Gus, itu ada pentolan FPI namanya Muhsin Alatas yg ikut-2an nimbrung, menyebut panjenengan walinya setan segala." Kata saya

"Hehehe... ya itulah orang-2 yang tidak paham. Justru saya kasihan sama orang seperti itu, karena saking pengennya terkenal harus nimbrung cari sensasi."

"Hehehe.. inggih Gus, saya juga menulis begitu. Kalau seandainya njenengan ditanya urusan Bhatoegana, pasti njenengan akan ngendiko 'halah gitu aja dipikirin'. Gak keliru ya Gus?"

"Bener, Kang. Yang penting semua jadi sadar bahwa rakyat itu tidak tidur atau lupa kepada pemimpin yang memang diakui kepemimpinannya. Kalau ada yg mencoba mendistorsi atau manipuasi, maka spontan rakyat akan bereaksi menolak. Kan banyak yang mengaku pemimpin tapi dibiarin atau malah dihujat diam-2 oleh rakyat. Ya seperti yg sampean sebut namanya itu tadi.""Terus kira-kira apa dampaknya bagi partai Pak Sutan, Gus?"

"Ya tergantung pada apakah para elite partainya bisa mengubah persepsi masyarakat yg sudah miring thdnya. Kan elite partai itu banyak yag terlibat kasus mega-korupsi. Jadi tidak salah kalau rakyat menjauhi partai itu di seluruh negeri. Bukan hanya karena urusan Bhatoegana dengan saya. Itu masalah tambahan saja. Intinya ya karena kelakuan elite partai itu yang  mencederai amanat rakyat."

"Kan masih ada yang mau memperpanjang soal Bhatoegana itu seakan-akan permintaan maaf kepada keluarga Ciganjur tdak cukup. Alasannya karena njenengan kan mikik bangsa, bukan cuma milik keluarga atau nahdliyyin saja." Saya mencoba mempertajam pertanyaan.

"Yang begitu-2 mah lagu lama, kerjaan orang-2 yang tidak punya kepercayaan diri, sehingga harus manipulasi dan membonceng keributan. Itu paling-2 kan orang partai atau politisi yg bingung menghadapi Pemilu 2014 karena parpolnya tenggelam dan tidak diakui lagi oleh rakyat,para Kyai, dan nahdliyin.. Biasa lah Kang, orang-2 hobbinya memancing di air keruh." Jawab GD rada ketus.

"Hahaha... rasanya benar Gus karena ada yg mulai membawa membela nama njenengan untuk mobilisasi opini yang arahnya kepada dukungan parpol tertentu.."

"Gak usah pake tertentu, Kang, semua sudah tahu partai apa itu kok, hehehe..." GD sudah tertawa lagi.

"Jadi soal Bhatoegana ini sebenarnya nggak usah direkasi terlalu serius kalau gitu Gus?"

"Sebenarnya tidak kalau dari sisi saya pribadi yang sudah kenyang di lecehkan, tetapi dari sisi rakyat lain, bisa serius juga. Cuma rakyat juga tidak ingin masalah ini diperpanjang karena mereka kan bukan politisi, hahaha... Mereka maunya kan agar pemimpinnya jangan dilecehkan atau difitnah. Kalau sudah minta maaf secara terbuka, ya sudah. Itu saja saya rasa."

" Ya Gus, semoga tidak ada yang ngaco lagi untuk komoditas politik." Kata saya

"Dan juga agar kita belajar memaafkan. Kan kata Gandhi, hanya orang yang punya bkarakter kuat yg bisa memaafkan. Nah artinya kalau kita tidak mau memafkan orang yg sudah mengaku salah, kita ini malah jadi orang yg karakternya lemah. Cuma ada tambahannya Kang..." Kata GD sambil senyam senyum.

"Apa Gus?" Saya agak heran.

"Kata Presiden Kennedy almarhum 'berilah maaf, tetapi jangan pernah lupa nama orang itu', hahaha..."

" Hahaha.. bener Gus supaya tidak diulangi lagi di lain waktu. Kalau maaf-maaf melulu tapi balik lagi kan percuma. Oke Gus, saya pamit dulu, matahari sudah tinggi." Kata saya sambil salaman dan mencium tangan beliau.

"Gak sarapan di sini saja sampean?"

"Lain kali saja Gus, Assalamu'alaikum.." "Salam, Kang... salam saya untuk keluarga di rumah ya.."

"Inggih Gus, pareng.."
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS