Sunday, August 11, 2013

WAWANCARA IMAJINER DENGAN GUS DUR (21): IDUL FITRI 1 SYAWAL 1434H

(Sepotong pagi yg cerah dan indah di tempat istirahat almaghfurlah Gus Dur. Kembang-2 mekar dan harum semerbak, nyanyian burung-2 yg memuji kebesaran Allah swt terdengar merdu, gemericik air sungai menambah keteduhan hati siapapun yang mendengarnya. Sungguh indah dan mempesona suasana pagi hari Idul Fitri ini. Gus Dur tampak sumringah dan siap menerima tamu, seperti layaknya ketika beliau masih di ndalem Ciganjur saja. Saya beruntung datang lebih awal, sehingga beliau bisa ngobrol lebih banyak dengan saya).


Oleh Muhammad AS Hikam


"Assalamu'alaikum... Minal Aidin wal Faizin, ngaturaken sedoyo kalepatan kulo, nyuwun pangapunten njih Gus.." Saya menyalami dan mencium tangan beliau sambil mengucapkan selamat lebaran dan mohon maaf ala Jawa Timuran.

"Salam, Kang.. yo wis podho-podho... Piye sampean waras, tah?" Sambut GD sambil menyilakan duduk

"Njih Gus, alhamdulillah, saya dan keluarga baik-2 saja. Ini saya masih sedang dalam pengobatan terus Gus, setelah bulan Mei lalu operasi." Kata saya.

"Lho, lha sakit apa sampeyan? Pantesan sudah lama nggak ke sini. Semoga cepat sehat ya Kang.." Kat beliau..

"Ya Gus, ada kena penyakit di gusi saya yang mengharuskan dioperasi, tetapi Insya Allah sudah lumayan sekarang." Jawab saya

"Alhamdulillah... Gimana kabar di Indonesia, Kang, semoga lebarannya semarak ya?" Tanya GD

"Tahun ini lebarannya bisa bersama-sama walaupun mulai puasanya ada yang tgl 9 ada yang 10 Juli, Gus. Suasana puasa di Jakarta rada berbeda karena hampir tiap hari mendung. Malah pas lebaran ada yang kebanjiran juga..."

"Tapi kan gak pake ribut-ribut soal beda awal puasanya?"

"Yah biasa, Gus. Kalau gak ribut kan bukan Indonesia. Saya malah bilang itu ciri khas Islam Indonesia yang tidak ada di negara-2 berpenduduk mayoritas Muslim lain di dunia. Masih soal klasik beda pendekatan lalu dianggap masalah keimanan, sorga dan neraka, dll..." Kata saya.

"Hehehe... ya memang proses pendewasaan dan menjadi bangsa beradab itu lama, Kang. Yang sabar saja dan tetap istiqomah untuk memerjuangkannya. Salah satunya bagaimana memahami perbedaan dan menjadikannya pendorong kemajuan, bukan pertengkaran dan kemunduran.." GD menjelaskan.

"Oh iya Gus, alhamdulillah juga, buku saya tentang panjenengan juga terbit bulan Agustus ini.."

"Bagus Kang. Lalu sampean beri judul apa?" Tanya beliau.

"Judulnya tabarrukan dengan judul buku njenengan, Gus, 'GS DUR KU, GUS DUR ANDA, GUSDUR KITA'. Semoga njenengan berkenan saja Gus.."

"Alah.. itu boleh-boleh saja, yang penting isinya bisa membuat pembaca semakin memahami perjuangan kita."

"Insya Allah Gus, dan ini memang buku pertama saya yang tidak berpretensi ilmiah, tapi santai-santai saja. Supaya yang membaca tidak harus berkerut kening karena bahasa yang rumit seperti buku-2 saya lainnya."

"Ya memang harus macam-macam cara memberikan wawasan, Kang, tergantung tujuan dan target audiensi kita. Tulisan-tulisan saya juga banyak yang ringan walaupun ada juga yang berat." GD menjelaskan.

"Inggih, Gus, doakan saja nanti banyak yang membaca. Yang jelas artikel-2 dalam buku tsb juga sudah diposting di wall facebook dan di blog saya, hanya beberapa dimodifikasi supaya sesuai dg format buku, Gus..."

"Amiin... semoga hasil maksud sampeyan..."

"Gus, dalam suasana puasa dan lebaran tahun ini, masih ada perkembangan yang memrihatinkan. Misalnya masalah warga Syi'ah di Sampang, kekerasan dengan berkedok agama di Kendal, ancaman terorisme, dan yang seperti itu. Rasanya bukan makin berkurang Gus, tetapi makin bertambah tak terkontrol..."

"Ya bagaimana bisa berkurang kalau baik Pemerintahnya maupun para agamawannya tidak mampu memberikan solusi yang cepat dan tuntas?" GD memotong cerita saya.

"Tampaknya publik juga melihatnya demikian, Gus. Terutama mereka kecewa dengan perbedaan antara apa yang diucapkan oleh elit Pemerintahan dengan apa yang dilakukan di lapangan. Pidato-2 selalu terkesan tegas dalam penyelesaian, tetapi di lapangan ya tetap terjadi. Bahkan kelompok kekerasan berani menuding Presiden sebagai pecundang dan tukang menyebar fitnah segala. Apa tidak luar biasa itu, Gus?"

"Itu indikasi hilangnya marwah penguasa dan menurunnya kepercayaan rakyat. Pemimpin itu kan legitimasinya bukan saja legal formal dan politik saja, tetapi juga moral dan etsi. Jatuhnya rezim-2 otoriter yang sangat kuat secara politik dan legal formal, adalah karena krisis legitimasi moral. Itu muncul ketika rakyat makin tidak percaya kepada omongan dan tindakan para pemimpinnya." Kata GD panjang lebar.

"Kalau pertanggungjawaban para agamawan bagaimana Gus?" Saya bertanya.

"Ya tidak jauh beda dengan Ulil amri atau penguasa. Ulama dan agamawan juga harus punya kapasitas memahami persoalan secara komprehensif, bukan sepotong-2. Aapalagi jangan sampai hanya melihat sebuah masalah seperti Sampang, GKI Yasmin, Ahmadiyah, dll dari kacamata pemahaman sempit alirannya sendiri. Mereka harus paham lebih dulu  konteks dimana masalah itu berada dikaitkan dengan kepentingan yang lebih besar, seperti bangsa dan negara Indonesia. Kalau hanya menggunakan kacamata kuda menurut kepentingan aliran, madzhab, ormas, gerakan, dsb., ya hasilnya malah tidak keruan. Semua akan mengklaim paling benar dan ujung-2nya malah merusak persaudaraan dan solidaritas kebangsaan serta kemanusiaan.."

"Apakah menurut njenengan Ulama dan agamawan kita masih belum berkembang pemikirannya, Gus?"

"Kalau dari segi pemikiran teknis keagamaan mungkin bagus-2 saja. Yang saya dari dulu khawatir adalah kapasitas memahami masalah yang lebih luas, misalnya relasi agama dan negara dalam konteks keindonesiaan. Lalu masalah perlindungan HAM dengan prinsip-2 Islam. Demikian juga pemahaman tentang bedanya ajaran agama dengan ideologi yang memakai nama agama. Pemahaman itu yang harus terus menerus dibangun dengan baik, sehingga tidak 'njomplang' antara dinamika masyarakat modern dengan pemahaman keagamaan para Ulama dan agamawan."

"Kalau dibanding dengan negara-2 di Timur Tengah, seperti Mesir, Iran, Saudi, Pakistan, Turki, bagaimana Gus?"

"Sebenarnya, Indonesia masih beruntung memiliki organisasi dan gerakan Islam yang besar dan berpengaruh namun tidak eksklusif serta radikal. Sehingga relasi antara negara dan Islam bisa terjembatani dengan baik sejak kemerdekaan. Bukan berarti tidak pernah ada gesekan, misalnya antara kelompok sekuler-nasionalis dengan Islam. Tetapi titik temu bisa dicapai dengan menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai asas bersama."

"Tetapi kini kan marak gerakan radikal yang menolak Pancasila dan menginginkan sistem Khilafah atau penerapan Syariat Islam di Indonesia, Gus?"

"Di masayarakt dan negara manapun yang begitu-2 itu selalu ada. Sejauh Pemerintah dan Ulama serta agamawan bisa membuat kebijakan, aturan main, serta program-2 yang berlandaskan Konstitusi serta dijalankan dengan konsisten, saya kira kelompok radikal seperti itu dapat dibatasi ruang geraknya. Yang repot kan kalau ada di antara elit di pemerintahan, kalangan Ulama dan agamawan malah ikut-2an mendukung gerakan radikal Islam itu, baik langsung maupun tidak.."

"Kembali ke soal Sampang dan Kendal itu Gus?"

"Menurut saya terpulang kepada Pemerintah. Kalau selalu tidak konsisten antara omongan dan kenyataan di lapangan, maka kemungkinannya bisa kehilangan legitimasi moral itu. Dan repotnya kalau rakyat lantas mengambil tindakan sendiri-sendiri sehing bukannya kekerasan itu dapat dibatasi, tetapi malah makin besar. Dan anarki serta khaos pun bisa terjadi. Yang dirugikan akhirnya ya bangsa Indonesia sendiri, tak peduli yg Muslim maupun yang non Muslim."

"Kalau demikian, apa harus menunggu Pilpres, Gus?" Tanya saya.

"Salah satunya, tetapi pemimpin kan tidak harus yg formal, Kang. Justru saya kira penyiapan dan kederisasi dalam masyarakat sipil yang penting diperhatikan. Lihat saja para pemimpin ormas Islam yang malah ngompori terjadinya kekerasan dan pelanggaran HAM seperti yang sampeyan sebut di Sampang dan Kendal dll itu.."

"Trimakasih Gus, mendapat pencerahan di hari Idul Fitri ini..."

"Namanya saja Idul Fitri, artinya kembali ke asal yang murni. Jadi kita ummat Islam harusnya selalu ingat 'sangkan paraning dumadi'' kalau memakai istilah kebijaksanaan Jawa."

"Asal usul dan tujuan kejadian kita sebagai manusia, njih Gus.."

"Lha iya... Setiap tahun setelah melaksanakan pembersihan rokhani selama sebulan berpuasa, kita kembali mengingat 'sangkan paraning dumadi'  sebagai manusia. Insya Allah kalau itu dilaksanakan, akan muncul kemampuan memahami kehidupan dan tantangannya."

"Amin Gus, saya nyuwun pamit dulu, Insya Allah nanti sowan lagi. Assalamu'alaikum Gus.." Saya pun menyalami dan mencium tangan beliau.

"Salam Kang, hati-2 ya dan salam untuk keluarga dan sahabat."



Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS