Friday, December 27, 2013

WAWANCARA IMAJINER DENGAN GUS DUR 22: HAUL KE 4 (2009-2013)



Oleh: Muhammad AS Hikam

(Suasana hening menyelimuti pesanggrahan tempat Gus Dur beristirahat. Sesekali sayup angin sepoi berderai membawa harumnya bunga-bunga dari taman yang tak jauh dari sana, menambah kesegaran sore yang agak temaram menjelang senja. Mendekati jendela depan, samar-samar saya mendengar ada yang sedang ngobrol dengan Gus Dur. Saya pun seperti biasa, langsung masuk ke ruang tamu yang luas. Dan benar, beliau sedang ada tamu yang orangnya pun telah sangat saya kenal..)

"Assalamu'alaikum, Gus.." Sambil mendekati beliau, saya mengucapkan salam..

"Salam, Kang, piye waras tah? Ini kebetulan ada tamu, Cak Nur.." Kata GD sambil mengulurkan tangan yang langsung saya salami dan cium.

"Assalamu'alaikum cak Nur.." Saya menyapa beliau sambil menyalami.

"Wa'alaikum salam, mas Hikam.. Gimana kabarnya?" Tegur cak Nur (CN) dengan senyum dan tatapan mata beliau yang lembut. Wajah beliau sangat segar dan tak lagi perlu memakai kacamata, sama seperti GD.

"Alhamdulillah cak, sehat-sehat saja. Insya Allah baik-baik semua Gus." Jawab saya kepada kedua beliau.

"Gus Dur barusan saja ngrasani sampeyan, katanya sudah agak lama gak berkunjung..." kata CN.

"Wah, ngapunten, Gus, rada sibuk beberapa bulan terakhir ini, terutama setelah buku saya terbit ini." Jawab saya sambil menoleh GD.

"Ah gak apa-apa, gimana sukses buku sampeyan?" Tanya GD

"Alhamdulillah, sudah lima kali dibedah di beberapa Kota. Dua kali di Jakarta, dua kali di Bali, dan kemaren di Jombang, Gus?" Say menjelaskan sambil duduk berseberangan dengan kedua beliau.

"Di Jombang? Dimana sampeyan bikin acara?" Tanya GD.

"Di Klenteng Hok Liong Kiong, Gus. Tapi kerjasama dg Ponpes Tebuireng, dan kelompok lintas-agama, sekaligus memperingati Haul njenengan yang ke 4.." Jawab saya.

"Oh itu kan kelenteng yang deket Ringin Conthong itu, khan?" Tanya CN.

"Iya agak lurus lalu kekiri. Jl. RE Martadinata itu lho." GD menjawab.

"Inggih, saya lewat Jl. Presiden KH Abdurrahman Wahid, yg dulunya Jl. Merdeka itu, Gus, hehehe.." Saya guyoni beliau

"Nah itu, mestinya kan jl. Nurcholish Majid, wong cak Nur duluan pergi kok, hehehe...." GD tertawa

"Hehehehe...." CN dan saya ikut tertawa.

"Insya Allah, nanti orang Jombang akan menamakan salah satu jalan besar dg nama cak Nur." Seloroh saya.

"Sampeyan ini ada-ada saja.." Kata CN sambil senyum lebar.

"Lha terus siap saja yang bicara di acara bedah buku sampeyan kemaren?" Lanjut GD.

"Ada Gus Solah, Pak Bingky Irawan, Pdt. Simon Filantrofa, selain saya sendiri, Gus."

"Omong apa Bingky?" Kata GD sambil senyam-senyum.

"Lho, Pak Bingky bagus cerita soal kasus tuntutan terhadap Pemerintah yang melarang warga Tionghoa di Surabaya mendaftar pernikahan mereka di Kantor Catatn Sipil, dan njenengan ikut bantu sampai sukses." Terang saya.

"Oh soal itu. Bingky memang tokoh Konghucu yang cukup vokal waktu itu, padahal Pak Harto masih kuat." Kenang GD

"Inggih Gus. Dia juga cerita ikut lawatan Presiden ke Beijing, yang saya ikut dan juga Haji Masnuh.."

"Cerita apa?"

"Hehehe.. waktu itu saya diajak Pak Bingky dan H. Masnuh kluyuran keluar tempat peristirahatan rombongan Presiden. Begitu balik lagi dicegat petugas-2 Papampres RRC dilarang masuk. Padahal njenengan perlu Pak Bingky untuk dikenalkan dalam jamuan makan resmi. Makanya njenengan marah sama Pak Bingky dan dia bilang yang ngajak ngluyur saya, hehehe.." Kata saya penjang lebar.

"Wong  anggota rombongan Presiden kok ngluyur gak lapor Paspampres.." Kata GD mengenang.

"Ah, biasa itu.. Gus Dur sendiri kan hobinya menolak protokol. Makanya nular.." Celetuk CN

"Lha iya, cak. Presidene, Mentrine, sak pengawale pisan, podho sak enake dhewe, hahahaha..." GD pun ngakak

"Hahahaha....." Ruangan pun penuh tawa kami bertiga.

"Padahal sebenarnya itu ulahnya Haji Masnuh, karena dia diundang teman-2nya dari KADIN China untuk makan malam, lalu ngajak saya dan Pak Bingky, yg bosan di tempat yang dijaga ketat..." Saya menjelaskan duduk perkaranya.

"Tapi ngomong-2, buku mas Hikam itu judulnya apa sih?" Tanya CN

"Judulnya meniru judul buku Gus Dur, cak, 'Gus Dur Ku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita'. Kan mirip dg 'Islam Ku, Islam Anda, Islam Kita' tulisan beliau.." Jawab saya.

"Banyak yang datang, kang?" Tanya GD.

"Alhamdulillah, Gus, dari lintas agama, mahasiswa, anak-anak pondok. Kan ada hiburan Barongsay segala."

"Oh iya ya, bossnya Barongsay ya Bingky itu.." Kata GD

"Pokoknya mas Hikam, kalau urusan klenteng, Barongsay, dan sebangsanya, Gus Dur paling top." kata CN

"Setuju Cak, wong menurut wargaTionghoa, Gus Dur itu levelnya sudah mirp dengan Toapekong, hehehe.." Kata saya sambil tertawa.

"Dan menurut Gus Dur beliau kan masih keturunan jauh keluarga Tionghoa dari marga Tan, inggih Gus?" Tanya CN

"Ya memang, kalau diurut sampai ke sana. Ini kan masih suasana Natalan ya. Gimana kang, masih ribet?" Tanya GD

"Masih Gus, malah ada tren baru, pemasangan spanduk yang menganjurkan ummat Islam tidak memberikan ucapan selamat Natal dengan mengutif fatwa MUI segala.." Kata saya.

"Pancet ae MUI kuwi, dari dulu mas Hikam..." Celetuk CN.

"Lha iya, kalau pemahaman para elit agama ttg kehidupan berbangsa dan pergaulan dalam masyarakat majemuk dangkal, ya gitu itu hasilnya. Dari dulu saya tidak setuju fatwa-2 MUI yang seperti itu. Lagi pula, MUI kan bukan lembaga Negara. Ia juga bukan organisasi yang memiliki anggota seperti NU atau Muhammadiyah dll. LSM pun bukan. Lalu buat apa fatwa MUI dipakai rujukan, kalau bukan untuk kepentingan politik kelompok sempit dan jangka pendek? Persis seperti zaman Orba.." Sergah GD agak keras.

"Ya sudah jelas lah Gus, kalau dari segi kapasitas dan kualitas mestinya minta fatwa itu ke ulama-2 NU atau Muhammadiyah, dll yang memang punya otoritas dan tidak tergiur oleh kepentingan jangka pendek.." Kata CN

"Dan menurut aparat kemanan makin kuat lho Gus, kecenderungan ancaman thd keamanan publik saat Natal sampai Tahun Baru. Kabarnya lebih dari Rp 3 triliun angaran disiapkan Pemerintah untuk mengantisipasi keamanan di seluruh negeri dalam kurun waktu yg demikian singkat." Sambung saya.

"Pemerintahnya juga sih yang dari dulu tak tegas dalam menyikapi kelompok radikal.." Keluh CN.

"Bagaimana bisa tegas kalau di dalam elit pemerintah juga ada oknum-oknum radikal, cak?. Sudah gitu ya takut tidak populer kalau bersikap tegas terhadap sekelompok orang yang suka bikin kekerasan." Kata GD

"Nanti dianggap membenci sesama Muslim Gus.." Kata saya

"Itu kan mirip kaset yang selalu diputar sampai lecek, sementara kekerasan tak berhenti. Kemarin Ahmadiyah, hari ini Syiah, besok non Muslim, dan seterusnya..." GD menegaskan.

"Mestinya Pemerintah jangan hanya mencari selamat untuk cari popularitas saja. Ketidak-tegasan dan pembiaran kan sama saja dengan kekerasan itu sendiri, karena memberi peluang pihak-2 yang suka kekerasan untuk melanjutkan kegiatannya." Kata CN

"Ya cak, tampaknya makin banyak kritik yang mengarah ke sana, bukan saja di tingkat nasional tetapi juga internasional. Seandainya njenengan berdua ada di Indonesia, mungkin bisa ikut cawe-cawe..." Sambung saya.

"Alaaah, kan sudah ada banyak penerus saya dan cak Nur. Pokoknya teruskan saja perjuangan kerukunan lintas-agama dan prinsip anti kekerasan serta solidaritas kebangsaan. Asal konsisten dan sabar, Insya Allah, akan mencapai tujuan. Itu yang keras-keras kan nanti berhadapan dengan rakyat yg menolak dijadikan korban kepentingan politik jangka pendek. Sekarang belum, tetapi saya rasa akan berubah. Sampean percaya saja sama rakyat, kang..." GD menjelaskan panjang lebar.

"Inggih Gus, memang kenyataannya kekerasan dari ormas garis keras mulai dilawan rakyat, seperti di Kendal, di Palangkaraya, di Bali, dan di Jatim juga Gus.." Kata saya.

"Nah kan, itu yang akan menjadi tren. Tetapi ya jangan dibiarkan perlawanan rakyat itu tanpa kendali. Soalnya kalau sudah marah, rakyat pun bisa destruktif." Kata GD.

"Benar Gus Dur, negeri kita sudah terlalu banyak menyaksikan 'sejarah kemarahan' yang akhirnya malah merugikan diri sendiri dan bangsa. Termasuk internal ummat Islam, yang seharusnya berperan sebagai pengayom dan pelindung kaum minoritas, malah menjadi wahana kekerasan terhadap sesama kaum Muslimin..." Sambung CN.

"Inggih Gus Dur  dan Cak Nur. Rasanya sudah lama saya mengganggu, mohon pamit dulu. Yang jelas saya sudah lapor bahwa buku saya ttg panjenengan diterima publik dengan cukup antusias. Termasuk wawancara imajiner itu banyak disukai, Gus." Sayapun berdiri sambil beranjak dan menyalami kedua beliau.

"Ya kang, salam untuk Mbakyu dan putrimu ya.. Sudah krasan di Indonesia?" Kata GD sambil jalan mengantar ke halaman.

"Sudah Gus, dan sudah mau sekolah lagi, karena sudah setahun di Jakarta sejak lulus S-1. Mau ambil S-2 di Hawaii kayak bapaknya, hehehe.."

"Ambil studi apa, mas, putrinya?" Tanya CN

"Anak saya tertarik dg bidang sel punca (stem cell), cak. Dulu S-1 nya Teknik Kimia, lalu dia kerja di Lab penelitian stem cell di Jakarta. Mhn doanya Cak, semoga lancar studinya." Kata saya.

"Insya Allah, itu kan bidang keilmuan masa depan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Semoga anaknya sukses mas dan menjadi pelopor di bidangnya. Aminn.." Kata CN

"Amin.. Assalamu'alaikum Gus, Cak..."

"Salaam..." Jawab beliau berdua.



Jakarta, 27 Desember 2013
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS