Sunday, February 16, 2014

MENYIMAK OMONGAN PRAMONO TENTANG UTANG LUAR NEGERI

Ada "unen-unen" (ungkapan) Jawa "Bener ning ora Pener" atau benar tetapi tidak tepat, karena tidak kontekstual. Ucapan Pramono Edhi Wibowo (PEW) mengenai utang Indonesia sebagai bentuk kepercayaan dunia, mungkin saja benar. Nalar yg dipakai oleh PEW adalah, jika tidak dipercaya mana mungkin diberi utang oleh pihak lain. Kalau orang mau daftar sebagai pemilik kartu kredit pun, akan dilihat riwayat kreditnya. Jika orang sering hutang dan membayar dengan tepat waktu, maka ia dianggap layak (feasible) menjadi pemilik kartu kredit. Di AS malah agak ekstrem: kalau orang tdak pernah berhutang, konon, malah kemungkinan diragukan kelayakan dirinya sangat tinggi sebagai calon peminjam. Jadi logika PEW ada benarnya. Masalahnya, statemen itu tetap harus diletakkan dalam sebuah konteks tertentu agar tepat sasaran. Ibarat mengatakan bahwa jika orang sering ke RS, berarti ia sehat. Bisa jadi benar kalau konteksnya adalah karena ia sering cek kesehatan. Tetapi menjadi tidak tepat jika konteksnya karena ia penyakitan. Negara yang hutangnya bejibun dan bertahun-tahun terus bertambah dan rakyatnya yg berada di bawah garis kemiskinan tetap tinggi, tentu adalah negara bermasalah. Belum lagi jika ditinjau dari perspektif politik-ekonomi hutang. Hutang juga merupakan senjata efektif dari negara-2 kuat untuk membuat negara-2 miskin senantiasa tergantung (dependence) dan bisa dikontrol. Hutang bisa menjadi jebakan (debt trap) yg akibatnya sangat mengerikan bagi pemerintah dan rakyat negara-2 penghutang. Jadi bukan karena ia dipercaya, tetapi karena ia akan dijadikan target penguasaan! Belum lagi kalau bicara soal harga diri dan kedaulatan sebuah bangsa. Ibaratnya, orang yang bersih dari hutang akan cenderung merasa punya harga diri dibanding yg hidupnya tenggelam dalam hutang. Negara pun demikian, jika hutang bertumpuk dan rakyatnya miskin, maka kemana-2 akan menjadi pariah dalam pergaulan antar-bangsa. Elit politisi seperti PEW harus hati-2 dalam memberikan argumen kepada rakyat yang akan diminta dukungannya. Orang bisa saja senyum-2 dan mengangguk-anggukkan kepala di hadapannya seakan-akan sepakat, tetapi dalam hati mengatakan "ini statemen bener tetapi tidak pener"...

Selanjutnya baca tautan ini:

Share:

1 comments:

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS