Thursday, March 27, 2014

LARANGAN FILM 'NOAH' SEBUAH REFLEKSI INFERIORITAS BUDAYA




LARANGAN FILM NOAH: Keputusan Lembaga Sensor Film (LSF) yg melarang peredaran film Noah (2014) garapan Darren Aronofsky (DA) ini menjadi bukti betapa rendahnya jeblognya mutu para elit kita, khususnya di bidang seni. Larangan tayang film tsb memakai alasan "konten dari Noah itu tidak sesuai dengan yang diyakini, atau tidak sesuai dengan cerita dalam kitab suci.." Alasan lain adalah karena "larangan peredaran film yang dilakukan sejumlah negara di Timur Tengah..." karena "adegan-adegan dalam film tidak sesuai dengan ajaran Islam." Keberadaan LSF atau dulu BSF atau lembaga tukang sensor film lain (kalau ada) belum bisa meyakinkan saya bahwa mereka ini bermanfaat, khususnya dalam rangka membuat bangsa ini lebih cerdas dan punya apresiasi budaya yang tinggi. Bahkan, hemat saya, lembaga itulah salah satu dari berbagai penyebab mengapa perfilman Indonesia tidak pernah benar-benar mampu untuk menunjukkan potensi yang sejatinya tak kalah dengan negara dan bangsa lain. Kasus pelarangan film Noah ini makin menambah keraguan tsb. LSF seperti polisi pikiran (thought police), penghalang kreatifitas, dan bahkan pemaksa thd keyakinan orang yang merupakan hak asasi. Timbul pertanyaan saya jangan-2 LSF adalah lembaga yang kontradiktif dengan perkembangan peradaban dan kemanusiaan?. Alasan LSF melarang Noah, bg saya sangat norak. Para oknum di LSF, entah dengan mandat dari siapa, berpretensi menjadi penentu tafsir keyakinan mana yang benar dan yang tidak. Begitu pula menggunakan negara-2 Timur Tengah sebagai pertimbangan pelarangan. Ini adalah semacam rasa inferioritas dan ketidak mandirian budaya. Sebab belum tentu negara-2 Timur Tengah itu memiliki kompleksitas dan historisitas budaya, dan/atau memiliki kondisi kemasyarakatan yg sebanding dengan yg ada di Indonesia. Tindakan LSF sudah mirip-2 diktator yang memaksakan mana yang boleh dan tidak boleh dilihat oleh publik. Dan seperti lazimnya tindakan diktator, apa yang dilakukan LSF tidak akan efektif atau akan mencapai tujuan yaitu membuat publik tidak menonton film tsb. Malah sebaliknya, larangan tsb seperti iklan gratis bagi film tsb. Lalu buat apa LSF bikin keputusan seperti itu? Atau, maaf, apakah lembaga ini memang masih perlu ada sich?
Share:

1 comments:

  1. Sepakat. Saya juga menulis opini saya di Kompasiana:
    http://hiburan.kompasiana.com/film/2014/04/03/tidak-sepantasnya-noah-dilarang-644194.html

    ReplyDelete

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS