Wednesday, March 19, 2014

MEMBACA NALAR DI BALIK KRITIK ANDI ARIEF THD JOKOWI

MEMBACA 'NALAR' ANDI ARIEF TENTANG JOKOWI: Andi Arief (AA), yg dikenal sebagai staf khusus (stafsus) Presiden SBY bidang Bansos dan Bencana, akhir-2 ini laris menjadi nara sumber media, khususnya RMOL, untuk kampanye negatif menyerang capres PDIP, Gubernur Joko Widodo (Jokowi). Karena posisinya sebagai punakawan Istana dan latarbelakang sebagai aktifis, maka omongan AA dianggap akan mampu untuk menciptakan opini negatif yang akan bisa menyebar melalui media sosial. Beberapa tesis gunakan AA sebenarnya simpel saja (no brainer) dan sudah sering disebarluaskan oleh para pencinta teori konspirasi, yakni: 1) Fenomena Jokowi adalah sebuah orkestrasi sekelompok pengusaha yang ingin menguasai pemerintahan melalui Megawati dan PDIP; 2) Megawati tidak mampu "menahan tekanan faksi non ideologis yang di belakangnya pengusaha campuran hitam dan putih..."; 3) Jokowi bukan seorang yang memiliki kapasitas memimpin, namun kemudian melejit karena ia "bersedia menjadi figur representasi pengusaha." Jokowi tampil populis "di depan rakyat, namun di depan pengusaha lakukan sejumlah kompromi." Menggunakan tesis-2 itu, AA mencap Megawati dan PDIP dibawah tekanan Jokowi yang  "kongkalikong dengan pengusaha mengancam penarikan dukungan modal pemilu legislatif 2014 ini." Jika orang yg memakai sedikit saja kecerdasannya untuk membaca tesis-2 AA tsb, segera menemukan kelemahan nalar yg mendasar dan absurditas argumennya. Mislanya: 1) AA tidak pernah menunjukkan siapa pengusaha atau kelompok pengusaha yg dimaksud. Terutama, apakah mereka ini adlh orang-2 yg semuanya BERBEDA dg para pengusaha yg sekarang juga mendukung Presiden SBY, atau SAMA (setidaknya sebagian)?. Kalau ada yg sama, berarti AA juga sedang menuding Pemerintah/kekuasan dimana ia berada; 2) Menganggap Jokowi hanya boneka pengusaha dan menafikan kapasitasnya, sama saja menganggap bodoh jutaan rakyat yg ada di Solo, Jakarta, dan sebagian Indonesia bahkan publik dunia yg memberikan keperayaan kepadanya. Mungkin saja popularitas Jokowi sebagian dihasilkan oleh kampanye media, tetapi tidak berarti ia ia sama sekali tak memiliki kapasitas atau serendah yg dicoba diremehkan oleh AA; 3) Menganggap Megawati tunduk total terhadap tekanan konspirasi pengusaha-Jokowi, sama juiga meremehkan kepribadian dan kemampuan Megawati yang (suka atau tidak) telah mampu melewati gelombang politik sejak masa Orba sampai saat ini. Kalaupun Ketum PDIP tsb melakukan berbagai kompromi politik (politis mana sih yang tidak kompromi?) pun tidak mungkin begitu mudah ditekan oleh seorang Jokowi dan para pengusaha (yg tidak jelas itu); dan 4) Kalaupun secara hipotesis ada pengusaha-2 (putih dan hitam) yg berada di belakang Jokowi, apakah AA ingin mengatakan bhw penguasa yg sekarang dia dukung dan dirinya sendiri bersih dari dukungan kekuatan pengusaha (yang mungkin ada yg hitam dan putih)? Saya sangat meragukan validitas penalaran yg digunakan AA dlm kampanye negatif thd Jokowi. Demikian pula, saya yakin, sebagian besar publik dan rakyat Indonesia yg jelas masih waras. Hanya para pendukung konspirasi yg cenderung ekonomis dalam kecerdasan dan kejujuran saja yang senang dan mau menyebar-2kan omongan sampah seperti itu untuk menghancurkan proses sekesi kepemimpinan nasional yang sehat dan demokratis. 

Selanjutnya baca tautan ini:

http://www.rmol.co/read/2014/03/19/147837/Membaca-Trending-Topic-#jokowiberkhianat-
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS