Wednesday, March 19, 2014

JOKOWI DAN PDIP PERLU GUNAKAN STRATEGI KAMPANYE YG FEMINIS

Kendati survei yg dilakukan oleh Indikator Politik Indonesia (IPI) ini dilakukan sebelum pengumuman pencapresan Jokowi, tampaknya posisi Gub. DKI tsb masih tetap unggul (leading) ketimbang para pesaingnya, termasuk Prabowo Subianto (PS). Bahkan dlm survei ini ketika responden diminta ditanya jawaban spontan (top of head answer), Jokowi sangat dominan yakni sekitar 22%. Memang ini belum setinggi ketika Pak SBY dulu nyapres (2004, 2009), tetapi kalau dibanding pesaingnya Jokowi jauh lebih dipilih ketimbang lainnya termasuk Megawati. Namun demikian tak berarti Jokowi dan pendukungnya sudah bisa ongkang-2. Sebab masih ada celah bagi lawan utk menggoyang popularitasnya dg memakai kampanye hitam seperti menyebar terus menerus dan sistemstis tudingan sebagai orang yg tak amanah atau belum berhasil mekakukan pembenahan Jkt selama setahun setengah pemerintahannya bersama Ahok. Ini mengharuskan PDIP dan pendukung Jokowi utk tdk melayani dg cara sama atau respons2 yg vulgar thd tudingan miring tsb. Pendukung Jokowi perlu mengcounter dg kampanye santun dan low profile spt yg dicontohkan oleh sang capres sendiri ketika menjawab serangan boss Gerindra, PS, atau desakan media agar beliau menunjukkan reaksi keras. Tentu ini tak gampang, sebab media cenderung akan menggunakan pihak yg lemah (the underdog) sebagai darling mereka dan pihak yg unggul sebagai sasaran untuk dibully. Jokowi dan PDIP perlu mendesain kampanye mereka lebih "cool" dengan sentuhan2 feminin yg menawarkan nuansa2 kelembutan, ketenangan, rekonsiliasi, dan anti kekerasan serta kebersamaan. Pada akhirnya publik Indonesia umumnya lebih simpatik kepada pihak yg didzolimi terapi mampu bertahan dan tdk terpancing. Dan Jokowi sudah terbukti piawai menggunakan strategi kampanye positif dalam beberapa kali pilkada sebelumnya.

Selanjutnya baca tautan ini:

http://m.rmol.co/news.php?id=147776
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS