Saturday, March 29, 2014

MENOLAK JOKOWI MELALUI DISTORSI AJARAN AGAMA

Dukung mendukung atau kritik mengritik capres merupakan hak dari semua warganegara, termasuk para pengamat. Hanya saja jika para pengamat mulai kelewatan alias lebay tentu harus diperingatkan, atau setidaknya dipertanyakan. Contohnya, pengamat dari Universitas Trisakti (Usakti) yang konon pakar bidang perkotaan, Yayat Supriyatna (YS), ini. Entah karena saking dia sudah suntuk atau karena memang menganggap dirinya juga ahli agama, maka kemudian argumennya menjadi aneh. Dia mengatakan kalau orang Jakarta melepas Jokowi sebagai capres, artinya mereka sama saja dengan "melepas rahmat Tuhan." Alasan YS adalah karena pasangan Jokowi-Ahok, oleh warga DKI "dinilai merupakan rahmat dan anugerah dari Tuhan kepada masyarakat Ibu Kota." Sepintas, omongan ini seperti memuji Jokowi yang memberikan harapan baru kepada Jakarta. Namun saya yakin tujuannya 'sebelas-duabelas' saja dengan para penolak pencapresan Gub. Jokowi. YS memang tidak sevulgar Ridwan Saidi (RS) atau petinggi Gerindra yg menganggap Jokowi itu tidak konsisten, bohong, penghianat, tak layak, dll. Tetapi gaya YS juga tak kalah lebay, karena mengapropriasi Tuhan dan memakai wacana agama secara distortif. Benarkah jika rakyat Jakarta merelakan Jokowi jadi Presiden RI, mereka sedang melepas rahmat Tuhan, seperti kata YS? Saya kira tidak. Justru warga Jakarta sedang berupaya (berijtihad) mencari rahmatNya yang lebih besar lagi. Jika Jokowi dlm posisi Presiden, maka beliau bisa lebih kuat mendukung Gubernur DKI yg baru nanti, Ahok, dalam mewujudkan berbagai program pembangunan Jakarta. Bukankah salah satu kendala yg dihadapi Jokowi-Ahok adalah ketidak pedulian pemerintah pusat ketika mereka berdua sedang bekerja keras mengatasi banjir, kemacetan lalu lintas, dan pembenahan infrastruktur kota?. Bukankah Pemerintah Pusat yg semestinya ikut bertanggungjawab dalam beberapa bagian, ternyata malah hanya belagak pilon?. Dlm kasus mengatasi kemacetan, Pemerintah Pusat malah punya rencana mobil murah yg jelas bertentangan dg rencana Pemda DKI. Jika tafsir ini dipakai, maka YS sejatinya telah melakukan distorsi terhadap pemahaman ajaran tentang sikap menerima dan melepas rahmat Tuhan. Dan distorsi seperti ini tak lebih hanyalah salah satu modus penolakan thd pencapresan Jokowi dengan selubung wacana akademis dan agamis, sehingga terdengar manis, menarik, dan penuh pujian. Ibarat racun yang dioleskan pada buah apel yg ranum...

Selanjutnya baca tautan ini:

http://megapolitan.kompas.com/read/2014/03/28/0536377/Pengamat.Apa.Warga.Jakarta.Rela.Melepas.Rahmat.Tuhan.?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kpopwp
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS