Saturday, April 5, 2014

BELAJAR DARI TURKI: PARPOL ISLAM DAN STIGMA DEMOKRASI

Tanpa sengaja, pagi ini saya membaca sebuah artikel menarik dari portal berita "Today's Zaman", sebuah media Turki yg dekat dengan tokoh Muslim, Fethullah Gulen, pendiri gerakan civil society global bernama Hizmet . Artikel yg ditulis Rana Yutsever (RY) itu bercerita ttg bagaimana kiprah kelompok uumat Islam Turki setelah munculnya Partai Pembangunan dan Keadilan (AKP) di bawah Recep Erdogan (RE) sejak 2002 di Turki. Tak dapat dibantah bhw AKP telah menunjukkan kekuatan politik Islam dan berbagai keberhasilan, termasuk demokrasi di negara mayoritas berpenduduk Muslim di Eropa itu. Namun ironisnya, justru ummat Islam Turki kini menghadapi dilemma setelah RE dan AKP melakukan kebijakan yang anti demokrasi, seperti menutup akses twitter dan YouTube untuk sementara, gara-gara kedua jejaring media itu digunakan utk memyiarkan informasi yang dianggap merugikan RE dan AKP. Informasi tsb terkait dg praktik korupsi terstruktur dalm parpol Islam tsb dan tentu saja terkait dengan RE dan beberapa elit AKP. Menurut RY, kasusu ini merupakan sebuah peringatan (wake up call) bagi ummat Islam Turki yang konservatif, bahwa munculnya parpol Islam dalam kekuasaan di Turki tidak menjadi jaminan bhw mereka akan lebih demokratis dibanding ketika di bawah rezim sekuler yang ditopang militer Turki. Jika dulu ummat Islam dilarang berpolitik dan melaksanakan hak asasi mereka oleh rzim militer, kini demokrasi yang dinikmati baru beberapa tahun juga mulai terancam justru oleh sebuah Partai Islam. Kiprah parpol Islam yg anti demokrasi tsb, menurut RY ada miripnya dg aksi teror tgl 11 September di New York yg dilakukan 19 orang teroris beragama Islam teapi berhasil menciptakan stigma buruk kepada seluruh ummat islam di dunia!. Perbandingan RY mungkin terlalu keras, tetapi saya kira penting utk diperhatikan oleh ummat Islam di Indonesia yg adalah pemilih terbesar di negeri ini. Pengalaman Turki jangan sampai terjadi di Indonesia, di mana parpol-2 Islam yg marak dan berkembang pasca-reformasi malah menjadi sumber dari matinya demokrasi akibat kiprah para elitnya yang tak becus dan koruptif. Pemilu 2014 saya kira adalah kesempatan bagi ummat Islam Indonesia untuk menilai secara kritis apakah parpol-2 Islam layak dipilih dan dipercaya sebagai pengawal demokrasi. Jangan hanya karena sentimen primordialisme dan ideologi sempit maka kepentingan ummat dan bangsa menjadi tergadaikan dan stigmatisasi negatif thd Islam dan ummat Islam di negeri ini akan terus terjadi. 

Selanjutnya baca tutan ini:

http://www.todayszaman.com/blog/rana-yurtsever_343693_a-conservative-muslims-new-mission.html
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS