Sunday, May 11, 2014

KOALISI PKB DG PDIP, "TOO LITTLE AND TOO LATE"

Idiom dalam bahasa Inggris itu dipakai utk menggambarkan suatu bantuan/upaya/usul yg dilakukan sudah terlalu lambat sehingga nyaris tak ada gunanya. Itulah pengumuman PKB-Imin soal koalisi dengan PDIP dalam urusan pencapresan Jokowi.

Mengapa saya katakan demikian?: 1) PDIP dan Nasdem sudah cukup untuk mengusung Jokowi dan pasangannya pasca-Pileg, sehingga momentum keikut sertaan PKB-Imin tidak berpengaruh secara prosedural; 2) Dari sisi substantif, PDIP dan Jokowi tidak terlalu terikat dengan PKB-Imin soal sosok yg akan diusulkan sebagai cawapresnya. Jokowi bisa memilih siapa saja, karena restu partai itu tidak penting; 3) Kalaulah PKB-Imin menyodorkan tokoh sekaliber Mahfud MD yg sangat kuat sebagai cawapres, itu sudah terlalu terlambat dan baru muncul setelah Imin tak laku dijual maupun ditawarkan untuk pasangan cawapres siapapun (Prabowo, Ical, Dahlan Iskan, dll);

4) Menyodorkan nama Rhoma Irama (RhI) hanyalah taktik Imin dkk utk menyenang-2kan dan menutupi kesan menyia-2kan sang Raja Dangdut yg akan berpotensi diprotes oleh para pengikutnya. Padahal harapan RhI, kendati secara realistis sulit diraih, dia diperjuangkan habis2an oleh PKB-Imin sebagai capres; 5) Keterlambatan keputusan PKB Imin utk koalisi dg PDIP, juga sangat merugikan Mahfud MD (MMD), tetapi menguntungkan Imin dkk. MMD rugi karena dirinya harus berjuang sendirian, sehingga daya tawar beliau kurang kuat ketika harus melobi parpol-2 besar. Imin beruntung karena posisi dirinya mengambang (floating). Jika nanti MMD gagal jadi cawapres, Imin tinggal bilang sudah memerjuangkan (dg mengusulkan nama MMD wlpn sangat terlambat), tetapi kalau berhasil akan mengkapitalisasi habis-2an.

Mengapa PKB-Imin menggunakan taktik mulur itu? Bisa jadi karena Imin dkk khawatir akan potensi ancaman dari MMD jika beliau menjadi cawapres. Independensi MMD dan ketegasan beliau tak akan menguntungkan secara politik bagi PKB Imin ke depan. Taktik mengulur waktu untuk dua tujuan: pertama agar secara formal MMD dan pendukungnya dlm PKB-Imin tersalurkan aspirasinya, kedua, MMD tidak akan terlalu kuat posisi tawarnya jika berhadapan dg JK yg sejak awal didukung Nasdem, atau Ryamizard Ryacudu (RR) yang sangat dekat dengan mBak Mega.

Analisis di atas tentu tak berlaku jika pada detik-2 terakhir nanti PDIP memutuskan utk memilih MMD sebagai cawapres Jokowi. Namun sampai status ini ditulis, pemberitaan media ttg kandidat cawapres Jokowi cenderung menunjukkan bahwa JK dan RR lebih ungggul ketimbang MMD. Bahkan ketika nama Abraham Samad (AS) juga diorbitkan oleh media, tampaknya mulai menggeser nama Gurubesar Hukum tsb. Walhasil, bagi MMD keputusan PKB-Imin utk bergabung dg PDIP dan menyodorkan nama beliau sebagai cawapres merupakan sebuah upaya yang bukan saja terlalu lambat, tetapi juga terlalu kecil!


Baca tautan ini:

http://nasional.kompas.com/read/2014/05/10/2157004/PKB.Akan.Tawarkan.Rhoma.dan.Mahfud.sebagai.Cawapres.Jokowi

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS