Monday, May 26, 2014

SIAPA YANG SEBENARNYA OMONG KOSONG ?

Ketua Umum PKB-Imin, Muhaimin Iskandar (MI) bersikukuh bhw dirinya dan partainya tidak menyia-nyiakan Mahfud MD (MMD) dan Rhoma Irama (RhI). Dia mengatakan bahwa partainya punya "tiga kandidat untuk diusung dalam Pemilu Presiden 2014, yakni Rhoma, Mahfud, dan Jusuf Kalla. Dari tiga kandidat itu, kata dia, PKB memutuskan memilih JK."  Karena PKB-Imin tidak bisa menyalonkan JK sebagai capres, maka mantan Wapres itupun dicalonkannya sebagai cawapres mendampingi Jokowi.

Dalam salah satu status, saya sudah pernah memprediksi bhw Imin akan menggunakan dalih itu jika ada yang mempertanyakan kenapa MMD tidak diajukan sebagai cawapres. Hakekatnya, PKB-Imin memang hanya memanfaatkan MMD dan RhI sebagai penggalang suara (votegetters) partainya dlm pileg 2014. Setelah selesai, maka berlakulah peribahasa 'habis manis sepah dibuang'. Terbukti, MMD menyatakan dlm salah satu acara TV One, Respons, bahwa dirinya semula yakin akan diusulkan sebagai cawapres. Bahkan MMD pernah mengemukakan kepada media bhw dirinya adalah cawapres usulan PKB-Imin. Namun kenyataannya nama yg muncul adalah JK. Statemen MMD ini sama dengan laporan utama (laput) Majalah Tempo edisi terakhir, bahwa Imin hanya mengajukan mantan Wapres SBY tersebut dalam rapat koalisi (PDIP, Nasdem PKB-Imin, dan Hanura). Dalam laput tsb tidak ada berita bhw PKB-Imin menyorongkan nama MMD, apalagi memperjuangkan dg gigih Gurubesar Ilmu Tatanegara tsb!

Sementara itu, ihwal RhI malahan lebih memelas lagi. Raja Dangdut itu sudah pecah kongsi begitu PKB-Imin memutuskan gabung dalam koalisi dengan PDIP dan Nasdem. Lebih malang lagi, RhI juga dianggap PKB-Imin tidak terlalu berperan besar dalam mendongkrak perolehan dalam Pileg, sehingga oleh salah satu pentolan DPP PKB-Imin diminta untuk 'tahu diri.'

Para pendukung PKB-Imin boleh saja memuji dan membanggakan siasat MI sebagai sebuah kepiawaian berpolitik. Tetapi kepiawaian yang demikian hanya bermanfaat pada diri sendiri dan kelompok kecilnya serta berjangka pendek. Bukan bermanfaat bagi rakyat, bangsa, dan negara dalam jangka panjang. Memori rakyat dan bangsa, khususnya warga nahdliyyin, terhadap peristiwa "kudeta" terhadap alm. GD kembali muncul dan, bahkan, dengan kasus MMD dan RhI itu, kini makin diperkuat serta ditambah lagi bukti-2nya. Jika parpol yg dibidani oleh almaghfurlah GD serta para alim ulama itu kini hanya menjadi wadah bagi para Machiavellians, alangkah sangat jauh meleset dari khittahnya. Pertanyaannya adlh apakah partai tersebut perlu diselamatkan atau dibiarkan saja menjadi cacad dan catatan hitam dalam sejarah bangsa Indonesia?


Simak tautan ini:

http://nasional.kompas.com/read/2014/05/26/0559179/Muhaimin.Bantah.Siakan.Rhoma.Irama.dan.Mahfud.MD
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS