Sunday, July 6, 2014

DEBAT CAPRES-CAWAPRES TERAKHIR: ANTIKLIMAKS

Debat capres-cawapres semalam, yg merupakan ronde terakhir adalah sebuah anti-klimaks. Saya berharap bahwa dalam debata yang substansinya adalah masalah strategis bangsa ini, yaitu "Pangan, Energi, dan Lingkungan", akan menjadi petunjuk paling penting bagi calon pemilih di seluruh negeri ini mana di antara dua pasangan tersebut yang benar-benar serius, siap, dan memiliki strategi unggulan dan efektif untuk mengatasi krisis yg dihadapi bangsa ini pada ketoga bidang tsb. Kelangkaan dan ketergantungan pangan sudah membayangi negeri ini, dan prospeknya jelas mengerikan: Indonesia sebagai negara rawan pangan. Ketergantungan energi, akan melemahkan kehidupan bangsa dan keamanan nasional. Sedang kerusakan lingkungan yg semakin parah akan menjadikan Indonesia rusak ekosistemnya dan mempengaruhi ekosistem negara-2 lain.

Namun, debat yg dipandu Rektor Undip semalam, hanya mengulang mantra-mantra normatif yang sebelumnya sudah dikemukakan kedua pasangan. Soal pangan, misalnya, pasangan Prabowo-Hatta (PH) mengulangi lagi janji membuka lahan 2 juta hektar, sementara Jokowi-JK (JJ) siap dengan 1 juta hektar. Keduanya bicara peningkatan produktivitas petani dan ekspor. Memang ada beda antara PH dengan JJ di sini, tetapi pada tataran pendekatan teknis belaka, bukan pada tataran kebijakan strategis mereka. Misalnya PH menekankan ketersediaan dan keterjangkauan pangan, sementara JJ dalam penyiapan manajemen bagi para petani yg akan diminta menaikkan produktivitas mereka.

Soal energi, PH juga bergeming dg mantra peningkatan eksplorasi minyak dan gas dan peningkatan diversifikasi sumber energi terbarukan. JJ juga konsisten dengan pembangunan infrastruktur energi dan konversi pemakaiana minyak kepada gas, khusunya utk transportasi. Sama sekali tidak ada terobosan teknologi seperti PLTN, dan juga perbaikan aturan perundangan ttg energi nasional yg bertanggungjawab terhadap ketergantungan thd asing. Hatta mencoba mengkapitalisasi soal renegosiasi Tangguh, tetapi malah jadi bumerang ketika JK menunjukkan bahwa justru Pemerintah SBY telat melakukan renegosiasi tsb dg China karena seharusnya sudah dilakukan 4 tahun lalu!

Bidang lingkungan, kedua pasangan capres saya anggap tidak memiliki pandangan komprehensif mengenai lingkungan. PH memfokuskan kepada pentingnya pembatasan jumlah penduduk, dan pendidikan ttg kesadaran lingkungan. Ini tentu bagus, tetapi dalam tempo 5 tahun, program lingkungan apa yg nisa mereka tawarkan? JJ malah hanya bicara normatif soal keseimbangan pembangunan ekonomi dan lingkungan, semuah mantra yang selalu diulang tetapi seperti halnya mantra, tidak jelas apa yang akan dilakukan. Hatta malah membuat "gaffe" alias salah omong soal hadiah Kalpataru dengan Adipura yg langsung dijadikan ledekan oleh JK dg mengatakan bhw karena pertanyaan Hatta keliru, maka tak bisa dijawab.

Selain soal Kalpataru oleh Hatta, "gaffe" juga terjadi ketika Prabowo mengatakan Jokowi anti koperasi utk petani. Jokowi membalikkan pertanyaan kepada PS seakan-akan capres Gerindra tsb salah baca dan salah dengar. Bukan hanya itu, PS juga kedodoran ketika JK mempertanyakan siapa pihak yg disebut PS sebagai maling, jika bukan pihak pasangan JJ? Bantahan PS yang elaboratif malah terkesan 'backtracking'. Bahkan ketika PS mengatakan bhw dirinya tidak bisa menjamin dlm partainya tdk ada maling, justru menjadi kelemahan argumennya.

Seandainya di pihak PH tidak ada gaffe dan argumentasi yang kedodoran, saya akan mengatakan hasil debat semalam adalah imbang. Tetapi kekeliruan-kekeliruan jawaban PH akan dijadikan target plintiran di media, terutama media sosial dan berakibat kurang menguntungkan bagi pasangan tersebut. JJ tidak melakukan kekeliruan-2 seperti itu, tetapi dari sisi substansi mereka tidak ada yang baru. Walhasil, nilai debat semalam adalah sebuah anti-klimaks dari kedua pasangan.

(http://www.iberita.com/34562/rangkuman-hasil-debat-capres-cawapres-putaran-terakhir-5-juli-2014)
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS