Friday, July 18, 2014

OBSKURANTISME DI KALANGAN INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA

Ucapan ustadz Abdurrahman Qayyum (AQ) dari Makassar yang dianggap telah melecehkan profesi-2 dan etnik tertentu (wartawan, penjahit, pensiunan yg rajin bawa proposal, dan pedagang berwatak China) menjadi sebuah bukti untuk kesekian kalinya bahwa ummat Islam Indonesia sedang menyaksikan terjadinya proses pendangkalan dan kemunduran berfikir (obskurantisme) di kalangan elite terpelajarnya, karena pengabaian terhadap nalar dan nurani serta keterpukauan mereka terhadap tekstualisme dan formalisme dalam memahami ajaran agama. Ummat Islam yang memiliki ciri khas sebagai komunitas yang menjunjung tinggi nalar dan pencerahan itu kini menghadapi sebuah malaise atau kemarau dalam kemampuan berfikir para elite terpelajarnya yang mampu untuk memberikan pencerahan sekaligus pembebasan atau emansipasi terhadap keterpurukan dan keterbelakangan.

Kasus AQ di Makassar itu bisa menjadi kaca benggala betapa mudahnya ajaran Islam diplesetkan melalui tafsir sewenang-wenang dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara rasional maupun etis tanpa risi atau khawatir mendapatkan sanksi hukum dan sosial. Masih mending jika penafsir itu orang yang tidak memiliki status sebagai kaum telpelajar. Tetapi jika pelaku itu justru adalah orang yg dianggap sebagai pemilik pengetahuan agama, Ustadz, dan sangat dikenal oleh masyarakat karena ceramah-ceramahnya, maka bahayanya akan berlipat-lipat. Minimum statemen pelecehan thd profesi itu sudah menunjukkan kebodohan yg nyata, karena tidak ada profesi yang legal dan diterima oleh masyarakat yang bisa dianggap rendah. Maksimum, pelecehan tsb menunjukkan pandangan obskurantis terhadap ajaran agama yang missinya jelas ditujukan untuk memuliakan derajat manusia. Agama apapun di dunia ini saya yakin tidak ada yang mengajarkan pelecehan thd bidang kerja yg memang secara hukum dan etik diakui.

Apalagi jika kemudian pelecehan itu melibatkan etnisitas. Ini sudah lebih jauh lagi termasuk penyebaran kebencian (hate speech) yg bertentangan dengan inti ajaran setiap agama, apalagi Islam yg menjunjung tinggi kedamaian dan kasih sayang. Pertanyaannya lalu kenapa seorang Ustadz bisa dengan seenaknya mengucapkan pelecehan seperti itu di ruang publik? Saya kira ini merupakan kombinasi antara kualitas si penceramah dengan kondisi ummat Islam sendiri yg semakin kehilangan daya kritisnya. Dengan kata lain, jika komunitas Muslim itu memang kritis dan tidak permissif, maka Ustadz model begini akan tereliminasi dari percaturan publik. Walhasil, rasanya kurang fair jika kita hanya mempersalahkan AQ (yg jelas memang keliru) tetapi tidak melakukan koreksi terhadap komunitas Islam yang melakukan pembiaran terhadap maraknya obskurantisme tsb.

Saya yakin jenis-2 ustadz model AQ ini banyak berkeliaran di seantero tanah air, bukan cuma di Makassar saja. Hanya kebetulan saja omongan AQ terlaporkan oleh media karena ada wartawan yg sedang meliput dan menjadi sasaran pelecehan. Dengan demikian, rasanya akan naif jika kasus AQ ini hanya dianggap sebagai sebuah fenomena yg aneh dan tidak umum di negeri ini. Justru hemat saya sebaliknya. Kecenderungan merosotnya wacana intelektual Islam di negeri ini sangat nyata dan bisa ditemukan hampir di ruang publik dan pribadi, termasuk di jejarimg sosial media. Jika mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, maka konsekuensinya adalah kualitas bangsa ini juga tidak jauh beda dengan kualitas ummat Muslimnya. Dan jika ummat islam kini dirasuki oleh obskurantisme massif, maka bangsa ini pun mengalami nasib yg sama. 








Simak tautan ini:
  
http://regional.kompas.com/read/2014/07/17/17204131/Ustaz.Ini.Tak.Hanya.Cela.4.Profesi.tetapi.Juga.Lecehkan.Agama.dan.Suku.

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS