Saturday, November 29, 2014

DIALOG SIBER (CYBER DIALOGUE) ANTARA SBY DAN JOKOWI

Mungkin baru kali ini seorang Presiden yg baru menjabat sebulan lebih (Jokowi) dan mantan Presiden yang pernah 10 tahun menjabat (SBY), saling memposting pesan mereka yang bisa dibaca seluruh netizens. Bukan cuma itu. Entah sengaja atau tidak, pesan-2 keduanya berisi hal yg sama tetapi yg bisa ditafsirkan saling mengkritik. Substansinya adalah tenang pencitraan dan tirani kekuasaan. SBY mengatakan bahwa "(p)emimpin yg selalu dibenarkan apapun perkataan & tindakannya, tak disadari bisa menjadi diktator atau tiran." Presiden RI ke 6 itu juga menulis bahwa soal pencitraan dalam politik itu wajar, tetapi "jika sangat berlebihan bisa menurunkan kepercayaan rakyat. Angkuh terbawa, tampan tertinggal."

Presiden Jokowi juga menulis tentang bagaimana kepemimpinan idea dalam sebuah sistem demokrasi, yaitu "(k)epemimpinan yang dipercaya diperoleh melalui kesadaran rakyat atas tujuan tujuan negara." Beliau membedakan dengan kepemimpinan yang tiranikal, yaitu model kepemimpinan yang "membungkam kesadaran rakyat" melalui "bayonet atau pencitraan tanpa kerja." Kepemimpinan, masih menurut Presiden RI ke 7 itu, dibangun di atas fondasi kepercayaan (trust), sementara trust tsb  "... dibangun di antaranya oleh rekam jejak, ketulusan hati dan kesungguhan dalam bekerja.."

Bangsa Indonesia saat ini sungguh beruntung, bisa menyaksikan dan mengikuti para pemimpinnya bertukar pandangan mengenai masalah-2 fundamental seperti kepemimpinan ini. Tinggal bagaimana menafsirkan pertuklaran pikiran ini dan membandingkan dalam rekam jejak. Presiden SBY yang sudah menyelesaikan tugas secara paripurna, tentu memiliki rekam jejak yang lebih mudah dilihat dan dianalisa karena sudah terekam di berbagai dokumen, pemberitaan, dan analisis para pakar, dalam dan luar negeri. Tidak demikian dg Presiden Jokowi yang masih harus membuktikan dalam kiprah beliau selama 5 th yad. Kedua posisi tsb ada keuntungan dan kelemahan, di samping pihak yg mendukung dan yang oposan.

Inilah manfaat dari sistem demokrasi jika dilaksanakan secara nalar dan etis. Apalagi ditopang oleh teknologi komunikasi dan informasi yang semakin maju sehingga memungkinkan para warganegara (citizens) ikut berpartisipasi dalam ruang-2 publik yg bebas (free public spheres). Tentu tidak ada gading yg tak retak, termasuk manipulasi informasi dan penyalahgunaan hak dan kekuasaan atas nama demokrasi. Namun koreksi-2 terhadap dampak serta ekses negatif tesb akan bisa diupayakan jika komitmen thd demokrasi tetap dipegang baik oleh para penyelengar negara maupun warganegara.

Bravo Pak SBY dan Jokowi Teruskan berdialog dg publik!!


Simak tautan ini:

http://nasional.kompas.com/read/2014/11/28/22372321/Jokowi.Kepemimpinan.Tirani.Itu.dengan.Bayonet.atau.Pencitraan.Tanpa.Kerja?utm_campaign=popread&utm_medium=bp&utm_source=news
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

FP GUSDURIANS