Thursday, May 28, 2015

SKANDAL KORUPSI FIFA DAN KEMELUT PSSI.

Adakah kaitan antara terbongkarnya skandal korupsi di elit FIFA, organisasi persepakbolaan internasional, dengan kemelut PSSI saat ini? Secara tidak langsung tentu tidak ada dan para pendukung rezim PSSI tentu akan berusaha keras menepisnya. Tetapi secara tidak langsung, saya kira cukup valid utk mengatakan bahwa skandal korupsi di organisasi yang dipimpin oleh Joseph "Sepp" Blatter (SB) sejak 1998 itu bisa menjadi kaca benggala bagi PSSI. Setidaknya, PSSI dan elitenya punya pengetahuan dan mengikuti perkembangan internal organisasi induknya, dan sampai saat ini menjadikan sang induk sebagai pelindung utamanya. Begitu tergantungnya elite PSSi dengan FIFA, sehingga banyak orang mempertanyakan sebenarnya PSSI milik bangsa Indonesia dan tunduk pada aturan negara Indonesia atau sekadar waralaba (franchise) FIFA seperti resto McDonald, KFC, Starbucks, dll itu?

Jika anda menyimak dengan cermat tautan di bawah ini, setidaknya anda akan mengetahui bahwa prakti korupsi di FIFA sudah sangat lama dan struktural sifatynya. Jaksa Agung AS, Loretta Lynch (LL), yg mengomandoi aparat hukum dlm kasus ini mengatakan bahwa korupsi FIFA berjalan dalam kurun waktu dua generasi yg melibatkan suap (bribes) dan pembayaran illegal (kickbacks). Termasuk di sini adalah permainan dalam pemungutan suara utk menentukan negara yg dipilih sebagai tuan rumah Piala Dunia, hak siara televisi, penggelapan uang di negara-negara Amerika (Selatan dan Utara), dll. Itulah sebabnya yang ditagkap oleh agen-agen FBI di Swiss adalah oknum-2 elit FIFA dari wilayah CONCACAF dan CONMEBOL. Mereka ini adalah orang-2 yg berkewarganegaraan seperti Brazil, Cayman Islands,Trinidad dan Tobago, Nicaragua, Costa Rica, Uruguay, serta Venezuela. Jumlah uang yang dikorupsi diperkirakan triliunan rupiah yg dibagi-bagi oleh para pelakunya.

FIFA memang mirip seperti "negara dalam negara" yang anggota-2nya (209 negara) punya hanya satu suara terlepas apakah persepakbolaannya top (Jerman, Brazil, Inggris, dll) atau yg cuma gurem (Indonesia, Timor Leste, Maladewa, dll). Dengan organisasi demikian, maka tdk ada insentif bg anggota-2 FIFA utk melakukan perubahan-perubahan dan elit FIFA menjadi sangat powerful. PSSI tentu saja dapat dikatakan tidak memiliki daya tawar yg signifikan di dalam FIFA dan harus selalu tunduk terhadap keputusan sang boss. Konsekuensinya, organisasi seperti PSSI lebih "takut" kepada FIFA ketimbang kepada Pemerintah RI, karena posisi tawar negara yang sangat kecil di dunia internasional. Membayangkan Polri melakukan penyelidikan korupsi di PSSI, apalagi FIFA, misalnya, akan seperti mendaki langit, kecuali jika Pemerintah RI punya kapasitas seperti AS yang tdk akan takut dengan FIFA.

Kemelut PSSI bisa diprediksi hanya akan membuat Pemerintah Jokowi (PJ) dipermalukan jika tidak berani bersikap tegas. Tekanan-tekanan dari dalam (para pendukung PSSI dan pihak-pihak yg diuntungkan dg kondisi persepakbolaan nasional saat ini, serta para pecandu sepakbola yg tak peduli soal kekacauan organisasi sepakbola nasional itu) dan juga dari luar (FIFA, AFC, dll) akan terlalu kuat bagi Pemerintah. Apalagi jika belum apa-apa, antara PJ da Menpora di satu pihak dengan Wapres JK, Koni, PSSI di pihak lain sudah tidak akur ttg penyelesaian kemelut ini. Sepakbola Indonesia tentu masih tetap populer dan menguntungkan bagi elit PSSI dan para pendukungnya. Tetapi selama rezim PSSI ini dipertahankan, maka mengharap sepakbola nasional akan mampu berjaya di fora regional maupun internasional adalah ibarat mengharap kambing bisa terbang.

Simak tautan ini:

http://www.wired.com/2015/05/fifa-scandal-explained/
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS