Monday, July 20, 2015

WAWANCARA IMAJINER DENGAN GUS DUR (25): LEBARAN IDUL FITRI 1436 H


                                                   
Oleh Muhammad AS Hikam






Pagi telah hampir selesai ketika saya sampai di tempat peristirahatan beliau. Sinar matahari mencorong paripurna, bunga bermekaran, dan burung-burung telah berhenti menyanyikan pujian pagi. Almaghfurlah Gus Dur pas sedang akan keluar dari pintu, dan saya buru-buru menyalami beliau.
===========================================================

"Assalamu'alaikum, Gus"

"W'alaikum salam, eh Masya Allah.. piye Kang, waras tah sampeyan?" Sambut GD agak kaget.

"Hehehe... Alhamdulillah Gus. Ngaturaken sedaya kalepatan nyuwun gunging pangaksami, Gus." Kata saya setelah mencium tangan beliau, sambil mengucapkan permohonan maaf ala kampung saya di Tuban.

"Ya, wis padha-padha ae Kang. Kok sudah lama banget tidak ke sini sampeyan?" Kata beliau sambil jalan menuju taman.

"Njih, Gus. Maaf banyak kerjaan, baru saja selesai terbitkan dua buku maslah energi dan pangan, Gus." Jelas saya

"Wah, kok menulis energi dan pangan sembarang kalir, sampeyan?" Tanya GD sambil tertawa.

"Iya Gus, lha soalnya masalah-2 itu dikaji dari aspek strategis utk keamanan nasional. Lagipula kan saya cuma editornya, Gus. Penulisnya ya berjamaah, para pakar, praktisi, pengambil keputusan, dll." Saya menjelaskan.

"Penting itu Kang. Menyinergikan macem-macem pikiran itu kan tidak mudah juga. Selamat ya.."
"Suwun Gus. Kalau buku pribadi, ini nunggu penerbit dari Kompas-Gramedia. Buku saya pribadi terkait masalah radikalisme, Insya Allah, akan muncul, Gus. Mohon do'a panjenengan..""Amin..amin... Lha kalau tema seperti itu pas buat sampeyan, hehehehe..." Sambut beliau sambil ngakak."Njih Gus, tapi pendekatan saya juga masih dari perspektif masyarakat sipil, Gus." Sambung saya."Lha kan memang itu spesialisasi sampeyan. Jadi makin pas kan?" Kami berdua sudah sampai di taman dan duduk di kursi taman.

"Ada kabar apa Kang dari Indonesia?" Tanya GD sembari leyeh-leyeh di kursi memandangi taman dan ditingkah gemercik air sungai.

"Setelah Presidennya ganti dengan Pak Jokowi ini, belum banyak yang berubah, Gus. Malah akhir-2 ini beliau banyak mendapat kritik karena ekonomi sedang mengalami penurunan dan pelambatan pertumbuhan. Sudah gitu tim Kabinet beliau juga banyak disorot karena dianggap kurang kompak dan mumpuni..." Saya mencoba meringkas perkembangan terakhir

"Alaaah.. biasa itu Kang. Kita dulu juga begitu, selalu ada saja yang kurang puas. Ada yang alasannya bagus dan perlu diperhatikan, tapi banyak juga yang asal omong saja. Yang begini-2 ini biasanya karena kepentingan mereka masih belum terpenuhi. Beri waktu dulu kepada Presiden untuk konsolidasi, tapi dia juga perlu bertindak segera dan tegas..." Kata GD menyela.

"Setuju Gus. Tapi saya mau nanya dua hal kepada panjenengan Gus. Pertama terkait Muktamar NU dan kedua soal kekerasan berlatar agama yang masih terus terjadi ini."

"Muktamar memangnya ada soal apa, Kang?" Tanya beliau

"Yang sedang menjadi perdebatan itu soal cara pemilihan Rais 'Am Syuriah, Gus. Ada yg usul dengan metode ahlul halli wal 'aqdi (ahwa), tapi ada juga yang menolak karena menganggap prosesnya tidak transparan." Jelas saya

"Masih mendingan Kang, NU cuma menghadapi soal Rais 'Am. Kalau menghadapi Amien Rais itu lebih repot, hehehehe.... " (kami pun ngakak bersama).

"Kalau soal Rais 'Am itu kan terpulang kepada para masyayikh terutapa Kyai-kyai sepuh. NU kan bukan organisasi politik, walaupun cara yang digunakan selama ini dengan pemilihan langsung tetapi pernah juga metode ahwa digunakan. Syuriah itu kan lembaga paling tinggi dan sekaligus simbol kewibawaan dan kepemimpinan ulama. Yang penting kan kualitas figur Ulama yang akan dipilih sebagai Rais 'Am tsb. Bukan soal cara memilih saja yg penting. Mau dipilih dg cara apapun kkalau nanti figur Rais 'Amnya tidak mumpuni kualitasnya ya akan berdampak kurang baik bagi NU." Lanjut GD"Jadi menurut panjenengan Ahwa atau langsung itu sama saja, Gus?"

"Kan soal cara bisa dirundingkan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi yang nyata jam'iyyah NU maupun di luarnya. Cara memilih itu penting, tetapi kualitas yang dipilih juga sangat penting. Jangan hanya berdebat soal cara saja, nanti NU akan kehilangan fokus. Rais Am itu sosok yang benar-2 punya kualifikasi dan pengalaman sebagai Ulama Fiqih yang diakui oleh para ulama,  khususnya ulama sepuh NU. Sebab NU itu kan cara kerjanya banyak sekali dipengaruhi cara berfikir fiqih atau serba fiqih. Apalagi dalam mengikuti dinamika masyarakat dan negara yang semakin kompleks. Semua Rais 'Am PBNU yang saya tahu selalu adalah Ulama yang ahli Fiqih. Itu saja."

"Gitu ya Gus. Lalau soal kekerasan yang masih terus terjadi yang terkait dengan ummat beragama. Bersamaan dg Hari lebaran kemarin, di Tolikara, Papua ada bentrokan antara ummat Kristiani dengan ummat Islam ketika akan menyelenggarakansholat Ied di lapangan. Ada korban-2 kena tembakan yang menewaskan satu orang dan beberapa orang luka. Juga terjadi kerusakan properti, toko-2 dan musholla karena aksi pembakaran. Ini pertama kali lho Gus, di wilayah Papua terjadi kerusuhan seperti itu."

"Soal begitu akan terus terjadi kalau masih ada pembiaran dan ketidak tegasan dari Pemerintah, baik pusat maupun daerah. Khususnya di Papua, sampeyan tahu sendiri pendekatan saya dalam mencegah konflik komunal dan meredam separatisme. Pendekatan budaya, termasuk melalui komunitas dan tokoh-2 keagamaan, itu kunci. Bukan hanya penegakan hukum dan keamanan atau ekonomi saja." Kata GD menjelaskan.

"Tapi ada lho Gus yang menyamakan antara kasus di Papua ini dengan yang dulu panjenengan hadapi di Ambon.." Saya coba memancing reaksi beliau."Hehehe.. kalau dicari-cari kemiripannya tentu saja bisa, tetapi ya harus dipilah-pilah konteksnya. Yang penting baik aparat Pemerintah maupun para tokoh adat dan agama mau saling mendengar dan bekerja. Dan pemimpin di Jakarta juga benar-benar memperhatikan rakyat di Papua, baik yang penduduk asli maupun para pendatangnya. Memperhatikan itu bukan soal administrasi, birokrasi, dan keamanan fisik, tetapi juga kesejahteraan dan perlindungan HAM. Hak-hak adat penduduk asli mesti dipahami, dilindungi, dan dijadikan bagian integral dalam keindonesiaan. Prinsipnya, otonomi lokal setuju, separatisme tidak."Jelas beliau.

"Kalau soal pengaruh asing dan internasionalisasi oleh kaum separatis itu Gus?" Tanya saya

"Internasionalisasi itu sudah jelas akan dilakukan, wong memang sekarang dunia sudah saling tersambung dan terintegrasi. Masalahnya kan Pemerintah dan rakyat Indonesia juga bisa menggunakan jalur internasional utk mempertahankan integritas NKRI. Kalau tidak mampu menggunakan jalur internasional ya jangan salahkan lawan, salahkan diri sendiri. Malah sebenarnya masyarakat internasional akan lebih suka jika masalah Papua tidak dibawa-bawa keluar karena bisa diselesaikan. Wong ini soal rumah tangga Indonesia kok. Saya lihat ini kan cari gampangnya saja menyalahkan orang lain, tapi lupa dirinya tidak kerja dg optimal."

"Kan ada faktor kepentingan negara-negara besar Gus dalam menguasai dan eksploitasi SDA di Papua, sehingga masalah integrasi dan keamanan dijadikan tawar menawar."

"Kalau benar demikian dan kita sudah tahu demikian, kan mestinya diselesaikan dengan diplomasi yang efektif. Berbagai perusahaan besar yang berada di Papua kan juga harus tunduk kepada aturan negara yang berdaulat. Ini berarti negara mesti mampu mengatur mereka juga, jangan sebaliknya. Tapi kalau para penyelenggara negara, termasuk para wakil rakyat dan pemerintah sendiri, atau tokoh-2 masyarakatnya juga malah kongkalikong dan/ atau bisa diatur ya repot. Bolak-balik rakyatnya sudah protes supaya perusahaan-2 besar itu dievaluasi dan renegosiasi, tetap saja ndableg." Kata GD panjang lebar.

"Hehehe.... injih Gus, cekak aos nya lagi-lagi semuanya terpulang pada kemampuan penyelenggara negara dan elite masyarakat." Kata saya.

"Dari dulu intinya ya di situ Kang. Budaya politik kita masih belum jauh beranjak dari peran utama para pemimpin." Kata GD sambil tersenyum.

Karena sudah cukup lama ngobrol saya pun pamitan. 

"Matur nuwun, Gus. Saya mohon pamit dulu ya, sudah rada siang ini." Saya pun berbangkit dan menyalami serta mencium tangan beliau.

"Iya Kang, salam saya utk mbakyu dan puteri sampeyan. Semoga sukses sekolahnya."

"Amiin Gus, Insya Allah tahun depan sudah lulus S2 nya. Doakan bisa lanjut ke S-3, Gus.. hehehe..."

"Insya Allah, Kang.."

"Assalamu'alaikum, Gus..""Salaam..."


Pamulang 20 Juli 2015

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS