Saturday, September 19, 2015

DONALD TRUMP, ISLAMOPHOBIA, DAN RASISME DI AS

 
 
Seandainya Ketua DPR RI, Setya Novanto (SN) dan Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon (FZ), mau sedikit saja belajar tentang politik Amerika, sebelum bertamu dan menghadiri konperensi pers Donald Trump (DT) di New York bbrp waktu lalu, maka mereka akan berfikir ulang utk melakukan hal itu. Ketidakpahaman mereka tentang siapa DT dan pandangan politiknya, telah mengakibatkan mereka membuat statemen keliru, misalnya bahwa DT adlh orang yang baik dan ramah. Sebab, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa DT adlah sosok yang mengidap Islamophobia dan rasisme dan dikecam keras di negerinya sendiri, AS.

Bukti-2 bahwa konglomerat real estate dan perjudian asal New York mengidap Islamophobia dan rasisme kian hari kian panjang. Paling akhir adalah ketika DT sedang berkampanye di New Hampshire, hari Jumat kemarin. Dia ditanya salah seorang hadirin dlm acara itu: "Kita punya masalah di negeri ini, yaitu orang-orang Islam... Dan salah satunya adalah Presiden kita (Obama)." Inilah pernyataan yang dalam wacana politik di AS termasuk kategori Islamophobia dan sekaligus rasis. Tetapi, alih-alih mengoreksi statemen dan pertanyaan itu, DT malah berdiam sehingga ia pun menuai kecaman dan protes keras dari mana-mana. (http://edition.cnn.com/2015/09/17/politics/donald-trump-obama-muslim-new-hampshire/)

Sikap DT memicu protes dari banyak pihak termasuk dari elite Partai Republik sendiri serta para kandidat presiden partai tsb karena hal itu merusak etika politik demokrasi dan prinsip anti-rasisme dan xenophobia. Kecaman paling keras tentu datang dari Gedung Putih dan kubu partai Demokrat, serta pihak-pihak yang selama ini mengritik DT yg dikenal sebagai salah satu pemuka dari kelompok yang meragukan Obama adalah kelahiran AS (birthers). DT dkk meragukan Presiden Obama lahir di AS, sehingga beliau tak sah secara UU utk jadi kepala negara. Kendati tudingan tsb sudah lama ditolak karena tak terbukti (fakta= Obama lahir di Hawaii, negara bagian ke 50, dan sertifikat kelahirannya bisa dibaca publik), tetapi ia dan kelompok birthers itu masih tetap ngotot. Tak heran jika sikap beridam diri DT dianggap sebagai persetujuan dengan pertanyaan pendukungnya yang jelas-2 menunjukkan kebencian dan rasisme itu.

Para pemimpin Indonesia seharusnya sensitif terhadap hal-hal seperti ini jika mereka berada di luar negeri dan bertugas mewakili negara. Mereka harus selalu ingat bhw bangsa Indonesia adlh bangsa yang majemuk dan toleran serta menghormati perbedaan, dan punya falsafah Pancasila yg menolak total paham-2 diskriminatif, xenophobia, dan rasisme. Mereka hendaknya tidak sembarangan memilih partner yang akan berdampak negatif bagi bangsa. Mereka harus memilah urusan negara dan pribadi, dan seharusnya memperhatikan bagaimana pandangan tokoh-2 yg akan diajak bekerjasama itu terhadap persoalan hubungan antar-ras, suku, agama, dll.

SN dan FZ jelas tidak memahami politik dalam negeri AS dan akibatnya merugikan serta mencoreng bangsa Indonesia di negeri orang, ketika mereka bertemu DT di ruang publik seperti itu. Kalau mereka paham, tentunya mereka tahu masih banyak pemimpin AS, baik dari partai Republik maupun Demokrat, ataupun dari luar keduanya, yg tidak bigot, Islamophobic, dan rasis seperti DT. Dan jika keduanya belum tahu, bisa dengan mudah meminta tolong KBRI di sana, yang saya yakin pasti punya informasi yang baik mengenai apa dan siapa tokoh terkemuka di Amerika.
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS