Saturday, December 12, 2015

MENGAPA POPULARITAS POLITIK DONALD TRUMP MENGUAT?

Mungkin kedengaran agak aneh apabila seorang demagog, rasis, dan Islamofobist seperti Donald Trump (DT) malah populer sebagai salah satu kandidat capres Partai Republik (PR) di Amerika. Bukankah AS adalah sebuah negara paling lama berdemokrasi dan dikenal sebagai negara adikuasa yang selalu mengklaim sebagai pendukung dan pelindung hak-hak asasi manusia di dunia. Bukankah AS sendiri dikenal sebagai "tanah orang-orang yang merdeka" (the land of the free). Bukankah Deklarasi Kemerdekaan AS sendiri menyatakan bahwa "seluruh manusia diciptakan sama derajatnya oleh Penciptanya, bahwa mereka memiliki Hak-hak asasi yang tak terpisahkan, yang di dalamnya termasuk hak untuk hidup, hak untuk bebas, dan hak mengupayakan kebahagiaan."? ("... that all men are created equal, that they are endowed by their Creator with certain unalienable Rights, that among these are Life, Liberty and the Pursuit of Happiness).

Tetapi mengapa di awal abad ke 21 ini malah muncul fenomena DT, seorang rasis, anti-migran, dan secara terbuka anti kaum Muslim (yang notabene merupakan bagian integral warganegara sah di AS), kemudian memakainya sebagai platform kampanye menuju Gedung Putih dan mendapat dukungan cukup signifikan di dalam masyarakat negeri itu? Apalagi DT telah dikecam keras di hampir seluruh negara di muka bumi, dan menjadi bulan-bulanan kecaman di antara tokoh-tokoh politik Partai Republik sendiri!

Penjelasannya tentu harus dicari pada kondisi internal masyarakat AS pasca-Perang Dingin yang mengalami berbagai krisis (ekonomi, politik, dan sosial-budaya) dan lingkungan strategis global yang menempatkan AS bukan lagi sebagai satu-2nya negara adikuasa yang mampu mengontrol dunia. Kendati AS masih merupakan kekuatan militer dan ekonomi utama, tetapi posisi tsb juga kian mendapat tantangan serius dari negara adidaya lain seperti Tiongkok dan Rusia, serta negara-negara baru yang mulai menjadi pemain dunia seperti India, Brazilia, Korsel, dll. Di dalam negeri, krisi ekonomi 2008, kendati sudah berangsur pulih tetapi tetap saja belum bisa membuat AS kembali pada masa jaya di bawah Presiden Bill Clinton. Ketimpangan kesejahteraan antara kaya dan miskin, pengangguran di kalangan rakyat lapis bawah, kriminalitas yang tinggi,dll penyakit sosial makin menggerus kekuatan bangsa ini.

Ini semua masih diperparah dengan polugri AS yang menampilkan diri sebagai polisi dunia di bawah Reagan dan kemudian dilanjutkan oleh Bush. Kendati Clinton dan Obama mencoba mengerem kebijakan polugri 'intervensionis' itu, namun dalam praktik AS masih saja merupakan negara yang paling besar bujet militernya dan menggunakannya utk memback-up polugri yang sangat kental dengan militerisme. Perang Irak I dan II, disusu dengan perang mewalan terorisme pasca tragedi !! September 2001, tidak berhasil memulihkan kewibawaan AS, tetapi justru ikut menciptakan kondisi carut marut di kawasan-kawasan Tim Teng, Afrika, Asia Tengah dan Selatan.

Dialektika krisis internal dan lingstra global seperti itu berimplikasi serius thd konstelasi politik dalam negeri AS: munculnya ideologi-2 nativis, fundamentalis, dan xenophobia yg berlawanan dengan prinsip-2 dasar negara tsb. Maka para demagog seperti DT menjadi sangat terbuka dalam kancah politik yang dilanda krisis tsb. DT bukan satu-2nya sosok rasis yang berpengaruh dalam perpolitikan AS. Orang-2 seperti Ben Carson, Ted Cruz, Santorum, Huckabee, dan banyak lagi dari kalangan konservatif, adalah penganut ideologi yang mirip dg DT. Hanya saja DT memiliki appeal yang lebih kuat karena kemampuan demagogi dan propaganda yang, konon, dipelajarinya dari buku Hitler, yg berjudul "Orde Baru Saya" (My New Order). DT adalah pengagum Hitler dan menggunakan cara berpropaganda pemimpin Nazi tsb secara efektif dalam konteks AS yang masyarakatnya sedang mengalami krisis di awal abad 21.

Jika Hitler berhasil menciptakan musuh bersama dalam bentuk bangsa Yahudi yang minoritas di Jerman dan Erpa pada era PD II, maka DT pun cukup berhasil menciptakan musuh bersama di AS, yaitu kelompok minoritas Muslim. Momentum Hitler adalah kekalahan Jerman pada PD I, sedang momentum DT adalah maraknya aksi terorisme yang menggunakan nama Islam dan mengancam negara-2 Barat, termasuk AS. Di Eropa, DT mempunyai mitra-2 seperti Le Pen, Geert Wilders, dll. Kedua orang yg disebut terakhir ini juga memakai isu anti migran dan anti islam sebagi platform propaganda politik yang efektif!

Jika rakyat AS yang mencintai bangsa dan negaranya tidak mendukung pemimpin-2 yang masih konsisten dg semangat konstitusi dan deklarasi kemerdekaan mereka, bukan tidak mungkin AS pasca-Pilpres 2016 akan dipimpin oleh seorang Presiden demagog dan rasis sperti DT. Dan bencana pun akan semakin besar bagi negara yang dianggap sebagai pemimpin dunia itu. Sebuah skenario armageddon yang mengerikan!
Simak tautan ini:

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS