Monday, May 16, 2016

MENGAPA SETYA NOVANTO MENJADI KANDIDAT KETUM TERKUAT?


Tanda tanda bahwa Munaslub Golkar Bali akan menghasilkan pimpinan baru di bawah mantan Ketua DPR RI, Setya Novanto (SN atau Setnov), kian menguat. Salah satunya adalah semakin gencarnya kubu anti SN yang melakukan manuver-2 kampanye negatif, termasuk mengritik Pemerintah Presiden Jokowi (PJ) melakukan intervensi melalui kiprah Menkopolhukam, Luhut B. Panjaitan (LP). Yang menjadi bukti mereka adalah intensitas LP dalam mengikuti Munaslub, sebagai pejabat maupun sebagai tokoh Golkar, dan dukungannya terhadap SN yang terbuka.

Anehnya, kubu anti SN pura-pura lupa bahwa hal sama juga dilakukan Wapres JK, kendati barangkali tak seintensif LP. Namun, pidato PJ dalam pembukaan Munaslub kemarin sudah sangat gamblang menunjukkan bahwa baik LP maupun JK memang melakukan berbagai pertemuan dengan para pinpinan daerah Golkar. Dan bagi PJ, hal itu dianggap wajar-wajar saja karena kedua pejabat tinggi tsb juga bagian dari elit partai berlambang beringin tsb. Dan menurut hemat saya, PJ juga yang mendapat keuntungan politik dengan manuver kesua tokoh tsb; siapapun yang menang, mereka dipastikan akan berada dalam gerbong PJ.

Kembali kepada posisi unggul SN, secara perhitungan pragmatis memang lebih memiliki kans untuk menang. Golkar adalah parpol yang pragmatis ditopang oleh kultur patrimonial yg enggan merubah status quo. Maka sosok seperti SN lebih 'menguntungkan' ketimbang misalnya Akom atau Priyo Budi Santoso yang keduanya memiliki basis massa organisasi, seperti Soksi ataupun MKGR. Kekuatan SN adalah jejaring oligarki pemilik modal dan dukungan politisi senior-2 seperti LP. Dengan demikian SN tidak terlalu menjadi ancaman bagi tokoh-2 Golkar Daerah, dan diapun akan bisa dikendalikan oleh tokoh-2 seperti ARB dan LP. Jika benar bahwa ARB nanti akan menduduki kursi Dewan Pembina, maka kontrol tsb akan semakin nyata. Walhasil, SN merupakan kandidat yang paling "menguntungkan" bagi elit Golkar di pusat dan daerah, dan juga bagi Pemerintah sendiri.

Kendati demikian jika SN tidak mengelola dengan baik posisi unggul ini, bisa saja kubu lawan-2nya akan menyatukan diri dan menjadi penghalangnya. Bisa saja kubu anti SN merangkul kekuatan kelompok Agung Laksono (AL), yang sudah kian rapuh dalam Munaslub ini, dan menggalang kekuatan 'koalisi'. Setidaknya mereka akan mengusahakan agar dlm kepengurusan baru DPP Golkar nanti, SN tidak bisa sapu bersih dan mesti mau berbagi. Politik adalah seni berkompromi, bukan? (http://politik.rmol.co/read/2016/05/14/246666/Resmi,-7-Caketum-Golkar-Bentuk-Koalisi-Lawan-Setya-Novanto-)

Simak tautan ini:

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS