Mungkin durasi khotbah tadi juga tak lama, sekitar 30-40 menit. Tapi
terasa kelewat panjang, melelahkan, dan sama sekali tak "menyejukkan"
saya. Pdhl mesjidnya ber AC dan jelas lebih bagus ketimbang yg di
kampung saya. Jadi boro2 bisa merenung, justru khotbah itu malah bikin
hati resah dan seperti sedang mendengar kampanye politik. Alih2 saya bs
khusyu' menyimak, malah sebaliknya yg terjadi: dlm hati berharap khotbah
segera berakhir dan sholat Jumat segera mulai!
Sehabis Jum'atan barulah saya merenung tetapi bukan soal keimanan atau etika. Saya merenung, berapa banyak Masjid2 yg tiap Jumat diisi khotbah politis yg sektarian spt ini, dan berapa yg non politis seperti di kampung saya? Bgmn dampak khotbah2 sektarian thd para jemaah yg sebagian tentu adlh para pemilih potensial dlm pilkada DKI th depan? Belun lagi jika ditambah dg gerakan anti Ahok yg digelar tiap hari di ruang publik di Jkt dan di luar ibukota tsb.
Renungan saya juga lebih jauh lagi yaitu bgmn demokrasi konstitusional akan bisa tumbuh dan berkembang dlm suasana yg sarat dg sektarianisme spt itu? Mungkinkah sebuah budaya kewarganegaraan (civic culture), yg merupakan landasan normatif sistem demokrasi, dapat tumbuh mengakar di bumi nusantara jika kondisi masyarakat spt ini?
Saya tak bs membayangkan bgmn kondisi Jum'atan di luar DKI, jika ibukota yg merupakan etalase dan standar kemajuan di negeri ini ternyata seperti ini? Sungguh sebuah renungan yg membikin trenyuh dan miris di Jum'at ini. Smg para sahabat tdk mengalaminya... Amin.
Sehabis Jum'atan barulah saya merenung tetapi bukan soal keimanan atau etika. Saya merenung, berapa banyak Masjid2 yg tiap Jumat diisi khotbah politis yg sektarian spt ini, dan berapa yg non politis seperti di kampung saya? Bgmn dampak khotbah2 sektarian thd para jemaah yg sebagian tentu adlh para pemilih potensial dlm pilkada DKI th depan? Belun lagi jika ditambah dg gerakan anti Ahok yg digelar tiap hari di ruang publik di Jkt dan di luar ibukota tsb.
Renungan saya juga lebih jauh lagi yaitu bgmn demokrasi konstitusional akan bisa tumbuh dan berkembang dlm suasana yg sarat dg sektarianisme spt itu? Mungkinkah sebuah budaya kewarganegaraan (civic culture), yg merupakan landasan normatif sistem demokrasi, dapat tumbuh mengakar di bumi nusantara jika kondisi masyarakat spt ini?
Saya tak bs membayangkan bgmn kondisi Jum'atan di luar DKI, jika ibukota yg merupakan etalase dan standar kemajuan di negeri ini ternyata seperti ini? Sungguh sebuah renungan yg membikin trenyuh dan miris di Jum'at ini. Smg para sahabat tdk mengalaminya... Amin.
0 comments:
Post a Comment