Sunday, June 26, 2016

BUKA BERSAMA: MERENUNGKAN KEBERAGAMAAN KITA

Dlm acara buka bersama dan silaturrahim yg diselenggarakan oleh Kiroyan Partner (KP) bbrp hari lalu, saya diminta memberikan tausiah Ramadhan. karena saya bukan ahli agama, apalgi penceramah agama, maka saya hanya mencoba mengingatkan para hadirin (baik yg Muslim maupun yang bukan Muslim), agar merenungkan keberagamaan masing-masing. Apakah keberagamaan kita membuat kehidupan kita, baik sebagai pribadi maupun kelompok (termasuk sebagai bagian dari anak bangsa), semakin berkualitas dan terutama produktif serta berbahagia.

Mengapa saya mengatakan demikian? Sebab kehidupan beragama di negeri ini sangat didominasi dengan penafsiran yg sarat dengan kekhawatiran, ketakutan, dan klaim kebenaran, serta hitung-2an pragmatis. Beragama di negeri ini menjadi sebuah fenomena yg penuh dengan kecemasan. Jika datang bulan puasa, maka wacana dan praksis yg marak diberitakan adalah berbagai fenomena kekerasan terkait pelaksanaan ibadah puasa di berbagai daerah. Kasus di Serang, terkait dg penutupan paksa sebuah kedai yg buka pada siang hari, bukan hanya saat ini terjadi tetapi seperti sudah menjadi kebiasaan setiap Ramadhan. Ibadah puasa yg sejatinya merupakan sebuah ekspressi ketakwaan dan kepatuhan thd Allah swt, lantas menjadi arena penggelaran kekuasaan dan pameran kesalehan secara fisik, bukan ruhani.

Demikian pula cara kita memaknai ibadah yang sarat dengan hitung-2an sehingga pahala (rewards) yg dijanjikan Tuhan lantas dihitung secara matematis. Bahkan ada Ustadz yg terkenal karena menggunakan wacana ttg sedekah seakan-akan pahalanya demikian pasti akan diterima oleh si pemberi (tentu melalui sang Ustdz) seperti hitungan matematis. Kecenderungan-2 pemahaman keagamaan seperti ini membuat keberagamaan menjadi sangat dangkal dan nyaris tidak ada dampak positifnya bagi kehidupan bersama. Ummat beragama berlomba-2 beribadah dg target keuntungan pribadi, bahkan kalau perlu menggunakan hasil korupsi.

Keberagamaan sesungguhnya bukan hanya bertujuan di akhirat, tetapi juga berimplikasi nyata di dunia. Dan tujuan yang disebut terakhir itu tak akan terwujud jika pemahaman keberagamaan masih bersifat pragmatis, matematis, ekonomis dan egosentris. Apalagi jika ditambah dengan pemahaman yg mengutamakan perbedaan, konflik dan kekerasan serta klaim paling benar.

Selamat Berbuka Puasa!


Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS