Sunday, July 17, 2016

TURKI: SETELAH KUDETA USAI


Apa buah dari kudeta militer yang gagal di Turki 16 Juli 2016? Hitung-2an sementara jumlah korban adalah: 265 korban tewas, 104 diantaranya para penyerang, 1,440 korban luka, dan 2,839 orang ditahan. Aksi kudeta yang konon dilancarkan oleh faksi-2 militer dalam AD dan AU Turki tsb bisa diatasi oleh Pemerintah Recep Tayyip Erdogan (RTE), kurang dari 24 jam. Dunia menyaksikan bahwa kudeta militer itu berujung dengan kegagalan karena perlawanan rakyat, yg muncul sejak aksi kudeta dilancarkan, terjadi di seluruh negeri secara massif dan spontan: di jalanan, gedung-gedung, dan ruang publik lain. Pihak elite militer sendiri akhirnya menolak aksi kudeta yang dilakukan oleh sebagian faksi di dalamny. Demikian juga partai politik oposisi terkuat, Partai Demokrasi rakyat (HDP), menentang kudeta tsb karena dianggap sebagai tindakan anti demokrasi.

Perkembangan pasca-kudeta menunjukkan bhw Pemerintah RTE menuding seorang ulama Sunni yang kini dalam pengasingan di AS, Fethulleh Gulen (FH), sebagai aktor intelektual di balik aksi tsb. FH dikenal luas di seluruh dunia sebagai pemimpin ormas dan gerakan sosial keagamaan yg populer disebut dg Gerakan Gulen (Gulen Movement, GM). (https://en.wikipedia.org/wiki/G%C3%BClen_movement) Kendati bukan organisasi politik, GM memang memiliki pengaruh kuat di kalangan kaum tradisionalis Muslim, militer, kelas menengah, dan kelompok nasionalis sekular di Turki. Sikap oposisi FH menyebabkannya dianggap sebagai lawan politik RTE dan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang ideologinya seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir itu. Pihak GM sendiri menolak tudingan RTE terlibat dalam aksi kudeta yg gagal tsb. (http://www.reuters.com/article/us-turkey-security-gulen-group-idUSKCN0ZV2YW).

Mengapa kudeta militer di negeri Aya Sophia tsb gagal? Hemat saya, ada beberapa faktor utama: 1) Faksi militer pelaku kudeta tidak kompak sehingga tidak memiliki kesiapan melakukan mobilisasi dukungan baik internal maupun dari rakyat, berbeda dengan kudeta militer pd 1980an; 2) Pendukung kudeta keliru menyimpulkan bhw Pemerintah RTE sudah mengalami krisis sehingga rakyat bisa dimobilisasi mendukung kudeta. Eskalasi serangan bom dari teroris Islamis jihadis seperti ISIS dan Al-Qaeda, serta gerakan separatis Kurdi, dianggap sebagai modal penting utk meraih simpati rakyat; 3) Kelompok militer pendukung kudeta meremehkan loyalitas rakyat thd sistem demokrasi di Turki yang semakin berakar selama lebih dari dua dekade, serta keberhasilan Pemerintah RTE dalam membangun perekonomian nasional Turki sejak berkuasa pada 2003; dan 4) Kelompok pelaku kudeta mengabaikan kondisi lingkungan strategis global, khususnya kepentingan AS dan EU yg sangat besar thd Turki yg stabil dlm rangka menghadapi masalah strategis dan keamanan di kawasan, khususnya perang melawan terorisme di Eropa dan Timteng.

Namun demikian, kudeta militer yang gagal tsb tdk bisa diabaikan dampaknya oleh Pemerintah RTE dan seharusnya menjadi pelajaran baginya dalam menjalankan sistem politik demokrasi, sehingga tidak mengarah pada otoriterisme sebagaimana ditengarai sedang terjadi di Turki. Jika Pemerintah RTE melakukan represi besar-2an dlm rangka pembersihan thd lawan-2 politiknya, ha tsb membuka terjadinya politik balas dendam dan anarki dalam masyarakat yang merusak stabilitas politik, ekonomi, dan keamanan negeri tsb. Godaan melakukan kudeta militer atau upaya-2 pengambil alihan kekuasaan yg tidak demokratis lainnya bisa muncul lagi, mengingat sejarah politik negeri ini yang masih belum lama meninggalkan praktik-2 seperti itu.

Sebuah 'wake up call' bagi Presiden Erdogan!

Simak tautan ini:

http://www.reuters.com/article/us-turkey-security-gulen-group-idUSKCN0ZV2YW
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS