Friday, November 25, 2016

PILKADA DKI 2017: FAKTOR SARA & MEROSOTNYA ELEKTABILITAS BADJA

Hasil survei dari Indikator Politik Indonesia (IPI) terhadap elektabilitas paslon-paslon Pilkada DKI menunjukkan bahwa paslon petahana, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat (Badja) cenderung mengalami penurunan drastis (26, 2%), sementara paslon Agus Yudhoyono-Sylviana Murni (AYSM) mengalamia kenaikan dan bahkan menyalip (30, 4%), sedangkan paslon Anie Baswedan-Sandiaga Uno (ABSU) berada di urutan terakhir (24, 5%).

Menurut Direktur IPI, Burhanuddin Muhtadi (BM), paslon Badja selama 5 bulan terakhir (Juli-November) mengalami penurunan drastis sampai 18,6%, Hal ini disebabkan oleh efek isu SARA yang menghantam sang petahana terutama dikaitkan dengan kasus penistaan agama yang diduga telah dilakukan oleh Ahok. Merosotnya tingkat elektabilitas Ahok tsb, masih menurut BM, adalah disebabkan terutama oleh "menurunnya tingkat kesukaan masyarakat terhadap Gubernur DKI nonaktif itu."

Kendati hasil survei IPI ini tidak seburuk hasil survei yang dilakukan oleh LSI sebelumnya, di mana paslon Badja hanya meraih 10, 6%, tetapi keduanya merupakan sebuah pertanda yang alarming bagi sang petahana. Kedua survei tsb sepakat bahwa kasus dugaan penistaan agama yang kini sedang dihadapi Ahok berdampak sangat negatif. begitu besar dampak kasus tsb, sehingga kendati Ahok diakui kinerjanya telah baik dan kepuasdan publik tinggi, namun mereka tidak akan memilihnya dalam Pilkada 2017!

Jika hasil survei ini konsisten maka efek SARA yang dihasilkan oleh kasus penistaan agama adalah faktor paling dominan dan menentukan dalam Pilkada DKI. Hal ini jelas merupakan setback yang sangat serius bagi demokrasi di DKI yg merupakan etalase dan rujukan bagi seluruh wilayah Indonesia. Hal itu berarti bahwa masalah SARA yg pada Pilkada 2012 tidak efektif digunakan untuk mengalahkan pasangan Jokowi-Ahok, kini berubah. Terlepas dari apakah Gubernur non-aktif Ahok melakukan kesalahan dalam kasus ini, namun sulit mengingkari bahwa pengaruh aksi demo 411 dan juga ekspose media tentangnya merupakan sebuah kampanye negatif bagi Badja.

Sebaliknya, efek SARA ini akan menguntungkan bagi paslo-paslon lawan, khususnya AHY-SM yang berhasil menangguk dukungan sangat tinggi karena "luberan" dari paslon Badja. pasangan yang semula tidak terlalu dipedulikan oleh para pengamat tsb, ternyata malah melampaui paslon AB-SU yang dianggap jauh lebih punya pengalaman dan nama besar. Bisa ditafsirkan sementara bahwa para pendukung Badja yang "lari" itu merasa lebih sreg jika mendukung paslon yang memiliki track record sebagai orang yang pernah berkiprah di Pemerintahan DKI, dan juga merupakan orang Betawi. Demikian pula imaji sebagai pemuda dg latarbelakang militer yg cemerlang, tampaknya mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pemilih yang tak lagi menyukai Ahok.

Paslon Badja dan pendukungnya jelas tak bisa mengabaikan hasil-2 kedua survei tsb. Apalagi saat ini proses hukum telah menjadikan Ahok sebagai tersangka dan sebentar lagi proses peradilan dimulai. Tak ada jalan lain bagi Paslon ini kecuali menggenjot kampanye-2 inovatif dan efektif agar citra negatif yang diakibatkan oleh kasus dugaan penistaan agama itu bisa dibatasi (contained) dan sekaligus mengembalika citra positif yang pernah diraihnya. Sayangnya, waktu tampaknya tidak memihak pasangan Badja. Sebab dua bulan sangat sempit, apalagi jika demo massa masih terus terjadi, maka kans untuk mengembalikan elektabilitas paslon Badja kian sempit.

Simak tautan ini:

Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS