Saturday, February 11, 2017

SIAPA UNGGUL DALAM DEBAT KE III PILKADA DKI?

Seperti sebelumnya, saya melakukan jajak pendapat di TL Facebook untuk mengetahu siapa yang dianggap menjadi pemenang dalam debat Publik paslon Pilkada DKI ronde ke 3, atau yang terakhir, yg berlangsung pada Jumat 10 Februari 2017. Jajak pendapat ini terbuka utk umum dan diikuti oleh mereka yang dalam kategori teman (friends), pengikut (followers), dan yang di luar kedua kategori tsb. Pertanyaan yang diajukan adalah: "Menurut pendapat anda yg menyaksikan debat malam ini, siapa yang unggul?"

Hasil jajak pendapat yang dibuka selama sekitar 20 jam, Jumat tgl 10/2/17 jam 22.30 sampai Sabtu tgl 11/2/17 jam 13.30, dan diikuti 1175 (seribu seratus tujuhpuluh lima) peserta tsb adalah sbb:

Paslon no. 2, Basuki Tjahaja Purnama-Djaror Syaiful Hidayat (Badja), menduduki peringkat pertama yg dipilih oleh 1086 (92,4%) peserta, disusul oleh Paslon no. 3, Anies-Sandi, yang dipilih oleh 56 (4,77%) peserta, dan Paslon no 1, yang dipilih oleh 16 (1,36%) peserta. Yang memilih tidak tahu ada 17 (1, 45%) peserta. Hasil ini tak terlalu berbeda dengan hasil penilaian para sahabat thd debat ronde ke 2 sebelumnya, yakni Paslon 2 (92,6%; Paslon 3 (4, 66%), dan Paslon 1 (2,53%), walaupun jumlah peserta jajak pendapat saat itu berbeda (n=750)

Seperti sebelumnya, jajak pendapat ini TIDAK ada kaitannya dengan tingkat elektabilitas para paslon Pilkada DKI. Para peserta jajak pendapat ini tidak semuanya adalah pemilih dalam Pilkada DKI, tetapi publik yang menjadi komunitas forum dalam FB saya. Namun konsistensi hasil jajak pendapat ke 2 dan ke 3 ttg debat Pilkada DKI ini, hemat saya, merupakan salah satu indikator bagaimana penilaian publik terhadap penampilan mereka dalam debat ronde ke 3 atau yang terakhir tsb.

Secara pribadi, saya menilai Debat ronde ke 3 ini kualitasnya lebih rendah ketimbang dua debat sebelumnya, atau setidaknya merupakan sebuah anti-klimaks. Saya semula berharap debat terakhir ini menjadi "moment of truth" bagi ketiga Paslon, yang akan ikut menentukan pilihan rakyat di hari H tgl 15 Februari yad. Namun setelah mengikutidan menyimak 6 sessi debat debat, saya tidak lagi menganggap debat terakhir ini memiliki kualitas seperti itu. Moderator juga gagal membuat suasana terkendali dan tidak membosankan. Ditambah terjadinya kesalahan teknis pada mike sehingga ada bagian dari salah satu sessi yg mesti diulang.

Paslon 1 tampil paling buruk karena tidak memberikan argumentasi yang substantif, tetapi lebih kepada kritik dan serangan yg bernuansa personal kepad lawan khusunya paslon no 2. AHY tetap tampil lebih bagus ketimbang Sylvi dalam berkomunikasi dan memberikan penjelasan program dari kubunya. Namun secara keseluruhan paslon 1 nyaris hanya mengulang slogan dan daftar keinginan yg sudah dikemukakan sebelum ini.

Paslon 2 masih paling menguasai substansi masalah dan menggunakan data-data pendukung yang relevan serta meyakinkan utk mendukung argumentasi mereka. Ahok tampil santai seperti debat ke dua dan pertama, serta to the point dalam menjawab kritik-2 yang diarahkan lawan. Bahkan seperti debat ke 2, Ahok melontarkan serangan balik thd kritik Sylvi dan Anies yang cukup keras serta personal. Substansi yg dikemukakan paslon 2 juga tetap berkisar pada capaian2 sebagai petahana, sedangkan pendekatan institusional dan sistem masih dijadikan rujukan utama.

Paslon 3 tetap idealistik dan menggunakan strategi komunikasi yang menitik beratkan kepada pencitraan diri yang berbeda dengan paslon no 1 dalam hal sikap manusiawi dan pemimpin yang dekat dengan rakyat. namun dalam hal program, secara substantif tak berbeda dengan debat sebelumnya: mengunggulkan pembangunan SDM, penghapusan kemiskinan, dan memperluas kesempatan kerja. Paslon 3 tak lagi menggunakan taktik menyerang personal sepert paslon 1, dan ini merupakan sebuah nilai plus.

Silakan para sahabat memberikan komentar thd hasil jajak pendapat ini. Terimakasih atas partisipasinya dan maaf jika ada kekeliruan dan kekurangan. Trims (MASH)
Share:

0 comments:

Post a Comment

THF ARCHIVE

Follow by Email

FP GUSDURIANS